Anita Dona Asri Membawa Songket Silungkang ke Pasar Dunia

  • Fakta.News - 2 Nov 2018 | 15:45 WIB
Membawa Songket Silungkang ke Pasar Dunia
Anita Dona Asri, Penenun Internasional Asal SawahluntoFoto: Facebook EU Switch Asia Progrrame

Kata siapa menenun hanya dilakukan perempuan lanjut usia untuk mengisi waktu luang? Anita Dona Asri alias Dona tentu keberatan dengan anggapan itu. Bahkan Songket Silungkang berhasil ia bawa hingga mancanegara.

Dona memang tak setengah-tengah terjun ke dunia menenun. Dengan pewarna alam spesifik, ia meningkatkan nilai jual dari songket.

Produksinya memang tidak banyak. Tapi justru itu yang membuatnya menjadi lebih eksklusif.

Perempuan asal Desa Lunto Timur, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat ini jadi sorotan banyak orang. Pasalnya, perjuangan Dona tak mudah. Apalagi banyak yang memandang bahwa hasil tenunan anak muda kalah dengan yang senior-senior.

Baca Juga:

Dona lahir pada 13 Mei 1986. Di usianya yang sekarang, Dona membuktikan bahwa perempuan muda juga bisa menenun bahkan dengan karya yang tak kalah apik.

Malah ia menunjukkan bahwa pertenunan memang harus diwarisi kepada yang muda-muda. Dengan begitu, hasil karya Tanah Air bisa melenggang ke panggung internasional. Salah satunya ya songket silungkang ini.

Dona belajar menenun sejak kelas 3 SD dari orang tuanya. Ia putri dari pasangan Syamsamir Rajo Alam dan Nuryati. Sejak kecil pula ia terus mengembangkan kemampuannya secara otodidak.

Malahan begitu Dona menempuh studi di Universitas Negeri Padang, ia tetap menenun. Bahkan hasil karyanya bisa untuk membiayai kuliahnya secara mandiri hingga lulus.

Saat menjadi mahasiswa, Dona membawa satu set panta atau alat tenun bukan mesin ke rumah kos. Jika ada waktu luang, jemarinya langsung menenun dengan target sehelai songket per pekan untuk dijual.

Begitu lulus dari Jurusan Bimbingan Konseling itu, ia pun kembali meneruskan hobinya itu. Dona pun sekaligus menampik bahwa selepas kuliah berarti harus lanjut ke dunia perkantoran.

BACA JUGA:

Tulis Komentar