Ulasan Film The Meg: Visual Efek yang Menegangkan Tapi Tak Masuk Akal

  • Fakta.News - 12 Ags 2018 | 18:22 WIB
The Meg: Visual Efek yang Menegangkan Tapi Tak Masuk Akal
The Meg

Jakarta – Hiu berukuran asli saja menakutkan apalagi berukuran raksasa? Perumpamaan inilah yang lantas jadi gagasan film berjudul The Meg. Tengah tayang di bioskop pekan ini, film sains fiksi ini bisa jadi hiburan tambahan bagi Anda.

Namun bagi penikmat film dengan logika, film ini jelas tak masuk hitungan. Pasalnya The Meg benar-benar meninggalkan logika tersebut. Semua demi sajian sinematis yang menghibur.

Ya, The Meg adalah film dengan premis teror ikan hiu raksasa yang mengancam peradaban manusia. Tak terasa udah 43 tahun sejak Steven Spielberg merilis foto ikonisnya yang membuat Jaw (1975) begitu melegenda sebagai film bertema ikan hiu.

Baca Juga:

Kini film ini pun berusaha menghidupkan kembali teror yang sama dengan mengadaptasi novel karya Steve Alten dengan judul yang sama.

Cerita di film ini berawal dari impian seorang manusia yang ingin mengeksplorasi dunia bawah laut. Upaya tersebut ternyata malah mempertemukan mereka dengan monster purba yang selama ini masih berenang bebas di lautan dalam.

Megalodon yang di film ini disingkat jadi “Meg” berukuran hampir 30 meter. Hiu raksasa ini menjadi bintang utamanya dan meneror tanpa henti Jonas Taylor (Jason Statham), Suyin (Li Bingbing), dan seluruh umat manusia.

Meski tak masuk akal, film berbiaya produksi 150 juta dolar ini menyuguhkan visual yang memukau. Memang ada sih beberapa adegan yang sangat terlihat efek komputernya.

The Meg juga terbilang sukses mengombinasikan elemen horor dan humor menjadi satu kesatuan yang padu. Ditambah adegan aksi dari Statham, film ini lumayan membuat adrenalin terpicu.

Sayangnya, humor-humor yang disuguhkan agak-agak tak lazim untuk orang Indonesia. Sedikit terasa norak untuk yang punya selera humor tinggi. Jadi seperti murahan.

Untung saja, adegan-adegan aksi di film ini punya daya untuk membuat penontonnya geregetan. Namun tetap saja ada satu yang perlu ditekankan, jangan pernah menggunakan akal logika dalam mencerna film ini.

Satu kekurangan lainnya, sutradara Jon Turteltaub entah kenapa jadi seakan tak mampu menggambarkan situasi mencekam di beberapa adegan. Padahal sebenarnya ia berpotensi menjadikan film ini sajian horor yang epik. Dengan bekal efek luar biasa, film ini semestinya bisa jadi film yang sangat bagus.

  • Halaman :
  • 1
  • 2

BACA JUGA:

Tulis Komentar