Fifie Rahardja Menyulap Sampah Citarum Jadi Voucher Kesejahteraan

  • Fakta.News - 15 Okt 2018 | 16:35 WIB
Menyulap Sampah Citarum Jadi Voucher Kesejahteraan
Fifie RahardjaFoto: Pikiran Rakyat

Berbagai upaya mengatasi sampah Sungai Citarum sudah dilakukan. Namun tetap saja dibutuhkan komitmen tinggi dari semua pihak. Nah, apa yang dilakukan Fifie Rahardja mungkin bisa dijadikan panutan.

Kisah Fifie di bantaran Sungai Citarum di Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, cukup menginsirasi banyak orang. Terutama soal perjuangannya membebaskan Citarum dari sampah.

Orang banyak mengenal Fifie dari Bank Sampah Berseri (BSB). Berdiri sejak empat tahun lalu, BSB kini beranggotakan 7.000 orang yang terbagi dalam 235 kelompok.

Sebuah pertumbuhan yang sangat pesat mengingat di awal berdirinya, BSB hanya dijalankan segelintir orang saja.

Dengan jumlah anggota yang sekarang, BSB kini bisa mengumpulkan sampah rata-rata 20-30 ton per bulan. Sebagian sampahnya diambil warga dari sampah yang dibuang sembarangan dan memicu banjir di Bantaran Citarum.

Dengan harga sampah Rp 1.000-Rp 40.000 per kilogram, tabungan BSB tahun ini mencapai Rp 200 juta.

Baca Juga:

BSB yang didirikan Fifie Rahardja ini dibuat dari keprihatinannya melihat banyak genangan sampah di Citarum. Selain mudah memicu banjir, kehidupan warga di sekitarnya ikut terganggu.

Menariknya, dalam mendirikan bank sampah ini ia tak asal-asalan. Fifie sampai mengirim tim khusus untuk belajar cara pengelolaan bank sampah di Malang, Jawa Timur, selama enam hari.

Setelah siap dengan segala aspek penunjangnya, ia mantap mendirikan bank sampah pada 27 September 2014. Lalu apa yang membedakannya dengan bank sampah lain? Jawabannya adalah cara dia menarik minat warga.

Ya, Fifie tak cuma membeli sampah yang dikumpulkan warga. Ia menggagas mal kaki lima. Jadi sederhananya ia membeli sampah dari warga itu dengan voucher sampah. Voucher-voucher itu bisa ditukarkan dengan beragam pakaian yang ia sediakan.

Baju-bajunya pun bukan pakaian bekas. Semuanya adalah barang baru yang ia ambil dari pabriknya. Latar belakang sebagai pengusaha memudahkannya mendapat barang berkualitas dari rekannya pemilik pabriknya garmen dan tekstil.

Maka dari itu harganya murah. Kisaran harganya saja di antara Rp10.000-Rp75.000 per helai. Jelas lebih murah ketimbang harga di toko untuk jenis barang yang sama, yakni Rp100.000-Rp200.000 per helai.

Nah, dari situ, warga bisa menjualnya lagi atau digunakan untuk keperluannya sendiri. Jadi bisa dibilang, dari sampah yang tadinya tak berguna, bisa memberikan keuntungan signifikan bagi warga.

  • Halaman :
  • 1
  • 2

BACA JUGA:

Tulis Komentar