Terorisme dan Nalar Bengkok Beragama

  • Fakta.News - 17 Mei 2018 | 10:03 WIB
Terorisme dan Nalar Bengkok Beragama
(Ilustrasi)

Jakarta – Aksi teror kembali mengguncang Indonesia. Tidak sampai sepekan paskatragedi Mako Brimob (10/5) yang menewaskan lima orang polisi, publik dikejutkan dengan rentetan bom tiga gereja di Surabaya (13/5). Belasan manusia meregang nyawa secara mengenaskan, sementara puluhan lainnya terluka. Sangat tragis, pelaku bom bunuh diri ini melibatkan satu keluarga. Suami, istri dan keempat putera-puterinya yang masih belia, berbagi tugas meledakkan bom di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia (GKI), dan Gereja Pantekosta.

Belum kering air mata duka, petang hari bom kembali meledak di Rusunawa Sidoarjo. Esok paginya, ledakan bom bunuh diri terjadi di Polrestabes Surabaya. Jawa Timur yang relatif aman dan kondusif berbalik mencekam. Tragedi ini seolah menjadi puncak dari beberapa aksi teror bom yang pernah terjadi di Indonesia, sekaligus menandai awal bulan suci Ramadhan dengan duka.

Kemudian, ramai-ramai kita mengamini pernyataan klise bahwa terorisme tidak bersumber dari agama mana pun. Agama senantiasa mengajarkan cinta kasih dan perdamaian. Tidak satu pun agama di dunia yang mengajarkan teror dan kekerasan. Terrorist has no religion. Benarkah?

Dalam memahami ini harus dibedakan antara prinsip agama yang berlaku secara umum dengan fakta yang terjadi di lapangan. Secara prinsip, agama tidak pernah sekali pun mengajarkan kekerasan, terlebih melegalkan aksi teror. Akan tetapi secara empirik, para pelaku bom bunuh diri tersebut nyata-nyata memeluk agama tertentu, bahkan tidak jarang mereka juga rajin beribadah. Tidak perlu ditutup-tutupi, karena mengaburkan identitas mereka justeru dapat menjadi bom waktu bagi kita sendiri.

Harus diakui, banyak di antara kita yang mendiamkan dan bahkan menyetujui aksi-aksi intoleransi agama. Kalaupun ada pihak lain yang memberi warning akan penyebaran virus radikalisme, kita justeru balik ngeyel bahwa itu semata dilakukan untuk menyudutkan agama tertentu. Di sisi lain, jika terdapat aksi-aksi terorisme, tidak jarang kita nyinyir sebagai pengalihan isu, rekayasa, maupun konspirasi yang bermotif politis. Di beberapa akun media sosial maupun grup WA yang saya ikuti, tidak sedikit teman yang beropini bahwa para bomber adalah kaum kafir yang mencitrakan diri sebagai muslim untuk merusak citra Islam.

Baca Juga: Dari Islam Muram dan Seram, Menuju Islam Cinta nan Ramah

BACA JUGA:

Tulis Komentar