Muhasabah Kebangsaan: Obral Surga dengan Teologi Kebencian

Al-Zastrouw Ngatawi
Ketua PP Lesbumi
  • Fakta.News - 17 Mei 2018 | 11:05 WIB
Muhasabah Kebangsaan: Obral Surga dengan Teologi Kebencian

Hari-hari ini kita melihat surga seolah-olah diobral, dijajakan dengan cara-cara yang tidak manusiawi dan miskin adab. Di tempat-tempat ibadah, di majlis taklim, di kampus-kampus, di lapangan bahkan di jalan-jalan surga ditawarkan dengan hasutan yang penuh kebencian dan kemarahan. Mulai dengan cara teriak di mimbar sampai bisik-bisik di balik dinding liqa’ dan kamar batin yang senyap.

Berbeda dengan para ulama dahulu yang menawarkan surga dengan cara santun, simpatik, penuh hikmah dan akhlakul karimah. Memandang ummat dan sesama manusia dengan tatapan mata penuh kasih (yandhuru ummah bil aini rahmah). Sehingga membuat wajah Islam menjadi sangat simpatik dan menarik. Pancaran keindahan surga bisa dirasakan siapa saja saat masih di dunia. Sebagaimana tercermin dalam kehidupan sosial yang damai, tentram, bahagia dan welas asih pada sesama.

Kini cara-cara menawarkan sorga dengan akhlakul karimah seperti itu sudah hampir hilang. Tak perlu lama-lama mengaji pada para kyai. Tak perlu menunggu ajal menjemput. Surga bisa dimonopoli dan diperoleh dengan jalan pintas melakukan bom bunuh diri. Kapling surga seolah bisa dibeli dengan semangat membenci. Semakin membenci dan menista kelompok yang berbeda, maka pintu surga akan semakin terbuka lebar dan terlihat nyata. Demi mendapat surga secara cepat dan instan mereka harus memandang manusia yang berbeda keyakinan dengan rasa marah dan benci (yandhuru ummah bil aini ghadlab).

Cara-cara inilah yang membuat manusia menjadi gelap mata dan gelap pikir. Bukan hanya membenci, memfitnah dan caci maki, demi secepatnya mendapat surga, mereka tega mengorbankan nyawa siapa saja, termasuk nyawa keluarga bahkan nyawanya sendiri. Di sini surga seolah hanya ditukar dengan nyawa dan sikap membenci pada kaum kafir yaitu kelompok lain yg berbeda dengan keyakinannya. Amal shalih yang berarti berbuat baik pada sesama, beribadah pada Tuhan dengan menjaga perdamaian dan menciptakan tata kehidupan yang lebih baik tidak lagi diperlukan. Selain dianggap bisa merusak kemurnian Islam, sikap tersebut juga dianggap bisa mengurangi semangat perjuangan membela Islam.

Baca Juga: Muhasabah Kebangsaan: Untuk Para Penebar Kebencian dan Kekerasan

  • Halaman :
  • 1
  • 2
  • 3

BACA JUGA:

Tulis Komentar