Connect with us
Media Sosial

Whatsapp Bakal Siapkan Fitur Sidik Jari Agar Lebih Aman

sidik jari
Ilustrasi.(Foto: Istimewa)

Jakarta – Tak cukup menerapkan otentikasi ganda, WhatsApp dikabarkan sedang menggarap sistem keamanan baru yang lebih canggih. Kabarnya, salah satu fitur baru WhatsApp ini adalah mekanisme otentikasi baru menggunakan sidik jari untuk aplikasi di Android.

Melansir dari Detik, fitur WhatsApp ini pertama kali ditemukan setelah WhatsApp merilis update WhatsApp for Android 2.19.3 untuk Beta Program di Google Play. Metode otentikasi terbaru ini akan memanfaatkan aplikasi pengunci perangkat pihak ketiga yang cukup populer bernama redundant.

Para pengguna nantinya akan menemukan sesi baru dalam aplikasinya yang merupakan opsi khusus untuk mengaktifkan maupun mematikan fitur fingerprint tersebut.

Dengan diaktifkannya fitur ini, para pengguna nanti akan diminta data sidik jari setiap kali membuka aplikasi WhatsApp. Tidak hanya di perangkat Android saja, kabarnya fitur ini juga bakal hadir di perangkat iOS.

Dari informasi yang disampaikan oleh pembocor ternama, yakni WABetaInfo untuk saat ini fitur tersebut masih dalam tahap pengembangan lebih lanjut.

Sekadar informasi, layanan pesan instant paling populer di Dunia ini juga sempat mengembangkan fitur serupa, yakni otentikasi Face ID dan Touch ID untuk aplikasi WhatsApp yang ada di perangkat iOS. Akan tetapi sayang untuk fitur tersebut tidak bisa berfungsi dengan baik.

Baca juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Mengenal Lebih Dalam Mengenai Teknologi 5G

Oleh

Fakta News

Jakarta – Kehadiran teknologi 5G sebagai penerus 4G LTE sudah semakin dekat, sejumlah negara sudah mulai menerapkan teknologi ini. Namun masih banyak pertanyaan mengenai teknologi terbaru ini.

Wajar saja memang, 5G disebut bakal mempunyai dampak besar terhadap kehidupan orang di dunia. Banyak teknologi baru yang diklaim bisa dimungkinkan dengan kehadiran 5G, seperti mobil otonom, drone, internet of things (IoT), dan masih banyak lagi.

Berikut adalah sejumlah mitos mengenai teknologi 5G.

Radiasinya Tinggi?
Salah satu hal yang paling ditakutkan dari 5G adalah radiasi dari sinyal radio yang dipancarkan, di mana radiasi tersebut bisa menyebabkan kanker. Laporan dari World Health Organization pada 2011 menyebut radiasi ponsel seharusnya didaftarkan sebagai salah satu sumber karsinogen ke manusia.

Lalu pada 2016, sebuah penelitian yang didanai pemerintah AS menyebut adanya hubungan antara radiasi dari frekuensi radio terhadap kanker di tikus. Selain itu, ada sejumlah ponsel populer seperti iPhone dan Samsung Galaxy yang diduga melewati batas radiasi yang ditetapkan oleh FCC.

Namun, tudingan radiasi ponsel menyebabkan kanker mungkin berlebihan. Karena banyak hal lain di sekitar kita yang juga mempunyai bahaya karsinogen. Pada 8 Agustus lalu, Chairman FCC Ajit Pai menyebut ponsel yang ada saat ini — termasuk 5G — aman untuk digunakan.

Baca Selengkapnya

BERITA

Startup Indonesia Bahaso Terpilih Tampil di ITU Telecom World 2019

Oleh

Fakta News

Jakarta – Bahaso, startup Indonesia penyedia aplikasi dan website pembelajaran bahasa asing, terpilih mewakili Indonesia mengikuti ITU Telecom World 2019 yang berlangsung di Budapest, Hungaria, 9-12 September 2019.

ITU Telecom World 2019 merupakan kegiatan tahunan International Telecommunication Union (ITU), badan khusus PBB untuk teknologi informasi dan komunikasi (TIK), yang fungsinya mendorong inovasi dalam TIK bersama dengan 193 negara anggota dan lebih dari 700 entitas sektor swasta. Kehadiran Bahaso yang membawa inovasi terbarunya itu diklaim mencuri perhatian di panggung internasional.

“Kehadiran Bahaso di forum ini sejalan dengan visi dan misi Bahaso untuk meningkatkan kontribusi dalam literasi digital dalam dunia pendidikan bagi masyarakat Indonesia di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Dan pada akhirnya meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat Indonesia,” ujar Allana Abdullah, CEO Bahaso.

Baca Selengkapnya

BERITA

Perangi Deepfake, Facebook Gelontorkan Dana Rp14 Miliar

Oleh

Fakta News

Jakarta – Facebook bekerja sama dengan konsorsium Partnership on AI dan Microsoft serta para akademisi untuk memerangi deepfake. Mereka pun sudah menyiapkan dana USD 10 juta atau sekitar Rp 14 miliar untuk keperluan tersebut.

Kerja sama ini ditujuan untuk membuat kumpulan data deepfake, benchmare dan mengajak publik untuk mencari solusi dalam memerangi penyebaran video deepfake di dunia maya. Dana sebesar USD 10 juta tersebut bakal digelontorkan untuk mendanai penelitian tersebut, yang bertujuan untuk mempermudah mencari konten yang dibuat menggunakan deepfake.

Deepfake Detection Challenge — nama program tersebut — didukung oleh akademisi dari sejumlah universitas, seperti Cornell Tech, MIT, University of Oxford, UC Berkeley, University at Albany-SUNY, dan University of Maryland.

Dalam program ini juga bakal mempunyai papan skor untuk memperlihatkan sistem pendeteksi deepfake yang paling canggih. Sementara dataset deepfake yang sudah dikumpulkan bakal dirilis dalam konferensi NeurIPS yang diadakan di Vancouver, Kanada, Desember mendatang.

“Ini adalah masalah yang terus berevolusi secara konstan, sama seperti spam dan bermacam masalah lain, dan kami berharap dengan membantu industri dan komunitas AI, prosesnya bisa dipercepat,” ujar CTO Facebook Mike Schroepfer dalam postingan blognya.

“Hal yang sangat penting adalah mempunyai data yang bisa diakses secara gratis untuk digunakan para komunitas, yaitu data yang berasal dari partisipan yang sudah memberi izin, dan bisa digunakan tanpa halangan,” tambahnya.

Baca Juga:

Munir

Baca Selengkapnya