Connect with us

Buya Syafii Minta Stop Penyebaran Opini Jokowi Anti-Islam

Jokowi Anti-Islam, Jokowi, Buya Syafii
Presiden Jokowi di acara Milad 1 Abad Madrasah Mu’allimin-Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta.(Istimewa)

Yogyakarta – Buya Syafii Maarif, tokoh Muhammadiyah, meminta semua pihak untuk menghentikan penyebaran opini Presiden Joko Widodo anti-Islam. Pasalnya, hal tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.

Buya Syafii punya alasan kuat kenapa mengungkapkan hal demikian. Banyak kebijakan yang dilakukan Presiden Jokowi yang justru mendukung umat Islam.

“Beberapa waktu lalu, Presiden menyerahkan surat keputusan bagi enam sekolah tinggi Muhammadiyah di Lamongan dan nanti Presiden masih akan berkunjung ke Universitas Aisyiyah,” jelas Buya Syafii dalam pidatonya di acara Milad 1 Abad Madrasah Mu’allimin-Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (6/12).

Presiden sendiri mewakili pemerintah dalam memberikan bantuan pembangunan universitas baru yang dikelola Muhammadiyah. “Jadi kalau ada yang bilang Presiden tak perhatian pada Islam, hentikanlah, sudahlah,” imbuh Buya.

Pernyataan mantan ketua umum PP Muhammadiyah tersebut langsung disambut tepuk tangan 2.000 santri yang hadir dalam acara tersebut. Termasuk pula Presiden Jokowi yang turut hadir dalam acara tersebut.

Muhammadiyah, imbuh Buya Syafii, sangat berperan bagi bangsa dan negara Indonesia. Adapun, bila negara memberi bantuan untuk Muhammadiyah, bantuan itu bakal kembali lagi ke negara. Pasalnya, kader Muhammadiyah akan turut berkontribusi kepada negara.

“Kalau negara membantu Muhammadiyah, harus dibaca, negara dalam UUD 1945 tugasnya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa negara. Tidak bisa melakukan itu semua. Apalagi Muhammadiyah ada sebelum bangsa ini lahir. Jadi, kalau negara membantu Muhammadiyah, sama saja negara membantu dirinya sendiri,” lanjut Buya Syafii.

Baca Juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Pesan Berantai Soal Bangkitnya PKI di Medsos, Salah Konteks

Oleh

Fakta News
Pesan Berantai
Pesan berantai bangkitnya PKI, false contexs alias Hoaks(Ilustrasi

Jakarta – Pesan peringatan untuk waspada karena ada indikasi nyata PKI mulai bangkit, beredar melalui pesan berantai WhatsApp (WA). Ternyata informasi yang disebarkan adalah false context alias konteksnya salah.

Seperti informasi yang tersebar, dalam pesan yang dilengkapi foto seorang pria tewas di dalam masjid itu, si pembuat informasi juga menuliskan narasi, sebagai berikut:

“Info & Mohon Kroscek ke yg ada akses ke TKP!

 Dan Waspada, indikasi nyata PKI mulai bangkit..

 Kabar kejadian:

KAMIS, 14 Feb 2019, kurleb pukul 19.45, Maslikin, 54th, dibacok dari belakang, Saat korban sdg Sholat Isya berjama’ah di Masjid Miftahul Falah, Rt2 Rw2, Dusun Salam, Desa Sindangsari, KEC.SUKASARI, SUMEDANG

 Innaalillahi wa innaa ilaihi roji’uun…Allahummaghfirlahu warhamhu..

 Semoga korban, Allah angkat derajatnya… Dan klrga yg ditinggalkan Allah karuniai pahala dan limpahan kebaikan serta kekuatan yg lebih barokah…Aamiiin.

 Allahumma a’izzil islaama wal muslimiin, wa dammir a’daa.aka wa a’daa.addiin. aamiiin

 Ummat Islam, lebih kuatkan persatuan, saling jaga dan siaga penuh…”

 Atas pesan yang beredar di WA itu, kemudian dilakukan penelusuran oleh Aribowo Sasmito, Co-Founder, Head of Fact Checker Committee di Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). Hasilnya, ternyata informasi yang disebarkan itu adalah false context. Dimana ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah.

“Pembuat informasi menggunakan foto korban peristiwa pembacokan di Sumedang dan menambahkan narasi untuk membangun premis memelintir konteks foto yang sebenarnya. Itu bukan PKI, pelaku (pembacokan) sudah ditetapkan sebagai tersangka mengalami gangguan jiwa,” jelas Aribowo dalam debunk-nya di laman grup FB Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Minggu (17/2/2019).

Baca Selengkapnya

BERITA

Cek Fakta, Benarkah Harga Daging dan Beras Indonesia Termahal di Dunia?

Oleh

Fakta News
harga daging dan beras, lahan prabowo
Prabowo Subianto.(Istimewa)

Jakarta – Saat mengunjungi Blora, Jawa Tengah, Prabowo Subianto melontarkan pernyataan bahwa harga daging dan beras di Indonesia merupakan salah satu tertinggi di Dunia. Benarkah demikian?

Dilansir dari DetikFinace, harga beras di Indonesia berada di urutan 80 dari 89 negara. Urutan ini berdasarkan harga beras tertinggi. Peringkat tersebut dikeluarkan oleh penyedia basis data terbesar di dunia, Numbeo.

Berdasarkan data tersebut, Jepang menduduki peringkat pertama dengan harga beras per kilo sebesar Rp59.122. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya Rp12.404 per kilogram.

Indonesia sendiri hanya kalah dari beberapa negara. Misalnya saja, Polandia dengan harga Rp11.857 per kilo. Setelah itu, Vietnam Rp11.262 per kilo, Nepal Rp10.996 per kilo, Kazakhstan Rp10.049 per kilo, India Rp9.895 per kilo, Bangladesh Rp9.746 per kilo, Mesir Rp9.035 per kilo, Tunisia Rp8.134 per kilo, dan Sri Lanka Rp7.847 per kilo.

Di Asia Tenggara, beras Indonesia lebih murah dari Singapura, Malaysia, dan Thailand. Di Singapura, beras per kilo dibanderol Rp26.852. Singapura menduduki peringkat 22.

Sementara, di Malaysia, beras dibanderol Rp13.711 per kilo dan menduduki peringkat 70. Thailand berada di urutan 52 dengan harga beras Rp16.925 per kilo.

Baca Juga:

Harga Daging di Indonesia di Urutan 49

Nah, untuk harga daging, Indonesia berada di urutan 49 dari 89 negara dari data yang sama. Data tersebut diurutkan dari harga yang tertinggi ke harga terendah.

Harga daging di Indonesia menurut data tersebut adalah Rp118.373 per kilo. Posisi teratas diduduki Swiss dengan harga daging mencapai Rp675.498 per kilo. Norwegia berada di urutan kedua dengan harga daging Rp385.302 per kilo.

Di Asia, Korea Selatan menjadi negara dengan daging sapi termahal. Harganya mencapai Rp312.577 per kilo. Kemudian, disusul Hong Kong dengan harga Rp276.390 per kilo.

Di Asia Tenggara, Thailand menjadi negara dengan harga daging termahal. Sekilo daging sapi dibanderol Rp155.570. Singapura dengan harga Rp117.981 per kilo berbeda tipis dengan di Indonesia. Sementara Malaysia dengan harga Rp94.646 per kilo dan menduduki peringkat 65.

Dwi

Baca Selengkapnya

BERITA

[HOAKS] Video Demo Pekerja Lokal PT IMIP karena Gaji Tidak Setara dengan TKA

Oleh

Fakta News
Hoaks, demo karyawan PT IMIP
Tangkapan layar cuitan penyebar berita palsu.(Faktanews).

Jakarta – Beredar secara viral video yang menyebut bahwa ada aksi demonstrasi pekerja lokal PT IMIP karena gaji tidak setara dengan pekerja asing dari Tiongkok. Video tersebut ternyata hoaks.

Video ini pertama disebarkan di akun Twitter oleh akun Abiyyu #2019PrabowoPresidenRI (@abiyyu231299). Ia membangun narasi dengan tulisan “Imbas dari ketidaksetaraan kesejahteraan gaji pekerja lokal dan TKA. Demo para pekerja lokal PT IMIP morowali sulteng.”

Video tersebut dicuit ulang sebanyak ribuan kali. Bahkan YouTube Channel “MEDIA PRABOWO SANDI” mengunggah video dengan takarir (caption) “Viral!! Ribuan TKA asal Tiongkok akhirnya keluar dari persembunyian. Video ini ditonton puluhan ribu.

Menurut Aribowo Sasmito, Co-Founder Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (Mafindo), video unggahan tersebut tergolong kategori konten yang salah. Kesimpulan ini didapat setelah pihak Mafindo melakukan kroscek informasi.

“Cuitan-cuitan yang dibuat sejumlah akun di atas menambahkan narasi yang tidak ada hubungannya dengan konteks asli dari video, untuk memelintir dan membangun premis mengenai TKA (Tenaga Kerja Asing),” tulisnya dalam debunk di laman grup FB Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Jumat.

Sementara, fakta di lapangan, video tersebut tidak ada kaitannya dengan TKA. Video demo karyawan PT IMIP di Morowali ditujukan ke manajemen mengenai upah minimum sektoral kabupaten/kota (UMSK). Saat ini, pembahasan UMSK tersebut sedang dilakukan.

“Tidak ada hubungannya dengan TKA. Demo karyawan PT IMIP di Morowali adalah antara karyawan vs manajemen mengenai UMSK (Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota),” tulisnya.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya