Alfi Irfan Sejahtera Bersama Petani Melalui Social Entrepreneur

  • Fakta.News - 29 Mei 2018 | 13:16 WIB
Sejahtera Bersama Petani Melalui Social Entrepreneur
Alfi Irfan (kiri), Pemuda yang jeli melihat peluang sukses bersama petaniFoto: Singapore Internasional Foundation

Kisah Alfi Irfan lagi-lagi jadi bukti bahwa pemuda Indonesia masih ada yang mau melirik bidang pertanian. Kesuksesannya pun turut menunjukkan bahwa pertanian merupakan bidang yang bakal menguntungkan.

Perjalanan suksesnya berangkat dari hasil riset tentang kondisi pertanian di Indonesia. Alfi lantas memantapkan keinginannya untuk menjadi seorang social entrepreneur.

Di saat banyak anak muda yang tidak melirik bidang pertanian, ia justru memperlihatkan bahwa pertanian tidak sekadar mencangkul dan membajak sawah.

Risetnya dimulai tahun 2014, yang ia peruntukkan mendirikan Agrisocio. Ketika itu, ia melakukan wawancara sederhana dengan para petani wanita di desa sekitar Bogor.

Selain itu, Alfi juga menemui mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi. Ia mencari informasi mengenai adopsi di bidang teknologi pertanian.

Hasilnya, ia menemukan bahwa permasalahan pertanian di Indonesia mayoritas berkaitan dengan bidang ekonomi dan sosial. Bahkan 82 persen petani kekurangan modal untuk mengelola lahan dan kegiatan paska panen.

Sebagai alternatif, mereka jadi harus meminjam modal ke bank keliling. Pilihan lainnya, menjual hasil panen dengan harga murah ke tengkulak.

Baca Juga:

Ia melihat bahwa dalam hal ini bukan soal membicarakan pemerataan kesejahteraan, tetapi pemusatan kesejahteraan.

“Sisi lain kami ada lihat peluang besar. Kebetulan saya kuliah di IPB, sehingga mendapat banyak informasi pertanian. Saya temukan ada gap antara peluang dengan realita yang dialami petani,” akunya.

“Kenapa Agrisocio berdiri? Kami mencoba untuk memperkecil gap tersebut menjadi hal yang memberi banyak peluang dan nilai tambah. Ya semacam efek bola salju,” sambung pria lulusan Ekonomi Sumberdaya Lingkungan IPB itu.

Kemudian setelah menemukan bahwa sebanyak 92 persen ibu-ibu di Desa Ciampea tidak memiliki pekerjaan, Alfi memutuskan merekrut mereka. Para ibu itu diajak untuk memproduksi hasil pertanian menjadi olahan yang memiliki nilai tambah.

BACA JUGA:

Tulis Komentar