Connect with us
Gadget

Tak Mau Kalah, Microsoft Akan Luncurkan Smartphone Lipat di Tahun 2019

smartphone lipat
Smartphone Lipat Microsoft.(Foto: Istimewa)

Jakarta – Baru-baru ini sebuah buku berjudul “Beneath a Surface” mengungkapkan rencana Microsoft untuk merilis smartphone lipatnya bernama Andromeda. Menurut buku itu, smartphone lipat Microsoft akan dirilis pada tahun 2019 mendatang.

Dikutip dari BGR, Senin (3/12), buku tersebut berisi seputar kisah Surface termasuk rencana Microsoft ke depannya. Salah satu yang mencuri perhatian adalah perangkat bernama Andromeda.

Perangkat ini disebut-sebut akan menjadi suskesor Windows Phone. Dari infomasi yang dihimpun, perangkat ini memiliki dua bentuk, yakni smartphone atau tablet, yang dapat diubah dengan cara dilipat.

Kabarnya perangkat tidak harus bergantung pada OS Windows Phone lama, tapi bisa juga dengan pengalaman Windows yang lengkap.

Buku lebih lanjut menyebutkan, raksasa komputasi itu juga dapat mengerjakan beberapa produk lain termasuk konsol Xbox One baru, laptop Surface, mendesain ulang Surface Studio.

Tak hanya itu, ada pula laptop Surface yang akan memakai chip AMD ketimbang Intel, termasuk salah satunya adalah penantang Apple iPad Pro, yakni sebuah Surface Pro bergaya bezeless yang akan diperkenalkan pada akhir tahun depan.

Baca Juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

TEKNOLOGI

Jika Perang Nuklir Terjadi, Lakukan Cara Ini untuk Bertahan Hidup

Oleh

Fakta News
nuklir
Ilustrasi.

Jakarta – Belakangan ini, kita disuguhkan berita perang urat syaraf dan saling bertukar ancaman antara Amerika Serikat dengan Korea Utara. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena kedua negara bersiap menggunakan nuklir sebagai senjata, dan sejauh ini sama sekali tidak menunjukkan akan mereda.

Jika perang nuklir benar-benar terjadi, yang mungkin pertama kali selamat tentu saja adalah orang-orang superkaya seperti pemilik perusahaan investasi yang membeli atau membangun bunker perlindungan sejak jauh-jauh hari.

Lalu bagaimana dengan kita orang biasa, yang tak mampu mengusahakan sebuah bunker perlindungan yang aman? Apakah dunia akan kiamat ketika perang nuklir terjadi? Apa yang sebaiknya kita lakukan ketika hal tersebut terjadi? Berikut di antaranya.

1. Mengungsi ke tempat terbaik

Belajar dari perang-perang yang terjadi sebelumnya, hindari beberapa tempat strategis seperti pangkalan militer, pusat-pusat kekuasaan dan politik, fasilitas industri strategis, dan tempat-tempat keramaian lainnya. Oleh karena itu, pergilah menuju daerah seperti pedesaan yang tidak menjadi area strategis. Berlindung sebaik mungkin.

Namun sebelum Anda berhasil menuju tempat tersebut, pertimbangkan juga cara yang akan digunakan menuju tempat tersebut. Bila memungkinkan menggunakan kendaraan, pastikan Anda memiliki pasokan bahan bakar yang cukup. Atau pertimbangkan juga jalur yang Anda pilih, untuk menghindari kepadatan lalu-lintas yang terjadi.

2. Buat ruangan khusus

Bila tidak memungkinkan untuk pergi ke tempat yang jauh, yang aman dari serangan, cara terbaik hanyalah dengan berlindung sebaik mungkin di dalam rumah. Caranya adalah dengan mempersiapkan ruangan perlindungan.

Ruangan dengan dinding tebal di dalam tanah mungkin menjadi pilihan yang paling tepat. Namun sistem sirkulasi udara lah yang juga harus diperhatikan dengan lebih baik, mengingat udara bisa saja terkontaminasi radiasi. Menurut beberapa laporan, dampak paling kuat atas radiasi nuklir adalah 48 jam setelah ledakan.

Walaupun ketika sebuah rudal nuklir jatuh di atasnya, sebuah bunker juga mungkin tidak dapat bertahan dengan baik. Namun bukan berarti cara ini tidak baik untuk dilakukan. Bagaimana pun juga berbagai peluang tetap baik untuk dilakukan.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

TEKNOLOGI

Cara Mengecilkan Ukuran Foto Tanpa Mengurangi Kualitas, Terbukti!

Oleh

Fakta News
foto
Ilustrasi.

Jakarta – Tentunya, Anda akan sedikit jengkel apabila mengakses sebuah website yang penuh gambar dan harus menunggu proses loading yang sangat lama. Selain karena masalah scriptnya, besaran foto juga menjadi salah satu penyebab lamanya proses loading tersebut.

Untuk itu, ketika Anda ingin membuat sebuah website namun tidak ingin mempersulit orang lain ketika mengaksesnya karena gambar yang Anda unggah terlalu besar, pastinya Anda akan mengatur ulang resolusi dan besaran gambar tersebut terlebih dahulu.

Sayangnya, apabila sebuah gambar sudah diatur ulang besarannya atau istilahnya resize, maka otomatis kualitasnya juga menurun. Untuk itu dilansir dari Tech Viral, Kamis (21/3/2019), berikut beberapa situs  yang dapat membantu Anda untuk resize gambar tanpa mengurangi kualitasnya.

1. Situs compressjpeg.com

Di sini kamu dapat men-drag langsung gambar yang akan diresize dan gambar akan secara otomatis diproses. Kamu juga dapat melihat preview dari gambar dan dapat mengubah ukuran dan kualitas foto sesuai yang kamu inginkan.

Situs ini juga dapat meresize gambar dalam format PNG serta dokumen PDF juga, lho.

2. Situs Kraken.io

Situs ini memungkinkan kamu untuk me-resize beberapa gambar sekaligus secara cepat. Kraken adalah aplikasi online yang dapat dengan mudah mengubah ukuran beberapa format gambar seperti JPEG, PNG, GIF, SIV dll tanpa mengubah kualitas gambar.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

BERITA

Per Maret, Kominfo Identifikasi 200 Hoaks Terkait Politik

Oleh

Fakta News
200 hoaks
Ilustrasi.

Jakarta – Jelang sebulan Pilpres 2019, Kementerian Kominfo menemukan sebanyak 200 hoaks pada periode 1 maret sampai dengan 20 maret 2019, yang di antaranya terkait isu politik. Kominfo perkirakan peredaran hoaks bisa meningkat 33,3 persen dari bulan Februari.

“Kalau bulan Februari itu 300 ada hoaks. Sementara sampai pada 20 Maret ini sudah lebih dari 200 hoaks. Akhir bulan bisa tembus 400 hoaks,” kata Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kemkominfo Ferdinandus Setu di Kantor Kemkominfo, Jakarta Pusat, Rabu (20/3) seperti dikutip CNNIndonesia.com.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Aplikasi dan Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan, tren hoaks akan menyebarkan berita yang sudah disebarkan sebelumnya dan terbukti hoaks.

“Kalau saya lihat makin banyak tapi recycle. Kebanyakan recycle yang sudah pernah ada,” kata dia.

Namun demikian, Semuel mencermati hoaks baru juga bermunculan. Kominfo berusaha mengedukasi masyarakat untuk menghindari hoaks. Semuel menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan beberapa pihak seperti platform internet dan KPU.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya