Connect with us

Persoalkan Pancasila, Mendagri Minta Rizieq Perlu Belajar Lagi

Rizieq Shihab

Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan ideologi Pancasila prinsip yang sudah final. Dia meminta pihak-pihak yang masih menyoal Pancasila, termasuk Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab, perlu belajar lebih mengenai Pancasila.

“Ya Habib Rizieq sebagai ulama ya perlu belajar mengenai Pancasila. Secara prinsip, Pancasila, UUD 45, NKRI, Bhinneka Tinggal Ika itu sudah prinsip selesai. Sudah final,” kata Tjahjo di gedung Kemendagri, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat. Tjahjo menanggapi serangan Rizieq ke BPIP.

Tjahjo mengatakan masyarakat dalam berorganisasi, baik ormas maupun parpol, harus mengakui ideologi Pancasila. Menurut dia, jika masih ada yang mempertanyakan Pancasila, hal itu merupakan kemunduran.

“Siapa pun ormas, siapa pun partai politik, siapa pun warga negara yang berhak berserikat, berhimpun, berpartai, berormas, ya harus mengakui ideologi Pancasila. Ini perekat bangsa ini yang dibangun sudah 74 tahun ini. Jadi kalau sekarang masih dipertanyakan ya mundur lagi,” jelasnya.

Sebelumnya, Habib Rizieq menyoal dibentuknya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Menurut dia, BPIP tidak paham hakikat dan esensi Pancasila.

“Rezim yang tidak paham hakikat Pancasila ini telah membentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila yang disingkat BPIP. Dengan anggota yang juga tidak paham esensi Pancasila, tapi digaji lebih dari Rp 100 juga per bulan tiap anggotanya hanya untuk menonton dagelan pengkhianatan pergeseran Pancasila dari dasar negara menjadi pilar negara,” ujarnya lewat video dari Mekah yang disiarkan langsung dari akun YouTube Front TV, Sabtu (24/8).

Karena itu, lanjut Rizieq, dia meminta agar tidak ada yang menyalahkan jika BPIP dikritisi, bahkan diminta dibubarkan.

“Jangan salahkan orang saat ini menyebut bahwa BPIP adalah badan pengkhianat ideologi Pancasila sehingga harus dibubarkan. Karena bukan saja pemborosan uang negara tapi juga sangat berbahaya buat eksistensi Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” ucapnya. 

Baca Juga: 

 

Yuch

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

MUI Lakukan Standarisasi Dai untuk Satukan Visi dan Koordinasi Langkah Dakwah

Oleh

Fakta News
Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat, KH Cholil Nafis

Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) memulai kegiatan standardisasi dai atau sertifikasi dai. Visi dan koordinasi dakwah menjadi bahasan dalam kegiatan itu.

“Para dai yang sudah berkiprah di masyarakat diundang ke MUI untuk musyawarah dan tukar pikiran agar menyatukan visi dan koordinasi langkah dakwah. Merekalah yang akan direkomendasi oleh MUI sebagai dai,” kata Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat, KH Cholil Nafis, dalam keterangannya, Senin (18/11/2019).

Cholil mengatakan materi yang dibahas secara garis besar meliputi wawasan keislaman, wawasan kebangsaan, dan metode dakwah. Dia mengatakan juga dibahas Islam wasathiyah (moderat).

“Materi wawasan Islam wasathi (moderat) mengulas tentang paham Islam yang diajarkan Rasulullah SAW dan dijelaskan oleh para sahabatnya. Islam wasathi sebagai arus utama paham Islam Indonesia,” kata dia.

“Mengikuti akidah ahlussunnah wal-jamaah. Islam yang tidak ekstrem kanan juga tidak ekstrim kiri,” tambah Cholil.

Dia mengatakan wawasan kebangsaan dipaparkan tentang kesepakatan kebangsaan (al-ittafaqaat al-wathaniyah) bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sesuai ajaran Islam, sudah final, dan mengikat. Cinta Tanah Air adalah bagian dari iman sehingga membela negara adalah bagian dari implementasi beragama Islam.

“Metode dakwah yang disepakati adalah yang menguatkan keagamaan Islam sekaligus memperkokoh persatuan dalam bingkai NKRI. Permasalahan khilafiyah (beda pendapat) harus ditoleransi dan menghormati perbedaan. Namun masalah penyimpangan (inhiraf) penodaan agama harus diamputasi,” jelasnya.

Cholil mengatakan standardisasi dai dilakukan untuk menyatukan persepsi dan langkah dakwah dalam mengembangkan ajaran Islam. Dia mengatakan para dai sepakat untuk mengembangkan Islam untuk memperkuat kesatuan bangsa.

“Di akhir acara semua peserta dai bersepakat untuk mengembangkan dakwah Islam wasathi dan menjaga keutuhan NKRI,” tuturnya.

 

Ping

Baca Selengkapnya

BERITA

Tak Hanya di BUMN, Radikalisme Juga Sudah Masuk di Instansi Pemerintah

Oleh

Fakta News
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius

Jakarta – Kementerian BUMN ramai dibicarakan karena ada isu terpapar radikalisme. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius mengatakan bukan hanya BUMN, radikalisme juga sudah masuk ke hampir seluruh instansi.

“Sekarang gini, jangankan BUMN, semuanya ada kok, polisi aja ada kok polwan, saya ngomong sama Polri. Tapi tebal-tipis, sedikit-banyaknya kan masih beda-beda. Tapi sudah di mana saja. Artinya, tugas kitalah sekarang mereduksi itu,” ujar Suhardi di kantor Kemenko Polhukam, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (18/11/2019).

Suhardi tidak merinci pasti sejauh mana data yang dimiliki BNPT terkait paparan radikalisme di Kementerian BUMN. Namun, kata Suhardi, pihaknya pernah melakukan upaya pencegahan.

“Saya sudah memberikan ceramah permintaan Menteri BUMN yang lama 184 CEO-nya saya berikan masalah resonansi kebangsaan dan juga bahaya-bahaya dan pencegahannya,” katanya.

“Jadi ada treatment-treatment khusus ketika kita melihat ada anggota kita yang mungkin dalam tanda petik agak lain. Artinya, yang sekarang kita kerjakan bagaimana yang sudah ada dan bagaimana untuk rekrutmen ke depannya,” imbuh Suhardi.

Tidak hanya di Kementerian BUMN, menurut Suhardi, radikalisme juga berkembang di mana sana. Dia sudah memetakan sebaran paham tersebut di setiap instansi. Untuk itu, tinggal bagaimana upaya menguranginya.

“Semua kita punya petanya, semuanya jangan bilang tidak ada. Emang nggak ada jurnalis? Mau saya buka siapa yang suka besuk-besuk di tempat itu? Semuanya kita tugas kita mereduksi supaya menjadi aman kemudian punya wawasan kebangsaanlah jati diri,” katanya.

 

Yuch

Baca Selengkapnya

BERITA

Langgar Janji Kampanye, Anies Disebut Tak Konsisten Terkait Penggusuran di Sunter

Oleh

Fakta News
Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono

Jakarta – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono menyebut Gubernur Anies Baswedan tak konsisten. Gembong menyindir Anies terkait kasus penggusuran permukiman liar di atas saluran penghubung Kali Sunter, Jakarta Utara.

“Pak Anies hanya ingin mendapatkan simpati masyarakat. Makanya Pak Anies sampaikan program itu (tidak menggusur). Tapi kan akhirnya tidak konsisten, apa yang diucapkan tidak konsisten. Faktanya, hari ini Pak Anies melakukan penggusuran,” kata Gembong saat dikonfirmasi, Senin, 18 November 2019.

Gembong mengatakan penggusuran bisa dilakukan untuk menata wilayah ibu kota. Hanya saja, Gembong menyayangkan janji Anies tak akan menggusur saat kampanye Pilgub 2017.

Politikus PDI Perjuangan itu menyebut tindakan Anies tak sesuai dengan janji manis yang diumbar dulu. Wilayah Sunter, Jakarta Utara, merupakan lumbung suara Anies yang saat itu berpasangan dengan Sandiaga Uno.

“Cuma itu persoalanya. Yang sekarang harus jadi catatan Pak Anies. warga yang tergusur mendapat tempat layak huni. itu yang harus dipikirkan,” ucap Gembong.

Sebelumnya beredar rekaman video penggusuran berujung kericuhan di Sunter pada Kamis, 14 November 2019. Penertiban bangunan liar yang dilakukan personel gabungan Kepolisian, Satpol PP, dan PPSU itu ditolak pemilik bangunan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengklaim penggusuran di Jalan Sunter Agung Perkasa VIII, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, telah disosialisasikan sebelumnya. Proses pembongkaran rumah juga melibatkan warga sekitar.

“Sesuai sudah dikomunikasikan lebih dari dua bulan (lalu) dan itu sepengetahuan mereka,” kata Wali Kota Jakarta Utara Sigit Widjatmoko di Balai Kota DKI Jakarta, Senin, 18 November 2019.

 

Adn

Baca Selengkapnya