Susi Sukaesih Pemutus Rantai Kemiskinan Anak-anak Bekasi

  • Fakta.News - 8 Okt 2018 | 10:57 WIB
Pemutus Rantai Kemiskinan Anak-anak Bekasi
Susi Sukaesih

Meski tak ada rumus pasti, namun pendidikan dinilai bisa memutus rantai kemiskinan. Setidaknya, hal itulah yang diyakini Susi Sukaesih saat mendirikan lembaga pendidikan untuk anak-anak yang putus sekolah.

Menurutnya, sekolah bisa kembali merajut mimpi dan masa depan mereka yang sempat putus pendidikan.

Susi adalah pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ginus Itaco di Bekasi, Jawa Barat. Awalnya sekolahnya itu merupakan SMK Itaco yang menginduk pada SMK lain.

Itaco merupakan kepanjangan dari Imperial Technology Automotive and Accounting College. Ada tiga jurusan utama di sana, yakni teknologi terapan, otomotif, dan akuntansi.

Baca Juga:

Alasan Susi mendirikan sekolah tersebut karena pengalamannya sendiri. Pernah suatu ketika anak didiknya di SMK Iptek Jakarta, putus sekolah. Susi mengaku terkejut menerima kenyataan itu.

Yang membuatnya tersentak, anak didiknya keluar karena diminta orangtuanya untuk bekerja demi membantu keluarga. Ia pun sadar banyak yang mengalami seperti anak didiknya itu.

Sejak saat itu, ia mulai membulatkan tekad. Susi lantas memutuskan mengundurkan diri sebagai pengajar di SMK Iptek.

Ia mencoba merintis sekolah sendiri untuk menampung anak-anak dari keluarga miskin. Saat itulah lahir SMK Itaco.

Namun semua tak semudah yang dibayangkan. Untuk merintis sekolah tersebut, Susi meminjam uang dari beberapa kolega agar dapat membeli perlengkapan sekolah seperti meja kursi dan tiga unit komputer.

Susi lalu berkeliling ke kampung-kampung dan permukiman kumuh untuk mencari anak-anak putus sekolah.

Karena merintis sekolah setara SMK, anak-anak yang dikumpulkan Susi adalah mereka yang putus sekolah pada tingkat SMA atau sederajat.

Susi menyeleksi mereka dengan melihat latar belakang ekonomi keluarga dan keinginan kuat untuk kembali melanjutkan pendidikan.

Perlahan sejumlah siswa ia dapatkan. Mereka adalah anak-anak yang orantuanya buruh bangunan, pembantu rumah tangga, pedagang asongan, tukang ojek, dan yatim piatu.

Tak terasa, sudah 25 anak putus sekolah yang berhasil ia kumpulkan. Semuanya di Kota Bekasi.

Jebolan Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada ini kemudian bergerilya mencari orang tua asuh yang mau membiayai anak-anak itu kembali bersekolah. Susi mengajukan proposal disertai profil masing-masing anak yang memang berasal dari keluarga miskin.

“Awalnya, kami mencari orang tua asuh yang berasal dari kalangan teman dekat sendiri. Mereka mau memberikan sebagian penghasilan untuk membantu siswa kembali sekolah,” kata Susi mengisahkan perjuangannya.

Susi lalu mengganti nama SMK Itaco menjadi PKBM Ginus Itaco yang berbasis sekolah nonformal pada 2016. Anak putus sekolah yang diterima pun lebih beragam mulai dari siswa setara SMP hingga SMA yang nantinya diarahkan untuk mengikuti ujian kejar paket B dan kejar paket C.

Saat semua terasa sudah berjalan sesuai rencana, praktiknya tidak demikian. Siswa-siswanya kerap tidak datang sekolah.

Kata Susi, mereka tak punya ongkos. Jadi meski mereka tak bayar uang sekolah, namun tetap saja untuk kesehariannya mereka tak dapat uang. Walhasil banyak yang kemudian kembali ke jalan.

  • Halaman :
  • 1
  • 2
  • 3

BACA JUGA:

Tulis Komentar