Connect with us

Prediksi Empat Potensi Serangan Siber pada 2019

serangan siber
Ilustrasi.(Foto: Istimewa)

Jakarta – Perusahaan solusi keamanan siber Avast, telah merilis ‘2019 Threat Report’ yang berisi tren serangan siber terbaru dan yang akan berkembang pada tahun ini.

Laporan ini disusun oleh para peneliti dari Avast berdasarkan perubahan-perubahan serangan siber selama 12 bulan terakhir.

“Tahun ini, kita merayakan peringatan 30 tahun World Wide Web. Setelah 30 tahun yang singkat dan lanskap ancaman secara eksponensial menjadi sangat kompleks. Dan permukaan serangan yang tersedia tumbuh lebih cepat daripada yang ada di titik lain dalam sejarah teknologi,” kata Ondrej Vlcek, CTO & EVP, Avast dalam siaran pers, Jumat (4/1).

Tim Avast Threat Labs menemukan hampir sekitar satu juta file baru setiap hari dan mencegah dua miliar serangan setiap bulannya. Kegiatan ini memberikan wawasan penting berkenaan dengan ancaman yang paling umum, serta kemampuan memetakan tren untuk memprediksi serangan yang akan terjadi di masa mendatang.

“Virus PC masih merupakan ancaman global yang kini bergabung ke lebih banyak kategori malware dengan lebih banyak serangan. Orang-orang mendapati lebih banyak dan beragam jenis perangkat yang terhubung, artinya hampir di setiap aspek kehidupan kita dapat dihantui oleh serangan,” tutur Vlcek.

Berikut tren keamanan siber menurut Avast 2019 Threat Report yang berfokus pada perilaku-perilaku dan serangan-serangan penjahat siber utama.

Baca juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Mengenal Lebih Dalam Mengenai Teknologi 5G

Oleh

Fakta News

Jakarta – Kehadiran teknologi 5G sebagai penerus 4G LTE sudah semakin dekat, sejumlah negara sudah mulai menerapkan teknologi ini. Namun masih banyak pertanyaan mengenai teknologi terbaru ini.

Wajar saja memang, 5G disebut bakal mempunyai dampak besar terhadap kehidupan orang di dunia. Banyak teknologi baru yang diklaim bisa dimungkinkan dengan kehadiran 5G, seperti mobil otonom, drone, internet of things (IoT), dan masih banyak lagi.

Berikut adalah sejumlah mitos mengenai teknologi 5G.

Radiasinya Tinggi?
Salah satu hal yang paling ditakutkan dari 5G adalah radiasi dari sinyal radio yang dipancarkan, di mana radiasi tersebut bisa menyebabkan kanker. Laporan dari World Health Organization pada 2011 menyebut radiasi ponsel seharusnya didaftarkan sebagai salah satu sumber karsinogen ke manusia.

Lalu pada 2016, sebuah penelitian yang didanai pemerintah AS menyebut adanya hubungan antara radiasi dari frekuensi radio terhadap kanker di tikus. Selain itu, ada sejumlah ponsel populer seperti iPhone dan Samsung Galaxy yang diduga melewati batas radiasi yang ditetapkan oleh FCC.

Namun, tudingan radiasi ponsel menyebabkan kanker mungkin berlebihan. Karena banyak hal lain di sekitar kita yang juga mempunyai bahaya karsinogen. Pada 8 Agustus lalu, Chairman FCC Ajit Pai menyebut ponsel yang ada saat ini — termasuk 5G — aman untuk digunakan.

Baca Selengkapnya

BERITA

Startup Indonesia Bahaso Terpilih Tampil di ITU Telecom World 2019

Oleh

Fakta News

Jakarta – Bahaso, startup Indonesia penyedia aplikasi dan website pembelajaran bahasa asing, terpilih mewakili Indonesia mengikuti ITU Telecom World 2019 yang berlangsung di Budapest, Hungaria, 9-12 September 2019.

ITU Telecom World 2019 merupakan kegiatan tahunan International Telecommunication Union (ITU), badan khusus PBB untuk teknologi informasi dan komunikasi (TIK), yang fungsinya mendorong inovasi dalam TIK bersama dengan 193 negara anggota dan lebih dari 700 entitas sektor swasta. Kehadiran Bahaso yang membawa inovasi terbarunya itu diklaim mencuri perhatian di panggung internasional.

“Kehadiran Bahaso di forum ini sejalan dengan visi dan misi Bahaso untuk meningkatkan kontribusi dalam literasi digital dalam dunia pendidikan bagi masyarakat Indonesia di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Dan pada akhirnya meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat Indonesia,” ujar Allana Abdullah, CEO Bahaso.

Baca Selengkapnya

BERITA

Perangi Deepfake, Facebook Gelontorkan Dana Rp14 Miliar

Oleh

Fakta News

Jakarta – Facebook bekerja sama dengan konsorsium Partnership on AI dan Microsoft serta para akademisi untuk memerangi deepfake. Mereka pun sudah menyiapkan dana USD 10 juta atau sekitar Rp 14 miliar untuk keperluan tersebut.

Kerja sama ini ditujuan untuk membuat kumpulan data deepfake, benchmare dan mengajak publik untuk mencari solusi dalam memerangi penyebaran video deepfake di dunia maya. Dana sebesar USD 10 juta tersebut bakal digelontorkan untuk mendanai penelitian tersebut, yang bertujuan untuk mempermudah mencari konten yang dibuat menggunakan deepfake.

Deepfake Detection Challenge — nama program tersebut — didukung oleh akademisi dari sejumlah universitas, seperti Cornell Tech, MIT, University of Oxford, UC Berkeley, University at Albany-SUNY, dan University of Maryland.

Dalam program ini juga bakal mempunyai papan skor untuk memperlihatkan sistem pendeteksi deepfake yang paling canggih. Sementara dataset deepfake yang sudah dikumpulkan bakal dirilis dalam konferensi NeurIPS yang diadakan di Vancouver, Kanada, Desember mendatang.

“Ini adalah masalah yang terus berevolusi secara konstan, sama seperti spam dan bermacam masalah lain, dan kami berharap dengan membantu industri dan komunitas AI, prosesnya bisa dipercepat,” ujar CTO Facebook Mike Schroepfer dalam postingan blognya.

“Hal yang sangat penting adalah mempunyai data yang bisa diakses secara gratis untuk digunakan para komunitas, yaitu data yang berasal dari partisipan yang sudah memberi izin, dan bisa digunakan tanpa halangan,” tambahnya.

Baca Juga:

Munir

Baca Selengkapnya