Connect with us
Fifie Rahardja

Menyulap Sampah Citarum Jadi Voucher Kesejahteraan

Fifie Rahardja
Fifie RahardjaFoto: Pikiran Rakyat

Berbagai upaya mengatasi sampah Sungai Citarum sudah dilakukan. Namun tetap saja dibutuhkan komitmen tinggi dari semua pihak. Nah, apa yang dilakukan Fifie Rahardja mungkin bisa dijadikan panutan.

Kisah Fifie di bantaran Sungai Citarum di Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, cukup menginsirasi banyak orang. Terutama soal perjuangannya membebaskan Citarum dari sampah.

Orang banyak mengenal Fifie dari Bank Sampah Berseri (BSB). Berdiri sejak empat tahun lalu, BSB kini beranggotakan 7.000 orang yang terbagi dalam 235 kelompok.

Sebuah pertumbuhan yang sangat pesat mengingat di awal berdirinya, BSB hanya dijalankan segelintir orang saja.

Dengan jumlah anggota yang sekarang, BSB kini bisa mengumpulkan sampah rata-rata 20-30 ton per bulan. Sebagian sampahnya diambil warga dari sampah yang dibuang sembarangan dan memicu banjir di Bantaran Citarum.

Dengan harga sampah Rp 1.000-Rp 40.000 per kilogram, tabungan BSB tahun ini mencapai Rp 200 juta.

Baca Juga:

BSB yang didirikan Fifie Rahardja ini dibuat dari keprihatinannya melihat banyak genangan sampah di Citarum. Selain mudah memicu banjir, kehidupan warga di sekitarnya ikut terganggu.

Menariknya, dalam mendirikan bank sampah ini ia tak asal-asalan. Fifie sampai mengirim tim khusus untuk belajar cara pengelolaan bank sampah di Malang, Jawa Timur, selama enam hari.

Setelah siap dengan segala aspek penunjangnya, ia mantap mendirikan bank sampah pada 27 September 2014. Lalu apa yang membedakannya dengan bank sampah lain? Jawabannya adalah cara dia menarik minat warga.

Ya, Fifie tak cuma membeli sampah yang dikumpulkan warga. Ia menggagas mal kaki lima. Jadi sederhananya ia membeli sampah dari warga itu dengan voucher sampah. Voucher-voucher itu bisa ditukarkan dengan beragam pakaian yang ia sediakan.

Baju-bajunya pun bukan pakaian bekas. Semuanya adalah barang baru yang ia ambil dari pabriknya. Latar belakang sebagai pengusaha memudahkannya mendapat barang berkualitas dari rekannya pemilik pabriknya garmen dan tekstil.

Maka dari itu harganya murah. Kisaran harganya saja di antara Rp10.000-Rp75.000 per helai. Jelas lebih murah ketimbang harga di toko untuk jenis barang yang sama, yakni Rp100.000-Rp200.000 per helai.

Nah, dari situ, warga bisa menjualnya lagi atau digunakan untuk keperluannya sendiri. Jadi bisa dibilang, dari sampah yang tadinya tak berguna, bisa memberikan keuntungan signifikan bagi warga.

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Ini 5 Cara Ampuh untuk Deteksi Kebohongan

Oleh

Fakta News
kebohongan

Jakarta – Di dunia ini, siapa sih yang suka dibohongi? Hampir semua orang akan marah, kesal, atau bahkan sedih ketika orang lain tidak berkata jujur padanya. Lalu, bagaimana cara untuk deteksi kebohongan?

Diketahui, banyak orang yang menanggap tidak semua kebohongan itu berarti jahat. Di negeri barat dikenal adanya istilah white lies. Kalau di Indonesia berarti berbohong demi kebaikan. Tetapi tetap saja yang namanya bohong itu berarti tidak bicara sesuai fakta.

Kebohongan bisa menimbulkan kerugian, terutama ketika sebuah fakta berusaha diungkap, tapi orang yang bersangkutan tidak mau terbuka. Untuk kepentingan penyelidikan biasanya detektif, penegak hukum, atau penyidik, biasanya menggunakan alat pendeteksi kebohongan yang dinamakan poligraf.

Namun, jika untuk perkara yang ringan rasanya terlalu berlebihan jika menggunakan poligraf, dilansir Psychology Today berikut beberapa langkah sederhana yang perlu dilakukan untuk menangkap kebohongan.

1. Mulai dengan pertanyaan mendasar

Dengan mengajukan pertanyaan mendasar pada seseorang, Anda dapat mengamati kebohongan melalui tanggapan lawan bicara.

Tanyakan kepada lawan bicara tentang cuaca, rencana mereka di akhir pekan, atau apa pun yang menimbulkan respons.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

BERITA

MUI Imbau Semua Pihak Harus Terima Putusan MK

Oleh

Fakta News
MUI

Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau semua pihak untuk menerima apa pun keputusan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa perselisihan hasil pemilu (PHPU) Pilpres yang diajukan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi).

Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan putusan MK bersifat final dan mengikat sehingga harus dimaknai sebagai putusan yang terbaik untuk mengakhiri segala sengketa yang berkaitan dengan Pemilu.

“MUI mengimbau kepada semua pihak untuk bisa menerima keputusan majelis hakim dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, karena putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan mengikat,” kata Zainut di Jakarta, Rabu (26/6) dikutip Antara.

Zainut mengatakan, putusan MK harus dimaknai sebagai putusan yang terbaik untuk mengakhiri segala sengketa yang berkaitan dengan Pemilihan Umum, sebagaimana kaidah fikih “hukmul hakim ilzamun wa yarfa”ul khilaf”. Maksud dari kaidah itu adalah putusan hakim adalah mengikat dan menghilangkan perbedaan.

MUI, kata dia, mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap tenang, menjaga kondusivitas. Dan tidak melakukan aksi kekerasan dan tindak pelanggaran hukum lainnya.

“Tetap mengedepankan sikap santun, damai dan akhlakul karimah dalam menyampaikan tuntutan aspirasinya,” kata dia.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

BERITA

Kelabuhi Pengadilan, Rahmadsyah, Saksi Prabowo di MK, Akhirnya Masuk Rutan

Oleh

Fakta News
rahmadsyah sitompul, sidang mk, saksi prabowo
Rahmadsyah Sitompul, saksi Prabowo di sidang MK akhirnya dijebloskan ke rutan.(istimewa)

Jakarta – Masih ingat dengan Rahmadsyah Sitompul? Saksi Prabowo Subianto di sidang Mahkamah Konstitusi akhirnya dijebloskan ke rumah tahanan atau rutan.

Pangkal masalahnya, Rahmadsyah yang didakwa melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik itu mangkir dari persidangan pada 21 Mei dan 18 Juni 2019. Menurut Pengadilan Negeri Kisaran, Sumatera Utara, terdakwa tidak hadir dengan alasan tidak jelas.

Peningkatan status tahanan kota menjadi tahanan rumah negara dibacakan seusai sidang dengan agenda mendengar keterangan saksi di ruang Cakra Utama Pengadilan Negeri (PN) Kisaran, Sumut, Selasa (25/6/2019).

“Iya benar, sudah dilakukan penahanan. Statusnya sebagai tahanan kota dijadikan tahanan rumah negara. Dia ditahan di Rutan Labuhanruku,” kata Kasi Penkum Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) Sumanggar Siagian saat dimintai konfirmasi, Rabu (26/6/2019).

Majelis hakim menilai, perubahan status tersebut juga dilakukan untuk memperlancar jalannya persidangan. “Demi kelancaran persidangan, majelis hakim memutuskan untuk menahan yang bersangkutan,” tandas Sumanggar.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya