Kesehatan Di Masa Depan, Dokter Kita Mungkin Bukan Manusia

  • Fakta.News - 12 Apr 2018 | 17:56 WIB
Di Masa Depan, Dokter Kita Mungkin Bukan Manusia

JIKA Anda seorang penggila film fiksi sains, tak akan asing melihat pengobatan masa depan tidak lagi ditangani oleh manusia sepenuhnya. Pasti Anda kerap mendapati adegan tokoh dalam film hanya tidur dalam kasur berbentuk kapsul, lalu kapsul itu bisa mendeteksi kesehatan sang tokoh.

Teknologi demikian memang dianggap terlalu jauh. Fiksi. Namun, bukan tidak mungkin kan bila dokter di masa depan kita tidak lagi manusia.

Beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan memungkinkan manusia mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence /AI). Bisa dibilang AI ini serupa otak manusia, namun bukan otak manusia sepenuhnya. AI ini diciptakan melalui kode-kode algoritme untuk disesuaikan dengan fungsi dan tugas utama AI.

Di media sosial, misalnya, AI digunakan untuk mengolah news feeds yang ada di laman medsos pengguna. Jadi, AI—melalui kode-kode algoritme tertentu—akan menyediakan semua informasi atau yang berkaitan dengan si empunya akun.

Di bidang jurnalistik, start up asal Amerika Knowhere sudah merancang AI untuk memilah berita dan menciptakan berita imparsial atau tidak bias. Sungguh luar biasa bukan?

(Baca juga: Teknologi Kecerdasan Buatan Bisa Tangkal Berita Bias)

AI Kedokteran Tinggal Tunggu Waktu

Kembali ke soal dunia kedokteran. Meski baru awal, perkembangan AI di bidang kedokteran saat ini sudah bisa membantu dokter dalam mendiagnosis pasien.

Merangkum dari Futurism, beberapa riset terpisah telah dilakukan untuk menyempurnakan dokter robot bagi umat manusia di masa depan. Periset di Rumah Sakit John Radcliffe, Oxford, Inggris, telah mengembangkan AI yang bisa mendeteksi penyakit jantung. Bahkan, lebih baik ketimbang manusia, atau 80% lebih akurat.

Di Universitas Harvard, para peneliti menciptakan “smart” mikroskop yang bisa mendeteksi infeksi pada darah. Alat yang dilengkapi oleh sistem AI itu dilatih dengan 100.000 gambar dari 25.000 salindia sehingga AI bisa dengan mudah mendeteksi bakteri. AI ini punya akurasi 95% dalam mendeteksi infeksi bakteri.

Di Jepang, tepatnya di Universitas Showa, para ilmuwan berhasil mengembangkan alat yang bisa mendeteksi sel kanker di usus. Alat ini juga dilengkapi oleh kecerdasan buatan. Alat ini terbukti 86% akurat.

Lebih mencengangkan lagi, AI juga bisa lebih cepat mendeteksi suatu penyakit ketimbang manusia. Studi yang dipublikasikan di JAMA Desember tahun lalu membuktikan bahwa sistem algoritme ini bisa mendeteksi lebih cepat kanker payudara ketimbang ahli radiologi.

Keberadaan AI ini akan mempercepat proses penanganan pasien. Sebab, beberapa kasus penyakit, kecepatan diagnosis menentukan apakah penyakit bisa disembuhkan atau tidak.

Itu baru di tataran AI kedokteran yang digunakan untuk membantu diagnosis pasien. Di bidang bedah medis, para ilmuwan juga tengah membuat mesin robot yang bisa digunakan untuk mengoperasi pasien.

Pada 2010, proyek ambisius ini dimulai di Montreal, Kanada. Lima tahun berikutnya, ilmuwan MIT mengembangkan robot bedah. Memang hasilnya belum sempurna, masih banyak yang harus disempurnakan.

Ya, bukan tidak mungkin, lima sampai sepuluh tahun mendatang, AI kedokteran benar-benar sudah diterapkan secara massal. Artinya, penanganan pasien akan lebih cepat dan tepat sehingga angka kematian akibat penyakit bisa ditekan.

BACA JUGA:

Tulis Komentar