Dita Indah Sari Tokoh Perjuangan Buruh dan HAM Indonesia

  • Fakta.News - 31 Jan 2018 | 15:14 WIB
Tokoh Perjuangan Buruh dan HAM Indonesia
Dita Indah SariDok. Pribadi

Sebagai tokoh yang dikenal sangat memperjuangkan demokrasi dan HAM di Indonesia, Dita Indah Sari pernah merasakan pahitnya kehidupan. Ia pernah berada di balik jeruji besi saat Presiden Soeharto terguling.

Namun orang mengenalnya sebagai sosok yang pernah menjadi bagian dari perjuangan panjang para aktivis dalam meruntuhkan rezim otoriter Orde Baru. Perjalanan pembela hak buruh dan hak asasi manusia lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu memang sempat jauh dari nyaman.

Ya, perempuan asli Medan, yang terlahir dari pasangan Adjidar Ascha dan Magdalena Willy F Firnandus pada 30 Desember 1972 ini memang punya cerita itu. Namun ia tak menutupinya. Justru kisahnya di hotel prodeo di Lapas Wanita Kelas I Medaeng, Sidoarjo, membuatnya kian kuat dan tegar dalam memperjuangkan yang benar.

Perjalanan pendidikannya, Dita Indah Sari awali di Medan dan mulai menapaki ibu kota Jakarta saat masuk SMA. Kemudian ia melanjutkan pendidikan perguruan tinggi dengan mengambil jurusan hukum di UI. Bidang ini menurutnya membuatnya mengenal dan mempelajari lebih dalam mengenai demokrasi dan keadilan sosial.

Aktif di kampus dan mendirikan Forum Belajar Bebas, membuat namanya kian dikenal. Di dalam kelompok tersebut, ia dan teman-temannya mempelajari dengan cara berdiskusi secara progresif mengenai persoalan demokrasi dan keadilan sosial.

Lalu dari kelompok studi itu, ia mulai memiliki konsen kasus untuk diperjuangkan, yakni permasalahan buruh.

Singkat cerita, Dita Indah Sari lalu menjadi sosok organisator buruh di wilayah Tangerang, Bogor, dan Pluit sejak tahun 1993. Pada Tahun 1994, ia bersama teman-teman seperjuangannya mendirikan Partai Rakyat Demokratik. Pada era itu, ia mengaku tak takut untuk memobilisasi kaum buruh untuk berdemo meminta kenaikan upah dan kehidupan layak.

Kemudian pada bulan Juli tahun 1996, ia ditangkap ketika sedang memimpin demonstrasi di Tandes, Surabaya. Dirinya didakwa hukuman delapan tahun penjara karena dituding melakukan makar. Dita pun sempat mendekam di Lapas Wanita Malang dan Lapas Wanita Tangerang pada periode tahun 1997-1998.

Barulah setelah Soeharto lengser, ia bebas. Dita Indah Sari memperoleh amnesti dari Presiden Habibie pada tahun 1999. Berkat semangatnya dalam memperjuangkan kaum buruh, Dita memperoleh banyak penghargaan, di antaranya Ramon Magsaysay Award tahun 2001 dan Reebok Human Rights Award tahun 2002. Namun pernghargaan dari Reebok itu ia tampik karena Reebok merupakan salah satu perusahaan sepatu besar di dunia yang tidak berpihak kepada kesejahteraan kaum buruh.

Belum lama ini, Dita Indah Sari kembali muncul setelah cukup lama tak terdengar. Ia terlihat berada dalam rombongan yang dibawa Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar, saat membawakan kuliah umum di depan sivitas akademika Universitas Negeri Makassar (UNM), November lalu. Saat itu, Cak Imin, sapaan Muhaimin, menyampaikan materi bertema “Membumikan Semangat Kebhinekaan dalam Memperkokoh Keutuhan NKRI”.

Novianto

BACA JUGA:

Tulis Komentar