Connect with us

Cara Mudah Pertajam Otak dan Cegah Pikun Saat Usia Semakin Tua

pikun
Ilustasi.

Jakarta – Seiring bertambahnya usia, berbagai fungsi tubuh akan menurun. Tidak terkecuali salah satunya adalah fungsi memori. Sering lupa atau pikun menjadi satu tanda penuaan yang sering kita temukan. Dalam istilah kedokteran, pikun dikenal juga dengan istilah demensia.

Masalah yang satu ini, jika sudah terjadi, dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya serta orang disekitarnya. Namun ternyata, jika kita perhatikan, tidak semua orang tua mengalami pikun. Ada diantaranya yang masih memiliki ingatan yang baik. Kebiasaan dan gaya hidup yang berbeda ikut berpengaruh mengapa ada yang bisa mempertahankan fungsi memorinya dan ada yang tidak.

Dikutip dari Health, Senin (15/4), berikut empat cara untuk mempertajam ingatan Anda.

1. Tidur yang cukup

Studi dalam jurnal Learning and Memory menyarankan untuk tidur setidaknya enam jam bila Anda ada ujian.
Peneliti membuktikan bahwa tidur membantu otak mengingat dan menorganisir informasi dengan baik. Pastikanlah Anda mendapatkan istirahat dengan waktu yang cukup.

2. Konsumsi kacang

Kacang mengandung magnesium, mineral yang dapat meningkatkan memori jangka pendek maupun jangka panjang.

Penelitian dari MIT dan Universitas Tsinghua menunjukkan bahwa magnesium meningkatkan fungsi hubungan antar sel otak. Anda dapat menjadikan kacang sebagai camilan sehari-hari.

Baca Juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

GAYA HIDUP

Mematikan, 4 Penyakit Menular Ini Sering Terjadi di Indonesia

Oleh

Fakta News
PENYAKIT MENULAR
Ilustrasi.

Jakarta – Penyakit menular merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus, bakteri, parasit, atau jamur, dan dapat berpindah ke orang lain yang sehat. Beberapa penyakit menular yang umum di Indonesia dapat dicegah melalui pemberian vaksinasi serta pola hidup bersih dan sehat.

Penyakit menular dapat ditularkan secara langsung maupun tidak langsung. Penularan secara langsung terjadi ketika kuman pada orang yang sakit berpindah melalui kontak fisik, misalnya lewat sentuhan dan ciuman, melalui udara saat bersin dan batuk, atau melalui kontak dengan cairan tubuh seperti urine dan darah.

Orang yang menularkannya bisa saja tidak memperlihatkan gejala dan tidak tampak seperti orang sakit. Apabila dia hanya sebagai pembawa (carrier) penyakit. Ada beberapa infeksi menular mematikan yang tersebar di Indonesia. Dari tahun ke tahun, infeksi ini memiliki jumlah penderita yang tidak sedikit.

1. Tuberculosis (TBC)

Tuberculosis adalah penyakit menular mematikan yang disebabkan oleh bakteri Myocabacterium tuberculosis. Bakteri ini menyebar melalui udara, sehingga saat Anda menghirup udara yang sama dengan penderita TBC, kemungkinan Anda terjangkit bakteri ini akan lebih besar. Infeksi yang disebabkan bakteri ini bisa disembuhkan meski prosesnya tidak mudah.

Di Indonesia, kasus baru yang disebabkan bakteri TB bertambah sebanyak 420.994 pada tahun 2017. Bahkan menurut WHO, ada 300 orang yang meninggal setiap harinya karena penyakit ini.

Jumlah laki-laki yang menderita penyakit ini 1,4 kali lebih besar dibandingkan perempuan. Menurut Kementerian Kesehatan RI, penyebabnya karena jumlah laki-laki sebagai perokok aktif lebih besar dibanding wanita. Selain itu, laki-laki cenderung tidak mengonsumsi obat secara rutin dibandingkan wanita.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

GAYA HIDUP

Tahan Emosi, Marah-Marah Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Kronis

Oleh

Fakta News
marah
Ilustrasi.

Jakarta – Meskipun ada pepatah yang menyebutkan jika sabar itu tak ada batasnya, dalam realitanya kita bisa saja marah andai sesuatu yang buruk terjadi pada kita. Memang, marah bisa menjadi hal yang wajar dan bahkan bisa membuat kita melepaskan berbagai emosi negatif yang terpendam.

Sayangnya, menurut sebuah studi dari American Psychological Association kemarahan lebih merugikan daripada rasa sedih. Itu dapat meningkatkan inflamasi dan risiko penyakit kronis di usia lanjut.

Untuk mendapatkan hasil ini, para peneliti mempelajari sekelompok orang dewasa berusia 59 hingga 93 tahun, kemudian mencatat frekuensi perasaan marah dan sedih mereka, mendata apakah memiliki riwayat penyakit kronis, serta menguji kadar inflamasinya.

“Kami menemukan fakta bahwa marah-marah setiap hari berkaitan dengan tingkat inflamasi dan risiko penyakit kronis yang lebih tinggi bagi orang-orang berusia 80 tahun ke atas. Namun, ini tidak terjadi pada lansia yang lebih muda,” papar Carsten Wrosch, wakil pemimpin peneliti dari Concordia University.

“Di sisi lain, kesedihan tidak berkaitan dengan inflamasi atau penyakit kronis,” imbuhnya.

Alasan mengapa usia yang lebih muda kurang rentan terhadap peradangan atau penyakit kronis adalah karena mereka dapat mengambil tindakan dan melakukan sesuatu terhadap rasa marahnya. Sementara orang-orang tua mungkin tidak memiliki kemampuan untuk membuat perubahan dengan cepat sehingga emosi negatif lebih dulu mengambil alih.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

GAYA HIDUP

Studi: Menghabiskan Waktu di Alam Bebas Baik untuk Kesehatan Mental Anak

Oleh

Fakta News
kesehatan mental
Ilustrasi.

Jakarta – Sebuah studi yang dipublikasikan pada International Journal of Enviromental Health Research, menunjukan anak-anak yang terbiasa menghabiskan waktu di alam memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Temuan ini pun membuat peneliti semakin menyerukan perubahan tata kota untuk generasi mendatang.

Ada banyak manfaat kesehatan yang didapat jika menghabiskan waktu di luar ruangan. Namun, belum ada studi yang membahas bagaimana pengaruhnya pada anak-anak saat mereka dewasa.

Untuk menguji hal tersebut, para peneliti melakukan survei kepada 3.585 orang dewasa berusia 18-75 tahun di empat kota berbeda di Eropa. Mereka diminta menjawab pertanyaan terkait seberapa sering mengunjungi ruang terbuka saat masih anak-anak dan dewasa.

Para partisipan juga diberikan tes psikologi untuk menentukan status kesehatan mental mereka dalam beberapa bulan terakhir.

Hasilnya menunjukkan, orang dewasa dengan tingkat paparan alam yang rendah ketika masih kecil, memiliki masalah kesehatan mental cukup buruk. Ini berbanding terbalik dengan anak-anak yang sering menghabiskan waktu di alam.

Menurut para peneliti, hasil studi mereka tersebut menyoroti pentingnya eksposur ruang terbuka di masa kanak-kanak. Sebab, itu berkaitan dengan pengembangan apresiasi terhadap alam serta kondisi psikologis yang lebih sehat di masa depan.

Hal ini sangat relevan mengingat hampir 3/4 orang Eropa saat ini tinggal di perkotaan dengan akses ruang hijau yang sedikit. Angka ini diperkirakan akan meningkat hingga 80% dalam tiga dekade mendatang.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya