Connect with us

Ketika Agama Kehilangan Tuhan

KH Ahmad Mustofa Bisri

Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama.

Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu, Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas diantara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari Wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.

Esensi beragama telah dilupakan. Agama kini hanya komoditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah didewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.

Agama kini diperTuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.

Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh? Tuhan mana yang mengajarkan tuk membenci? Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.

Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama.
KH. A. Mustofa Bisri

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Nek Ora Iso Ngewangi, Ojo Ngrusuhi

Oleh

Fakta News

Selama merebaknya pandemi Covid-19 ini, saya belum pernah membaca informasi yang benar-benar bikin mantap hati saya. Melalui berbagai sumber, kita bisa ikuti simpang siurnya informasi soal Covid-19 ini, baik dari sisi penularannya sampai pro kontra obat-obat apa saja yang bisa digunakan untuk menyembuhkan pasien positif Covid-19. Kadang malah bikin bingung. Apalagi kalau menyimak chat adu argumentasi para “akademisi WAGroup University”.

Awal-awal 1900an dunia begitu takut pada influenza. Sekarang lazim disebut FLU BIASA. Virus corona juga. Dari berbagai referensi bisa kita tau bahwa waktu itu jumlah yang meninggal sangat besar. Sampai akhirnya pandemi mereda. Tidak jelas juga karena apa. Karena virus tetap belum ada obatnya. Berbagai jenis antibiotik yang ditemukan efektif untuk bakteri tapi tidak untuk virus. Apakah sekarang ini influenza sudah tidak jadi momok bagi dunia karena warga dunia dengan semakin baik gizinya, imunitasnya meningkat. Atau juga karena hadirnya berbagai macam obat PEREDA gejala flu biasa. Entahlah. Dunia tenang walau virusnya tetap ada. Mungkin karena sudah ada jalan keluarnya. Walaupun belum ada jawabannya.

Satu orang kena flu biasa dan kurang lebih seminggu sembuh. Kemudian yang lain tertular, kena flu biasa juga, tapi segera akan sembuh juga. Terus saja begitu. Walau setiap hari di seluruh dunia ada yang kena influenza, sekarang hal ini tidak menjadi momok apalagi pandemi yang menakutkan.

Nah. Saat ini dunia dilanda pandemi Covid-19. Yang bikin parno, virus corona yang satu ini begitu kuat. Sangar banget. Sedemikian mudahnya menular. Dan bagi yang tertular harus punya daya tahan yang extraordinary. Kalau tidak, Covid-19 akan menyerang paru-paru dengan dahsyatnya, dan juga dengan cepat akan memperburuk organ-organ vital lainnya, apalagi yang fungsinya sudah tidak baik.

Dunia gugup, gagap bahkan panik. Berbagai protokol untuk melawan penyebaran Covid-19 telah diterapkan. Setiap negara punya kebijakannya masing-masing.

Indonesia juga sudah mengeluarkan berbagai kebijakan. Sangat gegap gempita yang bersilat lidah menyikapi kebijakan-kebijakan ini. Saya tidak ingin beropini mengenai kebijakan ini. Emang siapa saya? Saya ini orang biasa.

Saya hanya mau berbagi apa yang ada dalam pikiran saya sebagai orang biasa di negeri ini. Hal yang saya pikirkan adalah anjuran-anjuran/protokol-protokol dalam masyarakat menjalankan aktifitasnya sehari-hari. Baik di Indonesia maupun di dunia.

Saat ini, tidak hanya di Indonesia tentunya, ada berbagai anjuran dalam upaya memutus rantai penyebaran Covid-19. Mulai dari #JagaJarak sampai #DiRumahAja. Intinya kita membuat diri kita dan diri orang lain tetap “steril”. Makanya harus rajin cuci tangan dan sebagainya. Dengan demikian diharapkan setelah melewati kurun waktu tertentu, mata rantai penyebaran terputus. Tidak saling mencemari, tidak saling menulari. Pertanyaannya, sampai kapan? Virusnya kan masih gentayangan? Apakah akan seperti influenza?

Hal ini sama dengan penerapan protokol keamanan. Gara-gara maraknya teror di dunia yang juga terjadi di Indonesia, protokol keamanan dijalankan secara permanen. Salah satu contohnya, pemeriksaan dengan metal detektor kalau mau masuk ke ruang publik. Saya merasakan hal ini setiap hari. Ini sudah jadi protokol permanen.

Apakah hal ini juga akan terjadi dengan protokol kesehatan? Akankah sehari-hari penduduk dunia akan pakai masker terus? Bahkan pakai alat seperti helm untuk mencegah terkena droplets? Akankah APD terus dibutuhkan di setiap jengkal rumah sakit setiap saat? Apakah kemana-mana dahi kita akan ditembak alat pengukur suhu badan? Apakah di setiap sudut RT/RW akan disiapkan banyak tempat cuci tangan lengkap dengan sabun dan hand sanitizer? Masih banyak pertanyaan lainnya yang bisa ditambahkan sendiri.

Bisa jadi pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena keparnoan saya sendiri. Memang betul pernah ada yang namanya Ebola, SARS, H1N1 di spot2 tertentu di dunia. TAPI TAK BEGINI (lagukan dengan notasi lagunya Anang). Semua virus-virus di atas tidak membuat dunia sepanik sekarang ini. Covid-19 benar-benar membuat kalang kabut setiap jengkal daratan yang dihuni manusia.

Harus ada terobosan di dunia kesehatan masyarakat, kedokteran dan farmasi. Dalam pandangan saya yang orang biasa ini, obat Covid-19 ini harus segera ditemukan dulu. Kalau tidak ada terobosan ini, ya siap-siap warga dunia menjalani kehidupan sehari-harinya dengan berbagai protokol: #StayatHome, #WorkFromHome, #SocialDistancing, #PhysicalDistancing bahkan #PermanentLockdown.

ATAU memang keadaan ini akan berujung dengan hadirnya paradigma baru kehidupan manusia. Mana mungkin secara permanen manusia dibatasi ruang gerak dan mobilitasnya. Berarti yang harus berubah mindset dan life style, serta seluruh peralatan penunjang kelangsungan hidup. Yang jelas APD bisa saja akan menjadi pakaian sehari-hari setiap orang. Dari 1 contoh ini saja bayangkan konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi dengan dunia kita.

Aaaaah. Terlalu parno saya. Atau malah terlalu visioner? Tidak mungkinlah saya visioner. Siapa saya? Oleh karena itu saya ingin kembali pada apa yang diharapkan di atas. TEROBOSAN. Harus ada terobosan.

Marilah kita berharap para peneliti di seluruh dunia saat ini sedang bekerja “24/7” untuk menemukan OBAT (dengan berbagai pengertiannya) pelawan Covid-19. Industri global farmasi semestinya sepenuhnya mendukung berbagai upaya penelitian ini. Dan saya rasa pastinya mereka SUDAH melakukannya. Sehingga semoga obat ini segera lahir dan bisa segera pula didistribusikan ke penjuru dunia dengan harga murah (dengan memotong berbagai prosedur perijinan dan menyubsidi biaya riset serta HAKI mengingat yang dihadapi adalah bencana global). SEMOGA. Saya yakin ini bukan sekedar harapan saya, tapi juga merupakan harapan semua orang di seluruh dunia.

Dan di Indonesia, saya punya keyakinan bahwa semua orang juga mengharapkan terobosan di atas terjadi juga. Segera lahir obat Anti Covid-19 hasil dari buah pikir putra putri bangsa. Bisa obat “kimia”, bisa herbal. Indonesia kekayaan herbalnya begitu luar biasa. Semoga aneka kunyit, temulawak, jambu biji merah dan berbagai dedaunan dan pepohonan bisa diekstrasikan dan disatukan saripatinya menjadi obat mujarab untuk melawan Covid-19. Ini juga bisa jadi pembuktian bahwa khasiat herbal Indonesia bukan sekedar mitos. Tapi punya landasan ilmiah. Sehingga satu hari nanti kalau gejala “masuk Covid-19” menyerang, kita semua cukup buka kemasan jamu sachet TolakCovid19 atau AntiCovid19 atau apapun namanya. Sambil berujar: “COVID 19? GLEK AJA”. AMIN. SEMOGA impian ini jadi kenyataan.

Mari kita DUKUNG TERUS semua upaya di dunia dan Indonesia untuk segera memutus mata rantai penularan Covid-19.

Beradu opini di media termasuk medsos mengkritisi kebijakan2 dalam penangan pandemi Covid-19 sudah sampai tahap berputar-putar di situ-situ saja. Malah menambah keparnoan dan ketegangan. Saya yakin bahwa selain dilontarkan ke media, pasti ada jalan lain untuk menyampaikan berbagai usulan melalui saluran yang tepat.

Saya tidak ingin ikut berdebat soal kebijakan-kebijakan tersebut. Saya berharap masyarakat juga tidak perlu ikut berdebat lagi. Sudah cukup. Perdebatannya ya cuma itu itu saja kok. Di situ-situ juga. Tidak kemana-mana. Di satu dua WA Group yang saya ikuti sudah kejadian. Awalnya berdebat, selanjutnya bertengkar. Padahal kita sama-sama tau kalau pertengkaran tidak pernah akan menghasilkan sesuatu yang baik. Ketimbang berdebat, bertengkar, sebagai orang biasa yang bisa saya lakukan adalah MENDUKUNG.

Yuk beri DUKUNGAN pada GARDA DEPAN lawan Covid-19 yaitu para tenaga kesehatan berikut jajaran dan penunjangnya yang luar biasa itu dengan menaati anjuran mereka, yaitu: #DirumahAja. Para SUPERHEROES garda depan ini telah berkorban dan banyak jadi korban Covid-19. Mereka hanya minta kita semua #DirumahAja.

Yuk beri DUKUNGAN kepada para RELAWAN untuk semua upaya mereka menggalang kepedulian sosial bagi yang membutuhkan. Baik kepedulian pada jajaran garda depan maupun pada anggota masyarakat yang membutuhkan.

Yuk beri DUKUNGAN pada PEMERINTAH dengan seluruh APARATUR SIPIL & MILITERNYA dan JAJARANnya dari pusat, provinsi, kabupaten sampai ke pelosok kota dan desa, dalam mereka menjalankan kebijakan dan melaksanakan tugasnya. Menghadapi situasi dan kondisi yang sangat tidak biasa ini, tidak mungkin ada kebijakan yang ideal. Masing-masing kebijakan punya konsekuensinya sendiri. Sebagai orang biasa, yang bisa saya lakukan adalah mendukung.

Dan satu lagi. Yang harus kita DUKUNG TERUS adalah para PENELITI negeri ini untuk bisa menemukan obat mujarab melawan Covid-19. Karena OBAT diharapkan tidak saja memutus mata rantai penularan, tapi sekaligus berdampak jangka panjang, yaitu MENYEMBUHKAN (agar penderita tidak hanya mengandalkan daya imunnya semata). Sehingga kita dan warga dunia bisa menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa lagi. Seperti saat sebelum terjadi pandemi Covid-19. Bedanya: kita semua lebih memahami arti kata BERSYUKUR dan PEDULI. Layaknya narasi lagu What a Wonderful World.

AYO. NEK ORA ISO NGEWANGI, OJO NGRUSUHI.

Salam, Kepra
Orang Biasa

Baca Selengkapnya

KOLOM

Seruan Memakmurkan Masjid di Tengah Menggilanya Pandemi Corona

Oleh

Fakta News
(Ilustrasi)

Memakmurkan masjid merupakan tanda dari keimanan, Allah akan menurunkan rahmatNya kepada mereka yang memakmurkan masjid. Satu-satunya tempat yang berdiam diri saja (I’tikaf) bernilai ibadah adalah masjid.

Dan bagi umat Islam masjid bukan hanya menjadi pusat kegiatan ibadah seperti salat berjamaah dan shalat jumat yang merupakan fardhu ain, tetapi juga menjadi pusat pendidikan umat, dengan dzikir dan taklim bersama. Karena itu secara keniscayaan masjid menjadi titik kumpul umat, tidak hanya mukimin (orang yang berdomisili) di sekitar masjid, tetapi juga para musafir yang singgah untuk sekedar salat berjamaah.

Namun sejak terjadi bencana Covid 19 yang diawali dari wuhan China dan menyebar ke negara-negara di dunia, sehingga dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO, karena kecepatan penyebarannya telah memakan ribuan korban jiwa dan ratusan ribu orang terinfeksi.

Indonesia pun tak luput dari serangan pandemi ini, bahkan menurut data yang diumumkan BNPB angka kematian yang disebabkan oleh infeksi Covid 19 menunjukkan angka tertinggi di dunia. Pemerintah yang disertai dengan terbitnya fatwa MUI, telah mengeluarkan imbauan untuk menunda sementara salat jumat dan salat berjamaah di masjid, serta kegiatan-kegiatan kegamaan lain yang melibatkan orang banyak.

Tidak hanya Indonesia, semua negara-negara di di dunia yang telah dilanda penularan Covid 19 juga membatasi warganya untuk tidak melakukan aktifitas yang melibatkan berkumpulnya orang banyak. Sekolah-sekolah diliburkan, proses belajar dan mengajar dilakukan di rumah masing-masing secara online. Para pekerja banyak di rumahkan dan bekerja dari rumah, dan tempat-tempat ibadah pun diimbau untuk tidak menyelenggarakan ibadah atau kegiatan keagamaan yang melibatkan perkumpulan orang banyak.

Umat beragama diimbau untuk beribadah di rumah agar dapat menekan penyebaran Covid 19. Pemerintah Saudi melarang pelaksanaan ibadah umroh sementara, bahkan Masjidil Haram pun sempat ditutup.

Para ulama di negara-negara yang dilanda penyabaran Covid 19 telah mengeluarkan fatwa yang membatasi peribadatan yang melibatkan orang banyak di masjid. Ulama’ Saudi mengeluarkan fatwa untuk tidak salat jamaah di masjid, ulama’ Mesir mengeluarkan fatwa penangguhan salat jumat dan salat berjamaah di masjid.

Demikian pula di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa menghentikan salat jumat di masjid di daerah-daerah yang berpotensi besar penyebaran virus Corona, dan menggantikannya dengan dengan salat dzuhur di rumah.

Jika salat jumat yang fardhu ‘ain saja dihentikan apa lagi salat jamaah fardhu lainnya yang hukumnya sunnah (tidak wajib), tentu lebih dianjurkan ditiadakan sementara.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama kemanusiaan yang rasional. Fikih dalam  islam merupakan kreatifitas intelektual (ijtihad) dalam merespon problem umat manusia di setiap situasi dan kondisi faktual yang dihadapi (waqi’iyah) dengan menggali dalil-dalil agama (alqur’an dan sunnah nabi) dan mengacu pada ushul-alkhamsah maqashidus-syariah (lima prinsip tujuan syariat), yaitu hifdzi addin (menjaga agama) yakni ;Hifdz ad-din (Menjaga Agama), Hifdz an-nafs (Menjaga Jiwa), Hifdz al-Aql (Menjaga Akal), Hifdz an-Nasl (Menjaga Keturunan), Hifdz al-Mal (Menjaga Harta).

Kelima prinsip tujuan syariat tersebut berorientasi pada kemaslahatan umat manusia dan menghindari mudharat (kebahayaan) bagi umat manusia. Misalnya, betapapun berpuasa itu wajib bagi setiap muslim, tapi jika puasa dianggap akan membahayakan kesehatan seperti ibu hamil, orang sakit dan orang jompo, maka boleh tidak berpuasa. Wudu’pun boleh diganti dengan tayamum, jika penggunaan air diperkirakan dapat membahayakan tubuh karena penyakit atau lainnya. Rukhkshah (keringanan) ini berorientasi pada kemaslahatan dan menghindari terjadinya mudharat karena adanya udzur (halangan).

Baca Selengkapnya

BERITA

Gerakan Gotong Royong Cegah Penyebaran Virus Corona

Oleh

Fakta News

Jakarta – Corona Covid-19 kini telah menjadi pandemi yang menimpa seluruh dunia. Masker, pencuci tangan (hand sanitizer), bilik disinfektan, alat pelindung diri, alkohol, dan sarung tangan adalah kata benda yang sering berseliweran akhir-akhir ini di banyak grup Whatssapp. Barang-barang tersebut kian langka di pasaran. Warga masyarakat memburunya untuk melindungi diri dari wabah Corona. Kesadaran masyarakat akan bahaya Corona kian meningkat.

Mereka kian menyadari bahwa Covid 19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang sangat cepat menyebar. Penyakit ini dapat menginfeksi dengan rentang yang amat lebar, dari yang tidak bergejala sampai berat dan meninggal dunia. Karena itulah, masyarakat turut memburu perlengkapan kesehatan dalam menghadapi wabah Corona. Kelangkaan pun tak terelakkan.

Kelangkaan itu tentu saja menyulitkan petugas medis. Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), yang menjadi salah satu rujukan pemeriksaan Corona (Covid-19), misalnya, kekurangan stok APD (Alat Pelindung Diri).

APD merupakan pakaian dan perlengkapan untuk melindungi tenaga medis yang melakukan perawatan terhadap orang yang berisiko terjangkit virus Corona. “Stoknya semakin menipis,” ujar Ketua Satgas Corona RS Unair, dr Prastuti Asta Wulaningrum.Di Rumah Sakit Umum Daerah Toraja, para tenaga medis akhirnya berkreasi untuk melindungi diri. Mereka membuat sendiri perlengkapan yang dibutuhkan. Masker dari kain dilengkapi tali, mantel hujan dari plastik, sepatu boots, serta pelindung wajah yang terbuat dari karet tebal.

“Masker yang kami buat ada pori-pori kecil yang tentunya aman bagi tenaga medis,” kata Direktur RSUD Lakipadada Tana Toraja, dr Safari D Mangopo.Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih berharap dukungan dari masyarakat untuk mengatasi masalah tersebut, selain kepada pemerintah. Maklum saja, tenaga medis saat ini memiliki risiko yang besar tertular. Dokter dan tenaga medis semestinya tidak boleh tertular, karena akan menulari pasien-pasien yang lemah dan tengah dirawat di rumah sakit atau klinik.

Apalagi, di rumah sakit yang bukan rujukan merawat pasien Covid-19, dokter dan tenaga kesehatan lainnya juga malah tertular Covid-19. Pasien poliklinik yang datang dengan keluhan non Covid-19 seperti masalah jantung dan lainnya, ternyata bisa saja pembawa (carier) dan bisa menyebarkan virus. Karena itulah, APD menjadi permasalahan tersendiri bagi rumah sakit atau pun klinik, tidak terkecuali yang sebenarnya tak menangani Covid-19.

Banyak Pihak Bergerak

Melihat situasi semacam itu, banyak komponen masyarakat yang bergerak. Kian banyak yang menyadari, pemerintah tak bisa berjuang sendirian. Masih banyak yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan oleh pemerintah dalam upayana mengatasi wabah ini. Namun, mengkritik kekurangan pemerintah saja pun tak akan membuat wabah ini cepat tertangani.

Karena itu, pula para pengusaha besar banyak yang terjun langsung untuk turut membantu pencegahan wabah ini. Salah satu yang banyak disebut adalah Wardah Cosmetics yang menyumbang Rp40 miliar. Selain itu, pengusaha tekstil berencana sumbang 2 juta masker. Pengusaha-pengusaha lain pun banyak yang turut serta dengan dikoordinasikan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.

Masyarakat secara sendiri-sendiri juga telah bergerak. Ada yang menyediakan hand sanitizer dengan memproduksi sendiri dan didonasikan ke rumah sakit. Ada yang gotong royong untuk membelikan APD. Ada pula yang memproduksi bilik disinfektan dengan bantuan para donatur.

Ada yang melakukannya secara spontan dengan langsung membentuk kepanitian, baik melalui jaringan alumni, pertemanan, komunitas dan lain-lain. Sejumlah organisasi alumni perguruan tinggi pun telah berupaya berkoordinasi, mempersiapkan para relawan yang bisa diterjunkan di pusat-pusat penanganan wabah Corona nantinya. Kebetulan masing-masing organisasi alumni memiliki tim tanggap bencana, dan pernah dikoordinasikan dalam menangani bencana banjir beberapa waktu lalu.

Gerakan-gerakan masyarakat semacam itu ada yang terstruktur dengan baik. Bahkan, ada yang melakukannya dengan imbauan resmi dari pimpinan lembaga mereka.  Salah satu yang melakukannya adalah Fachmi Idris, Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Fachmi meminta seluruh pegawai di lembaganya secara ikhlas menyisihkan sebagian gajinya untuk membantu pemerintah melawan wabah Covid-19. Dana ditransfer kepada salah satu pegawai yang ditunjuk. Rupanya soliditas dan rasa kepedulian mereka tergolong tinggi. Dalam tiga hari sumbangan telah mencapai hampir setengah miliar rupiah. Aksi ini mereka sebut Gerakan Gotong-Royong Bantu Tenaga Kesehatan Cegah Corona (GEBAH CORONA).

Dalam penyalurannya, BPJS Kesehatan bekerja sama dengan IDI dan salah satu media swasta untuk menyediakan APD bagi tenaga medis. “Mereka melayani masyarakat tanpa kenal lelah, sehingga sudah seyogyanya kami turut bergerak membantu,” ucap Fachmi.

 

Thonthowi Dj

Sekjen Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Baca Selengkapnya