Connect with us

TGB Kritik Prabowo yang Kerap Ngomong Kasar di Depan Publik

Prabowo Cenderung Emosional, TGB, hitung cepat, strategi kegaduhan, paranoid,prabowo, pilpres 2014, data center, keras kepala, prabowo harus jujur, demokrat
Gaya kampanye Prabowo yang kasar dan emosional.(Istimewa)

Jakarta – Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi mengkritik kelakuan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto saat berkampanye. Capres itu kerap mengungkapkan kata-kata kasar, salah satunya “bajingan”.

“Kewajiban kita semua untuk menghadirkan kata-kata baik di ruang publik. Dan kewajiban itu lebih kuat lagi bagi para tokoh yang menjadi panutan dan diyakini sebagai pemimpin,” ujar TGB di Rumah Cemara, Jakarta, Rabu (10/4).

Mantan politikus Partai Demokrat yang kini menjadi kader Partai Golkar itu menyayangkan kelakuan Prabowo. Sebab, seorang pemimpin harus berkata baik, apalagi budaya Indonesia masih kental dengan konsep patronase. Dikhawatirkan, masyarakat akan meniru kelakuan dan perbuatan pemimpinnya itu.

“Jadi kita harus berhati-hati dan memastikan untuk jangan mengotori ruang publik lagi dengan ucapan-ucapan yang tidak baik,” ujarnya.

Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat tersebut mengingatkan bahwa adab kesopanan merupakan karakter masyarakat dan budaya Nusantara. Dengan sopan bukan berarti tidak tegas. Tegas tidak melulu diungkapkan dengan kata-kata kasar.

“Ketegasan bisa dengan penuh kesantunan, dengan diksi yang baik tidak menyebabkan masyarakat terprovokasi atau emosi,” ujar TGB.

Baca Juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

BNPB Laporkan Hingga Kini Ada 73 Orang Meninggal dan 27.850 Warga Mengungsi Akibat Gempa Majene

Oleh

Fakta News
Kapusdatinkom BNPB Raditya Jati

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) memperbarui jumlah korban meninggal dunia akibat gempa di Majene, Sulawesi Barat, Minggu (17/1/2021) sore. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan, saat ini total jumlah korban meninggal dunia akibat peristiwa tersebut mencapai 73 orang.

“Korban meninggal gempa bumi di Kabupaten Majene 9 orang, Kabupaten Mamuju 64 orang. Jadi total 73 orang meninggal dunia. Ini akan kami update lagi,” ujar Raditya dalam konferensi pers BNPB secara daring, Minggu.

Saat ini, dari informasi terakhir yang diterima BNPB terdapat 27.850 pengungsi korban gempa di wilayah tersebut.

Sementara itu, dari kondisi mutakhir di lokasi dilaporkan bahwa jalur darat dari arah Mamuju menuju Kabupaten Majene belum dapat dilalui karena jembatan kuning yang masih rusak. Selain itu, masih terdapat longsoran yang menutup jalan sehingga masih belum bisa dilalui.

Khusus di Kabupaten Mamuju, kata dia, terdapat 3 rumah sakit yang saat ini aktif untuk pelayanan kedaruratan. Ketiga rumah sakit itu adalah RS Bhayangkara, RS Regional Provinsi Sulawesi Barat, dan RSUD Kabupaten Mamuju.

“Pasien yang dirawat di rumah sakit terdampak untuk sementara dievakuasi di RS Lapangan,” kata dia.

Di lokasi juga diketahui saat ini stok alat perlindungan diri (APD) sudah menipis. Meskipun demikian klaster kesehatan untuk pelayanan kesehatan kepada pengungsi sudah aktif.

“Logistik memang menjadi tantangan. Tapi kami komunikasi dengan Provinsi Sulawesi Barat bahwa masih dalam proses dan kondusif. Jadi belum ada kendala yang disampaikan pemerintah daerah,” ucap dia.

Diketahui, Gempa di Majene terjadi pada Jumat (15/1/2021) bermagnitudo 6,2 dan meluluhlantakkan bangunan-bangunan di wilayah tersebut. Gempa juga berdampak ke Mamuju dan terasa hingga ke Makassar dan Palu.

Baca Selengkapnya

BERITA

Per 17 Januari Tercatat Ada 907.929 Kasus Covid-19 di Indonesia: 145.482 Kasus Aktif, 736.460 Sembuh, dan 25.987 Meninggal

Oleh

Fakta News

Jakarta – Pemerintah memperlihatkan bahwa penularan virus corona hingga saat ini, Minggu (17/1/2021), masih terjadi di masyarakat. Hal ini terlihat dengan masih bertambahnya kasus Covid-19, berdasarkan data yang masuk hingga Minggu pukul 12.00 WIB.

Data pemerintah memperlihatkan bahwa ada 11.287 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 907.929 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020.

Informasi ini diungkap Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melalui data yang diterima wartawan pada Minggu sore. Data juga bisa diakses publik melalui situs Covid19.go.id dan Kemkes.go.id, dengan update yang diberikan setiap sore.

Meskipun jumlah kasus terus bertambah, harapan muncul dengan semakin banyaknya pasien Covid-19 yang sembuh. Dalam sehari, diketahui ada penambahan 9.102 pasien Covid-19 yang sembuh dan dianggap tidak lagi terinfeksi virus corona. Sehingga saat ini total ada 736.460 pasien sembuh dari Covid-19.

Namun, kabar duka kembali muncul dengan bertambahnya pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Pada periode 16-17 Januari 2021, ada 220 pasien Covid-19 yang tutup usia. Sehingga, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 25.987 orang.

Dengan update data tersebut, kasus aktif Covid-19 di Indonesia kini ada 145.482 orang. Kasus aktif adalah jumlah pasien positif Covid-19 yang masih menjalani perawatan di rumah sakit atau isolasi mandiri. Selain kasus positif, diketahui ada 73.243 orang yang saat ini berstatus suspek terkait penularan virus corona.

Sebanyak 11.287 kasus baru Covid-19 diketahui setelah pemerintah melakukan pemeriksaan terhadap 46.138 spesimen dalam sehari. Pada periode 16-17 Januari 2021, ada 34.370 orang yang diambil sampelnya untuk menjalani pemeriksaan spesimen.

Total, pemerintah sudah memeriksa 8.315.839 spesimen dari 5.555.428 orang yang diambil sampelnya. Sebagai catatan, satu orang bisa menjalani pemeriksaan spesimen lebih dari satu kali.

Kasus Covid-19 saat ini sudah tercatat di semua provinsi di Indonesia dari Aceh hingga Papua. Secara lebih terperinci, ada 510 kabupaten/kota dari 34 provinsi yang mencatat pasien akibat terinfeksi virus corona. Artinya, sudah lebih dari 99 persen wilayah di Indonesia terdampak pandemi Covid-19.

Baca Selengkapnya

BERITA

PPATK Hingga Kini Telah Blokir 89 Rekening FPI dan Afiliasinya

Oleh

Fakta News
Kepala PPATK Dian Ediana Rae

Jakarta – Rekening Front Pembela Islam (FPI) dan afiliasinya masih dibekukan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Hingga hari ini, PPATK telah membekukan 89 rekening FPI.

“Ada 89 (rekening FPI dan afiliasinya yang dibekukan),” ujar Kepala PPATK Dian Ediana Rae, Minggu (17/1/2021).

Dian belum membeberkan apakah rekening FPI yang dibekukan ini adalah jumlah final atau tidak. Dia hanya mengatakan pemeriksaan rekening FPI ini masih dilakukan.

Namun sampai kapan pemeriksaan dilakukan, Dian mengatakan penelusuran masih dilakukan.

“Mudah-mudahan tidak lama lagi selesai (pemeriksaan rekening FPI),” lanjutnya.

Lalu, bagaimana hasil pemeriksaan sementara rekening FPI ini? Dian enggan membeberkannya. Dia hanya mengatakan hasil pemeriksaan PPATK ini akan diserahkan ke polisi.

“Hasil pemeriksaan tidak boleh kita info ke publik. Sesuai Undang-Undang akan kita serahkan (hasil pemeriksaan rekening FPI) ke aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian,” tandas dia.

Sebelumnya, PPATK telah memblokir 68 rekening milik FPI. PPATK menyebut proses pemblokiran itu belum final.

“Iya betul,” kata Dian Ediana Rae, saat dihubungi, Kamis (7/1). Dian menjawab pertanyaan saat dikonfirmasi terkait jumlah 68 rekening yang sudah diblokir.

Rekening yang dibekukan juga terkait FPI dan afiliasinya.

“Belum final (jumlah rekening yang dibekukan). (Ke-68 rekening yang dibekukan) itu atas nama organisasi dan individu-individu terafiliasi,” terangnya.

Baca Selengkapnya