Maya Skolastika Boleng Inspirator Para Petani Organik Muda

  • Fakta.News - 7 Okt 2018 | 22:15 WIB
Inspirator Para Petani Organik Muda
Maya Skolastika Boleng

Dua tahun lalu, Maya Skolastika Boleng mendapat penghargaan Duta Petani Muda Pilihan Oxfam Indonesia. Jebolan Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya ini diapresiasi lantaran mengabdikan diri untuk petani.

Ya, Maya tak pernah merasa menyesal memilih jalur petani. Bahkan ia getol mengedukasi anak muda lainnya untuk mengikuti jejaknya jadi petani.

Salah satu contohnya pada Februari lalu. Maya berbagi pengalaman pada 200 anak muda di Kota Kupang. Ia bercerita bagaimana dirinya terlibat dalam pertanian organik di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur pada 2008.

Dalam ceritanya, petani sebenarnya sudah jadi mimpinya sejak kecil. Namun karena orangtuanya tak setuju, ia mengambil Sastra Inggris.

Entah apa memang sudah takdir, di semester V, ia dapat pelajaran tentang pertanian organik. Dari situ, ketertarikan saya untuk bertani kian besar,” katanya.

Baca Juga:

Semester berikutnya, Maya mulai merealisasikan keinginannya terjun ke dunia pertanian organik. Sambil kuliah, ia bekerja sebagai petani di lahan kering.

Sebagai awal usahanya, ia menyewa lahan warga seluas 3.000 meter persegi di Pacet, Mojokerto. Maya pun menetap di Desa Trawes.

Di awal, ada 10 anak muda yang ingin bergabung dengan pertanian organik Maya. Ada yang SD, SMA, bahkan ada juga yang seorang sarjana. Maya merasa beruntung lantaran kesepuluh anak muda ini punya semangat yang sama mengembangkan pertanian organik.

Namun semua tak semudah yang dibayangkan. Sebab Maya sebenarnya tak tahu sama sekali cara bertani dan tak paham bisnis pertanian. Ia pun intens mempelajarinya dari internet.

Hingga akhirnya upaya belajarnya tak sia-sia. Tepatnya pada 2009, Maya dan kelompok tani mudanya sudah mampu memproduksi sayur mayur, buah, dan bumbu organik berkualitas baik. Bahkan bisa tembuh ke tujuh supermarket di Surabaya.

Sayangnya, di saat permintaan terus meningkat, mereka malah terbentur dengan keterbatasan dana. Maya salah dalam menerapkan strategi bisnis usahanya.

Sempat merasa kecewa, Maya banting setir dan pergi ke Denpasar. Ia bekerja di salah satu perusahaan biro perjalanan dan wisata. Tapi ternyata ia cuma bisa bertahan enam bulan karena tak betah.

Dengan tekad yang sudah tidur cukup lama, Maya kembali pertanian organik. Tak tanggung-tanggung, bekal kesalahannya dulu ia merintis usahanya di lahan seluas 3.000 meter persegi.

Maya, yang kembali didampingi petani mudanya, kali ini lebih fokus pada pertanian ini. Bahkan menjadikannya pekerjaan tetap, tidak seperti sebelumnya.

Setahun, pertanian organik itu berkibar lagi. Tahun 2013, jika tadinya cuma merambah supermarket, mereka mulai memasok sayuran mayur, buah-buahan, dan bumbu dapur organik ke hotel-hotel.

  • Halaman :
  • 1
  • 2
  • 3

BACA JUGA:

Tulis Komentar