Connect with us
Agung Trisnawanto

Jadi Milyarder dari Menangkar Burung

Agung Trisnawanto dan burung serta tempat penangkarannya(foto: KR Yogyakarta)

 

Bantul – Dengan penampilannya yang lugu dan sederhana, orang yang belum mengenal pria berusia 34 tahun kelahiran Bantul, Yogyakarta, pasti akan menganggapnya orang biasa-biasa saja yang hanya hobi burung berkicau. Padahal, Agung Trisnawanto penghasilan dari hobinya memelihara burung berkicau, kini mencapai Rp 20 miliar per bulan.

Tak heran, bila diseputar dan sudut-sudut rumah Agung yang besar bergaya arsitektur campuran Jawa dan Bali nan megah,  di lereng bukit tandus yang banyak ditanami pohon jati itu, kicau burung bersahut-sahutan. Paling tidak, ada ratusan sangkar burung yang digantung di sekitar rumah milik Agung.

Hobinya, juga membuat orang sekitar rumahnya kecipratan rejekinya. Dari tangan dan pemikirannya, banyak warga di sekitarnya yang menuai jutaan rupiah dari bisnis burung ocehan seperti cucak rowo, murai batu, love bird, puter, dan perkutut. “Kini, perputaran uang di empat dusun seperti Karangasem, Karangtalun, Jatirejo, Dengkeng, sudah mencapai hampir Rp 20 miliar per bulan dari bisnis jualan burung ini. Warga pun tidak ada yang menganggur dan terjerat pergaulan yang tidak sehat,” kata Agung kepada Tribun Jogja, Mei 2016 silam.

Menjadi Pedagang Burung Keliling

Jauh sebelum ikut mempelopori dusunnya menjadi salah satu kampung wisata penangkar burung dengan nama Wukirsari Bird Farm Indonesia, Agung sebelumnya berjuang melawan kerasnya jalanan. Bisnis burung yang dijalani pria yang tidak tamat SMP ini, berawal dari menjadi penjual burung keliling. Hal itu dilakukannya pada tahun 1998 silam.

Agung yang memang memiliki ketertarikan dalam bisnis burung kemudian merantau ke Madiun, Jawa Timur. Selama hampir tiga bulan dia berjualan dengan cara memikul banyak sangkar burung. Jualan yang dilakukan Agung terus berpindah-pindah. Dia mengaku, kulakan burung-burung dagangannya dari wilayah Yogyakara, Solo, Surabaya, Jakarta, dan lainnya. Beberapa didapatkannya dari wilayah Imogiri, tempat asalnya.

Jiwa bisnis yang terus menggelora, memaksa Agung untuk merantau di tempat yang lebih menantang. Bali, salah satu tempat berlabuhnya untuk membuktikan bahwa perantau bisa menaklukkan kerasnya dunia. “Selama hampir satu tahun saya berada di Bali. Saya jualan di pinggir jalan, bahkan pernah ditegur yang punya tanah. Akhirnya saya disuruh mengontrak. Akhirnya, saya buat gubuk dari bambu, jualan burung dan pakan,” katanya.

Dari usaha berjualan burung keliling itu, keping demi keping rupiah pun dikumpulkan oleh Agung hingga akhirnya dia bisa memiliki modal untuk membangun kios di Kota Gianyar. Sejak itu, bisnis burung miliknya pun terus berkembang, peminat dan pasar burung semakin bagus, hingga akhirnya dia membuka lagi di Teges Kangin, Ubud.

Dari yang asalnya berjualan keliling, sejak melebarkan sayap usahanya ke Bali, Agung berhasil memiliki tiga kios burung, di antaranya; di pasar burung Gianyar dan di Belah Batu dengan nama Usaha Dagang (UD) Maju Lancar.

Menularkan ke Warga

Agung tak ingin berlama- lama di Bali. Begitu tiga kiosnya berjalan dan pengiriman bisa dilakukan dengan cara yang mudah dan modern, dia kembali ke Imogiri. Dia ingin mempraktekkan hasil belajar menangkarkan burung dari Malang dan Solo. “Awalnya saya menangkarkan kenari, saat itu, pangsa pasar burung ini cukup baik. Mulai dari tahun 2006, kemudian saya menangkarkan burung puter, perkutut dan parkit. Hasilnya, luar biasa dan sejak itu saya mulai menangkarkan burung dan bukan hanya menjadi penjual saja,” kata Agung.

Kini di rumah Agung, beragam jenis burung ditangkarkan dalam kandang-kandang buatan. Ada pula jenis cucak rowo yang sepasangnya bisa tembus Rp 25 juta dan murai batu yang bisa menembus angka jutaan rupiah. Bahkan, ada jenis lovebird yang bisa tembus Rp 1 juta per ekor.

Ilmu yang dimiliki Agung pun, tidak dipakainya sendiri. Warga di sekitarnya akhirnya mulai belajar dan menangkarkan burung mandiri. Bahkan, Agung juga yang mempelopori sistem gaduh atau bagi hasil menangkarkan burung. Sistem ini diminati warga dengan modal saling percaya dan membangun usaha bersama.

Saat mengajari warganya menangkarkan burung, Ketua Wukirsari Bird Farm Indonesia ini tak pernah sedikitpun takut jika bisnisnya disaingi oleh warga lain. Justru sebaliknya, dengan menangkarkan secara komunal, maka hasil yang didapatkan juga bagus. “Saat ini, saya bisa memenuhi beragam permintaan dari wilayah Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan. Dengan banyaknya yang menangkarkan, maka justru membantu pemenuhan kebutuhan pasar,” ungkap ayah satu anak ini.

Ketekunan dan mau mepelajari suatu yang digelutinya, tentu akan berbuah manis seiring jalannya waktu.

M Riz

Sumber : Kompas.com

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Tan Malaka, Sosok Sunyi Di Balik Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945

Oleh

Fakta News
Tan Malaka

Jakarta – Kala itu Juli 1945, Sutan Sjahrir mencari Tan Malaka karena dianggap sebagai tokoh yang paling layak membacakan teks proklamasi. Meskipun dikenal juga sebagai tokoh gerakan bawah tanah menentang Jepang, Sjahrir bukanlah sosok yang pantas, karena dia dianggap kurang begitu populer di kalangan masyarakat. Sedangkan Soekarno-Hatta adalah kolaborator Jepang.

Rudolf Mrazek dalam bukunya, Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, menceritakan bahwa berbagai upaya telah dilakukan Sjahrir untuk mencari Tan yang 20 tahun  berada dalam pelarian.

Setelah beberapa kali mencari, Sjahrir akhirnya berhasil bertemu dengan Tan. Tapi upaya Sjahrir gagal, Tan merasa tidak siap untuk membacakan teks proklamasi. Sebenarnya sangat disayangkan, ketika proklamasi dikumandangkan, tidak ada sosok Tan Malaka di sana. Apalagi mengingat bahwa konseptor pertama Republik Indonesia adalah Tan, ini tertuang dalam salah satu opus magnum-nya, Naar de Republiek Indonesia, yang ia susun tahun 1925 saat masih di Belanda. Buku itu selanjutnya menjadi pegangan wajib tokoh-tokoh pergerakan nasional waktu itu, termasuk juga Soekarno.

Tidak bisa hadir saat proklamasi bisa jadi menjadi penyesalan terbesar bagi tokoh sekaliber Tan Malaka. Meski demikian, bukan berarti dia tidak mempunyai peran penting. Beberapa literatur mengatakan, bahwa tokoh yang menggerakkan Sukarni dan rekan-rekannya, adalah Tan Malaka.

Waktu itu, 6 Agustus 1945, Tan datang ke rumah Sukarni menggunakan nama Ilyas Husain. Beberapa tokoh pemuda juga datang. Tak hanya sekali, 14 Agustus, untuk kali kedua Tan datang ke rumah Sukarni, lagi-lagi membicarakan masalah nasib bangsa. Meski demikian, Tan Malaka tidak bisa seenaknya keluar menampakkan diri, karena dia masih dalam status buron pemerintah militer Jepang.

Sekira tiga minggu selepas proklamasi, Sukarno menyuruh Sayuti Melik mencari Tan Malaka. Soekarno ingin bertemu karena ia mendengar bahwa Tan tengah berada di Jakarta. Sebagai bagian dari golongan muda, Sayuti cukup tahu di mana Tan berada. Pertemuan pun diatur sedemikian rupa.

Dalam kesaksiannya yang pernah dimuat di Sinar Harapan 1976, Sayuti mengatakan bahwa Sukarno berpesan kepada Tan untuk mengganti posisi Soekarno jika ada sesuatu terjadi dengan dirinya dan Hatta.

Amanah Sukarno ditanggapi dengan biasa oleh Tan. Itu tertulis dalam memoarnya, Dari Penjara ke Penjara, Tan mengatakan, “saya sudah cukup senang bertemu Presiden Republik Indonesia, republik yang sudah lama saya idamkan.”

Kemerdekaan tidak menjadikan hidup Tan merdeka, ia tetap menjadi tokoh yang dikejar-kejar, bahkan oleh negara yang dicita-citakannya sendiri.

1949 Tan meninggal di ujung bedil tentara republik di seputaran Kediri, Jawa Timur.

Dan sampai mati, Tan tetaplah Bapak Revolusi yang sunyi.

 

Munir

Baca Selengkapnya

GAYA HIDUP

Masih Berusia 21 Tahun, Traveler Termuda Ini Telah Kunjungi 196 Negara

Oleh

Fakta News
Lexie Alford

Jakarta – Akhir Mei lalu menjadi hari bersejarah bagi Lexie Alford. Gadis asal California, Amerika Serikat itu melengkapi total destinasi 196 negara, saat berkunjung ke Korea Utara, 31 Mei 2019.

Seperti diberitakan Fox News, Lexie menorehkan namanya di Guinness World Record sebagai manusia termuda yang telah keliling dunia di usia 21 tahun.

Perjalanan gadis asal Amerika Serikat ternyata dimulai sejak kecil. Orangtua Lexie diketahui mendirikan sebuah agen perjalanan sehingga membuat Lexie mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat eksotis seperti Kamboja, Swiss, dan Hawaii.

Kemudian pada usia 12 tahun dirinya memutuskan untuk mulai menabung agar bisa membiayai keinginannya mengunjungi semua negara berdaulat di Bumi.

Pada umur 18 tahun Lexie tercatat sudang mengunjungi 72 negara. Pada Oktober 2016, dirinya bergerak membuat rencana untuk mengunjungi 124 negara yang tersisa. Hal ini lantaran waktu yang dimilikinya untuk memecahkan rekor dunia tak banyak.

Lexie pun punya daftar negara favorit yang ternyata bukan menjadi favorit traveler. Di antara 196 negara, ternyata ada dua yang jadi favoritnya. Namun, kedua destinasi itu kerap kali dicap berbahaya dan rawan konflik. Hanya saja, beda lagi kalau menurut Lexie.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

BERITA

Gadis 11 Tahun Ini Punya IQ Lebih Tinggi dari Einstein dan Hawking

Oleh

Fakta News
Tara Sharifi
Tara Sharifi.

Jakarta – Gadis berusia 11 tahun, Tara Sharifi, tercatat sebagai memiliki IQ lebih tinggi dari ilmuwan fisika teoritis, Albert Einstein, dan ilmuwan cosmologist, Stephen Hawking.

Menurut Iran Front Page, salah seorang remaja berkebangsaan Iran yang tinggal di Inggris itu memperoleh skor 162 dalam uji IQ Cattell 3B di Mensa International (organisasi dunia bagi orang-orang yang memiliki IQ tinggi). Sedangkan skor untuk tes yang sama bagi Einstein dan Hawking hanya 160.

Atas hasil ini, Tara termasuk dalam satu persen orang yang berhasil meraih nilai tertinggi dalam sebuah tes IQ.

“Saya terkejut ketika mendapatkan hasilnya. Saya tak pernah berharap mendapatkan skor yang bagus saat mengikutinya,” ungkap Tara seperti dilansir Nextshark.

Ia menambahkan bahwa hal tersebut merupakan keputusannya untuk mengikuti tes itu. Dengan skor tersebut, gadis itu kini memenuhi syarat untuk keanggotaan Mensa yang dikenal sebagai sekelompok orang dengan IQ tertinggi.

Tara juga mengatakan bahwa ketika dewasa ia ingin lebih mendalami sesuatu yang berhubungan dengan matematika. Sementara sang ayah, mengaku bahwa ia terkejut dengan hasil itu tapi bangga dengan apa yang dicapai putrinya.

“Saya telah memberi tahu beberapa teman saya di sekolah dan mereka benar-benar terkesan. Ketika saya lebih tua, saya ingin melakukan sesuatu yang berkaitan dengan matematika.”

Baca Juga:

Baca Selengkapnya