Connect with us
Media Sosial

Facebook, Media Sosial Paling Banyak Digunakan di Indonesia

sosial
Ilustrasi. (Foto: The Verge)

Jakarta – Semua orang punya media sosial, dan mereka tak bisa lepas dari itu. Melalui sosial media, kita bisa berkenalan dengan orang-orang baru, menemukan teman lama, pamer kegiatan sehari-hari, hingga melakukan promosi bisnis.

Dari sekian banyak layanan sosial media di Indonesia, hanya beberapa saja yang paling diminati pengguna. Biasanya paling banyak antara 5-6 aplikasi media sosial. Menurut riset dari perusahaan media We Are Social yang bekerja sama dengan Hootsuite, Facebook menjadi aplikasi jejaring sosial yang paling banyak digunakan, sebesar 81 persen.

Di posisi kedua situs media sosial terpopuler di Indonesia adalah Instagram dengan penetrasi 80 persen. Khusus untuk media sosial, lima besar di Indonesia diduduki oleh Facebook, Instagram, Twitter, Snapchat, dan LinkedIn.

Popularitas Facebook sebagai media sosial hanya bisa dikalahkan oleh platform streaming video YouTube dan aplikasi pesan instan yang dinaunginya, yakni WhatsApp. YouTube di Indonesia memiliki penetrasi 88 persen, sementara WhatsApp dengan penetrasi 83 persen.

Indonesia sendiri menduduki peringkat ketiga sebagai negara dengan pengguna sekaligus target audiens iklan Facebook terbesar di dunia, dengan jumlah 130 juta pengguna aktif bulanan. Platform media sosial paling banyak digunakan di Indonesia(We Area Social dan Hootsuite) Lantas Jakarta, menduduki posisi ketiga sebagai kota dengan target audiens iklan tertinggi Facebook dengan jumlah 17 juta.

Bahasa Indonesia sendiri menjadi bahasa ketiga paling banyak digunakan di platform Facebook, di bawah Bahasa Inggris dan Spanyol. Sebesar 56 persen pengguna Facebook terdeteksi sebagai pengguna laki-laki sementara 44 persennya wanita.

Sementara Instagram memiliki 62 juta pengguna aktif bulanan di Indonesia dengan persentase jumlah pengguna pria 51 persen, lebih unggul dibanding pengguna wanita dengan pemetrasi 49 persen.

Baca Juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Mana yang Akurat, Alat Ukur Hipertensi Digital atau Konvensional?

Oleh

Fakta News

Jakarta – Tak perlu lagi ke klinik atau rumah sakit, mengukur tekanan darah kini menjadi lebih mudah. Bisa dilakukan di rumah, sudah banyak dijual alat-alat pengukur tekanan darah digital yang bisa digunakan tanpa bantuan profesional.

Akan tetapi banyak yang menyebut bahwa alat pengukur tekanan darah digital tidak sama akuratnya dengan alat pengukur tekanan darah manual yang kerap dipakai oleh para tenaga kesehatan. Sehingga kebanyakan lebih percaya hasil dari alat pengukur manual.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH) dr Tunggul Diapari Situmorang, SpPD-KGH, mengatakan justru alat pengukur tekanan darah digital lebih objektif dan akurat.

“Ada kesan bahwa yang digital itu tidak lebih dipercaya. Nah mulai sekarang ini kita harus sadar, itu (alat pengukur digital) lebih objektif,” kata dr Tunggul saat dijumpai di kawasan Senayan, pada Kamis (19/9/2019).

Mengapa lebih objektif? dr Tunggul menyebut saat dokter atau petugas medis mengukur tekanan darah pasien bisa dipengaruhi oleh banyak hal. Sehingga hasilnya termasuk subjektif dari pemeriksa.

“Yang memeriksa sangat menentukan, bener nggak, sama nggak, sistoliknya dengan diastoliknya sama nggak. Jadi sangat subjektif. Sedang yang digital itu objektif, tapi memang sensitif,” imbuhnya lagi.

Alat pengukur digital disebutnya cukup sensitif dan dengan digalakkannya CERAMAH atau Cek Tekanan Darah di Rumah, alat digital sudah banyak yang dilengkapi dengan pencatat sehingga bisa membantu memantau tekanan darah untuk bisa menemukan angka rata-rata pasti tekanan darah dalam sehari yang bisa berbeda-beda.

“Jadi keakuratannya di situ. Misalnya kita diperiksa oleh dokter atau perawat, disebut tensi 120/80, tapi dengan digital ternyata 122/82. Jadi sangat detail, sangat lebih akurat. Persepsi bahwa digital tidak bisa dipercaya, tidak. Tapi lebih sensitif dan akurat,” pungkasnya.

Baca Juga:

 

Munir

Baca Selengkapnya

BERITA

Banyuwangi Gelar Kompetisi eSport untuk Salurkan Minat dan Bakat Generasi Muda

Oleh

Fakta News
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

Jakarta – Pemkab Banyuwangi mengelar kompetisi eSport pertama kalinya. Even yang berlangsung 18-19 September ini diikuti 217 peserta SMA dan mahasiswa se-kabupaten.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan ajang perlombaan eSport ini untuk mewadahi minat dan bakat generasi muda di Banyuwangi. Karena di era saat ini eSport telah menjadi trend hobi generasi milenial.

“Kami memberikan wadah untuk menyalurkan bakat dan minat di bidang ini. Karena kita tidak dapat membendung tren yang terus berkembang, yang bisa kita lakukan adalah mengarahkan agar tidak melampaui batas,” kata Bupati Anas kepada wartawan, Kamis (19/9/2019).

Saat ini, kata Anas eSport juga sudah menjadi salah satu cabang olahraga yang masuk kualifikasi Pra Olimpiade. Ini menjadi kesempatan bagi anak-anak muda untuk mengembangkan hobinya ke level profesional.

Jika dikelola dengan positif dan profesional, eSport akan sama dengan olahraga dan industri lainnya yang menghasilkan peluang dan keuntungan. Banyak bidang yang baru yang muncul seperti player, pelatih, manajer, caster eSport, broadcasting e-sport dan lain sebagainya.

“Ajang ini juga untuk mencari bakat gamer yang nantinya bisa berkompetisi baik di level tingkat nasional bahkan dunia,” ujarnya.

Ditambahkan pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Budi Santoso, animo peserta kompetisi ini sangat besar. Saat pendaftaran jumlahnya mencapai 2.000 orang. Kompetisi ini telah dimulai dengan babak penysihan sejak satu bulan lalu.

“Peminatnya ternyata ribuan tapi untuk even pertama ini kami batasi, karena fasilitas pendukungya masih terbatas. Ke depan akan kami tingkatkan,” kata Budi.

Baca Selengkapnya

BERITA

Di Tahun 2030, Pengguna Internet di ASEAN Diprediksi Capai 7,5 Miliar

Oleh

Fakta News

Jakarta – Pengguna internet di ASEAN diprediksi akan menjadi 7,5 miliar orang di 2030. Angka tersebut tentu bukan angka yang sedikit.

“Kalau lihat dunia digital sekarang kita jadi sangat berkaitan, ada 6 miliar pengguna internet di 2022 dan 7,5 miliar di 2030,” ujar Dr Amiruddin bin Wahab, CEO Cybersecurity Malaysia dalam acara ASEAN CISO Forum 2019 di BPPT, Jakarta, Kamis (19/9/2019).

Banyak teknologi yang luar biasa dan ada di berbagai sektor. Tak hanya untuk industri ekonomi, Amiruddin juga menyebut aspek lain seperti transportasi, big data, dan 5G.

“Ini membuat jadi lebih kompleks, karena terkait data dan kita terkoneksi dalam banyak hal,” tuturnya.

Riset yang dilakukan Google dan Temasek dengan judul ‘e-Conomy SEA 2018’ pada tahun 2018 memperlihatkan, total pengguna internet di kawasan Asia Tenggara ada sebanyak 350 juta orang. Dari angka tersebut, 150 juta di antaranya ternyata dari Indonesia.

Angka 7 miliar tersebut tentu menjadi sangat jauh dari tahun-tahun sebelumnya.

“Dunia akan sangat saling berkoneksi, Indonesia, Malaysia, kita ASEAN,” tutupnya.

Baca Juga:

 

Munir

Baca Selengkapnya