Connect with us

Paus Fransiskus Akui Telah Terjadi Skandal Korupsi di Vatikan

Paus Fransiskus

Vatikan – Paus Fransiskus mengakui ada praktik korupsi yang terjadi di Vatikan. Ia menyebut hal tersebut sebagai sebuah “skandal”. Pernyataan Paus ini menandai pertama kalinya ia mengakui adanya praktik korupsi dalam sistem keuangan Vatikan. Sejumlah bukti pun juga sudah dikumpulkan.

“Ada korupsi, jelas. Dengan interogasi kita akan melihat apakah mereka bersalah atau tidak. Ini adalah perbuatan tercela, tidak pantas ini terjadi di Vatikan,” ujar Paus Fransiskus dalam konferensi persnya di dalam pesawat saat perjalanan pulang dari Jepang, Selasa (26/11).

Paus mengatakan kepada awak media bahwa saat ini penyelidikan tengah berlangsung terhadap dugaan penipuan dan penyalahgunaan anggaran Peter Pence, dana amal Paus, yang digunakan untuk membeli properti mewah di pusat kota London, Inggris, senilai €150 juta atau setara dengan Rp240 miliar.

Sebelumnya, Paus mengatakan bahwa pembelian properti tersebut belum tentu penyalahgunaan dana amal tapi sebagai bentuk investasi. “Anda bisa membeli properti, kemudian menyewakannya, menjualnya. Namun, itu dilakukan demi kebaikan bagi mereka yang membutuhkan,” terangnya.

“Apa yang terjadi, telah terjadi, sebuah skandal. Mereka melakukan perbuatan yang melanggar,” tambah Paus.

Ini adalah pernyataan publik pertama yang disampaikan Paus Fransiskus terkait isu praktik korupsi di Vatikan. Ia menekankan bahwa penyelidikan sejauh ini berjalan dengan baik. Ada lima petugas administrasi Vatikan yang diskors dan kini tengah menjalani pemeriksaan, dua di antaranya merupakan pejabat senior.

Terungkapnya praktik korupsi tersebut berawal dari kecurigaan auditor keuangan Vatikan akan adanya praktik tersebut.

“Untuk pertama kalinya, perbuatan kotor terungkap dari dalam Vatikan, bukan dari luar,” papar Paus.

 

Mujafi

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Manfaatkan Revolusi Digital, Kini Pengemis di China Terima Sumbangan Pakai QR Code

Oleh

Fakta News
Pengemis di China memakai QR Code

Jakarta – Dengan revolusi digital yang ada saat ini, peminta-minta menemukan solusinya dengan QR Code. Jadi tidak perlu uang kecil jika ingin menyumbang pada mereka.

Ya, sebagian pengemis di China mengenakan semacam ID Card dengan QR Code yang tercetak di selembar kertas. Dikutip dari Financial Express, mereka menerima pembayaran dengan Alipay dan WeChat Wallet, perusahaan e-wallet besar di sana.

Peminta-minta ini tak membutuhkan ponsel untuk mengoperasikan akun mereka karena sistemnya adalah uang bisa langsung masuk ke dompet digital pengemis.

Lembar QR Code itu bisa digunakan untuk membeli barang apapun yang ada di dompet digital mereka dengan memindainya saja di toko.

Brookings Fellow Aaron Klein dan Brookings Senior Fellow David Dollar pun mendiskusikan hal ini dalam podcast terbaru mereka.

China memang termasuk negara yang cukup siap dalam era non-tunai. Menjamurnya sistem pembayaran dengan platform Alipay dan WeChat adalah buktinya.

Namun demikian, pembayaran cashless bukannya tanpa kritikan. Misalnya kecemasan soal perlindungan data yang terangkut saat transaksi pembayaran secara digital.

Baca Juga:

 

Munir

Baca Selengkapnya

BERITA

Pertama Kalinya, Arab Saudi Terbitkan Visa Turis dan Terbuka untuk Pariwisata

Oleh

Fakta News
Kota Riyadh

Riyadh – Pemerintah Arab Saudi, pada Jumat (27/9/2019), resmi akan mulai terbuka untuk pariwisata dan menawarkan visa turis untuk pertama kalinya. Langkah tersebut akan semakin membuka negara kerajaan Islam ultra-konservatif itu bagi wisatawan sebagai bagian dari menghidupkan perekonomian di sektor pariwisata.

Pariwisata juga menjadi salah satu upaya pemerintah Arab Saudi untuk mendiversifikasikan ekonominya menjauh dari minyak bumi. Sebagai konsekuensi dibukanya pariwisata di kerajaan itu, pemerintah juga akan melonggarkan aturan berpakaian bagi turis wanita asing yang tidak diharuskan mengenakan abaya di tempat umum.

“Kita membuat sejarah pada hari ini,” ujar Kepala Pariwisata Arab Saudi Ahmed al-Khateeb dalam sebuah pernyataan.

“Untuk pertama kalinya, kami akan membuka negara kami untuk wisatawan dari seluruh dunia,” tambahnya, dikutip AFP.

Dengan dibukanya pintu pariwisata di Arab Saudi, warga negara dari 49 negara akan berhak mendapatkan visa online maupun visa on arrival, termasuk warga Amerika Serikat, Australia, dan sejumlah negara Eropa.

Baca Selengkapnya

BERITA

Kasus Pembunuhan Khashoggi, Putra Mahkota Arab Saudi Ambil Alih Tanggung Jawab

Oleh

Fakta News
Mohammed Bin Salman

Jakarta – Putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman mengatakan bertanggung jawab terhadap pembunuhan sadis jurnalis dan kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi pada Oktober tahun lalu.

Untuk pertama kali MBS berbicara terbuka tentang pembunuhan Khashoggi di dalam Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki oleh satu regu pembunuh yang terbang dari Arab Saudi. Saat itu, Khashoggi mengurus dokumen pernikahannya dengan seorang wanita Turki.

MBS, begitu putra mahkota Arab Saudi ini disapa, menjelaskan peristiwa pembunuhan Khashoggi terjadi dalam pengawasannya. Namun pangeran ini mengaku tidak mengetahui tentang operasi khusus untuk membunuh Khashoggi.

“Itu terjadi di bawah pengawasan saya. Saya mengambil semua tanggung jawab itu, karena itu terjadi di bawah pengawasan saya,” kata MBS dalam wawancara televisi PBS bersama Martin Smith yang publikasi lengkap wawancara akan dibuka pada 1 Oktober 2019, bertepatan dengan setahun peristiwa pembunuhan Jamal Khashoggi.

Menurut laporan Reuters, 26 September 2019, Smith menanyakan MBS mengapa tidak mengetahui adanya operasi pembunuhan Khashoggi. MBS memberi jawaban: Kami memiliki 20 juta orang. Kami memiliki 3 juta pegawai pemerintah.”

Begitu juga ketika Smith mempertanyakan apakah para pembunuh itu dapat mengambil pesawat jet pemerintah? MBS berujar:”Saya memiliki pejabat, menteri yang mengikuti sejumlah hal, dan mereka bertanggung jawab. Mereka memiliki wewenang untuk melakukan itu.”

Sebanyak 11 tersangka warga Arab Saudi telah diadili. Namun tidak banyak informasi diperoleh. Laporan PBB telah meminta MBS dan pejabat senior Arab Saudi lainnya untuk diselidiki.

Badan intelijen Amerika Serikat, CIA, dan sejumlah pemerintahan Barat menyakini MBS memerintahkan pembunuhan Khashoggi. Namun pejabat Arab Saudi mengatakan, MBS tidak memiliki peran apapun dalam pembunuhan Khashoggi.

Putra mahkota Arab Saudi dalam konferensi investasi di Riyadh beberapa pekan setelah pembunuhan itu mengatakan pembunuhan Jamal Khashoggi merupakan kejahatan sadis, insiden menyakitkan, dan menjanjikan keadilan bagi mereka.

 

Mujafi

Baca Selengkapnya