Connect with us
Kolom

Apa yang Sedang Terjadi dengan Rupiah?

Penulis:
Luhut B. Pandjaitan
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman
Rupiah
Tak perlu panik(Ilustrasi)

Saya banyak membaca perdebatan-perdebatan di Grup Whatsupp (WA) mengenai keadaan ekonomi, terutama terkait dengan pelemahan Rupiah. Terhadap concern teman-teman, di sini saya ingin memberikan gambaran lebih lengkap mengenai apa yang sedang terjadi dengan Rupiah. Serta langkah-langkah yang sedang dan akan diambil oleh pemerintah.

Saya sangat paham mengenai kondisi tersebut. Karena kebetulan saya termasuk di dalam tim ekonomi Indonesia, yang diantaranya beranggotakan Menko Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Gubernur BI, dan Ketua OJK. Topik soal rupiah ini sendiri sudah kami bicarakan secara intens sejak 3 minggu yang lalu.

Baca juga: 

Secara global, recovery pertumbuhan ekonomi dunia yang berjalan baik dalam satu tahun terakhir saat ini sedang terancam oleh trade war yang dipicu oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap mitra dagang utama mereka. Seperti Tiongkok, Uni Eropa, Meksiko dan Kanada, dengan cara menaikkan tarif impor barang barang dari negara-negara tersebut.

Negara-negara itu pun mengancam akan membalas balik tindakan Trump. Hal inilah yang menyebabkan kekhawatiran, bahwa pertumbuhan ekonomi dunia yang mulai membaik akan melambat atau bahkan resesi.

Tiongkok, yang menjadi target utama trade war dari Trump, telah mendepresiasikan mata uangnya secara signifikan untuk menjaga harga barangnya tetap kompetitif di pasar Amerika Serikat. Dampak depresiasi Yuan terhadap Dolar Amerika, juga memicu depresiasi mata uang negara negara berkembang lainnya. Hal ini pula yg menjadi salah satu faktor utama depresiasi Rupiah sejak Maret tahun ini.

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Keutamaan Gotong-Royong

Oleh

Fakta News
Gotong Royong
Gotong Royong(Foto: Ilustrasi)

MORAL ketuhanan (sanctity), kemanusiaan (care and liberty), persatuan kebangsaan (loyalty), kerakyatan (authority), dan keadilan sosial (fairness) itu secara horisontal bisa diikat oleh satu nilai “suci” juga, bernama nilai “gotong-royong”. Dengan kata lain, secara vertikal, nilai suci kita bernama “Ketuhanan”, sedang secara horisontal bernama “gotong-royong”.

Bahwa proses peleburan aneka kelompok dengan konflik kepentingan ke dalam kuali kebangsaan kewargaan ini dimungkinkan oleh semangat gotong-royong. Semangat gotong-royong itu adalah semangat kooperatif, kolaboratif: “satu untuk semua, semua untuk satu”; senasib-sepenanggungan, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing; bukan yang satu untung, yang lain buntung.

Dengan demikian, semangat gotong-royong menempatkan sila-sila Pancasila sebagai “kaidah emas” (golden rule) dalam kehidupan bangsa yang majemuk. Inti dari kaidah emas adalah menghindari berbuat sesuatu kepada orang lain yang diri sendiri tak suka diperlakukan seperti itu serta mencintai sesama seperti mencitai diri sendiri.

Dalam kearifan Sunda, semangat gotong-royong itu tersimpul dalam petitih, “silih asih, silih asah, silih asuh”. Dalam ajaran Islam tersimpul dalam semangat “rahmatan lilalamin” (kasih sayang bagi seru sekalian alam).

Jalan Tengah Bhinneka Tunggal Ika

Kegotong-royongan Pancasila menghendaki sosiabilitas kebangsaan yang dapat mengatasi kecenderungan individualistik (individualisme) dan ultrasosiosentrik (totalitarianisme). Di dalam masyarakat yang supermajemuk, terlalu menekankan individualisme dan perbedaan menyulitkan integrasi nasional. Tetapi, mematikan aspirasi kedirian dan perbedaan oleh aspirasi totalitarianisme (kanan dan kiri) bisa membunuh kekayaan potensi dan kreativitas.

Baca Selengkapnya

BERITA

Pancasila sebagai Moral Publik

Oleh

Fakta News
Moral Publik

BAGI Indonesia, inti moral publik sebagai ikatan persatuan itu terkandung dalam Pancasila. Kelima sila Pancasila tersebut bisa dijelaskan dalam kerangka 6 nilai inti moral publik.

Ketuhanan: Sanctity

Sila Ketuhanan mencerminkan nilai “sanctity” (kesucian). Bahwa setiap komunitas moral harus ada nilai yang “disucikan” bersama sebagai jangkar pengikat kohesi sosial. Pengertian “suci” di sini tidak harus dalam konotasi kegamaan, melainkan dalam arti nilai yang paling dipandang penting (dimuliakan). Pada warisan Sumpah Pemuda, nilai yang “disucikan” itu adalah spirit “gotong-royong”. Pada Pancasila, spirit gotong-royong itu tetap “disucikan”, namun ditarik secara vertikal ke hulu sumbernya dari pancaran sinar Ketuhanan. Bahwa segala keragaman yang saling bergantung (yang memerlukan gotong-royong) pada segala fenomena kehidupan ini merupakan pancaran (iluminasi) dari “Yang Tak Terhingga” (Tuhan), yang tidak bergantung.

Tentang Ketuhanan sebagai nilai yang “disucikan” bisa dijelaskan urgensinya sebagai basis sosiabilitas dengan meminjam pandangan Emile Durkheim. Menurutnya, Homo sapiens itu pada dasarnya adalah Homo duplex, makhluk yang eksis pada dua level; sebagai individu dan sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas.

Dalam relasi sosial, ada dua sentimen yang bisa dibedakan. Pertama, “sentimen sosial” yang mengikat hubungan seseorang dengan orang lain sebagai sesama warga (anggota kelompok). Hal ini termanifestasi di dalam komunitas, dalam hubungan hidup (antar-individu) sehari-hari. Level relasi ini masuk pada ranah profan. Kedua, “sentimen sosial” yang mengikat sesorang dengan entitas sosial secara keseluruhan. Hal ini termanifestasi terutama dalam hubungan antara kelompok (komunitas) dengan kelompok (komunitas) lain, yang bisa disebut sebagai relasi “antar-sosial”.

Baca Selengkapnya

BERITA

Pancasila sebagai Titik Temu

Oleh

Fakta News
Pancasila

MERUNUT lahirnya Pancasila. Pada 1 Juni 1945, dalam mengawali urainnya tentang dasar negara, Soekarno menyerukan “bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan faham”.

Lantas ia katakan, “Kita bersama-sama mencari persatuan Philosophische gronMerunut lahirnya Pancasiladslag, mencari satu ‘Weltanschauung’ yang kita semuanya setuju. Saya katakan lagi setuju! Yang saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hadjar setujui, yang saudara Sanoesi setujui, yang saudara Abikoesno setujui, yang saudara Lim Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus.”

Kemudian, ia mengajukan lima prinsip yang menjadi titik “persetujuan” (titik temu, titik tumpu, titik tuju) segenap elemen bangsa. Kelima prinsip tersebut bernama Pancasila.

Demikianlah, dasar ontologis (struktur makna terdalam) dari keberadaan Pancasila adalah kehendak mencari “persetujuan” dalam menghadirkan kemaslahatan-kebahagiaan bersama (al-maslahah al-ammah, bonnum comune) dalam kehidupan kebangsaan Indonesia yang mejemuk.

Maka dari itu, setiap kali bangsa Indonesia kembali ke 1 Juni, setiap kali itu pula diingatkan untuk kembali menghayati struktur makna terdalam dari keberadaan Pancasila. Kembali mempertanyakan titik temu, titik tumpu, dan titik tuju kita bersama, di tengah kemungkinan keterpecahan, kerapuhan landasan, dan disorientasi yang melanda kehidupan kebangsaan.

Kedatangan Hari Lahir Pancasila setelah rangkaian panjang proses Pemilihan Umum yang melelahkan dan memecah-belah, mengajak kita melakukan introspeksi diri. Bagaimana menyikapi demokrasi secara lebih dewasa dan sehat. Tidak berhenti sekadar ritual perebutan kekuasaan lima tahunan dengan obsesi kemenangan sebatas mempecundangi lawan dalam kontestasi pemilihan umum. Yang dikehendaki, adalah praktik demokrasi yang bisa memenangkan dan membahagiakan seluruh bangsa Indonesia.

Baca Selengkapnya