Connect with us

Waketum Partai Berkarya Pilih Dukung Jokowi-Maruf ketimbang Prabowo-Sandi

Jokowi-maruf, Partai Berkarya
Pasangan Calon Nomor Urut 01, Jokowi-Maruf.(Istimewa)

Jakarta – Wakil Ketua Umum Partai Berkarya, Muchdi PR, memilih mendukung pasangan nomor urut 01, Joko Widodo-Maruf Amin ketimbang mendukung pasangan calon yang diusung partainya.

Dukungan dari Waketum Partai Berkarya tersebut ditunjukkan saat ia datang di deklarasi dukungan purnawirawan TNI untuk Jokowi-Maruf di JIEXPO Kemayoran, Minggu (11/2).

Dukungan ini bukan tanpa alasan. Muchdi PR menganggap Jokowi sudah berbuat banyak selama memimpin Indonesia.

“Yang pertama karena saya melihat Pak Jokowi ini sudah berbuat banyak selama 5 tahun ini. Itu jelas pembangunan yang dirasakan oleh masyarakat dan rakyat Indonesia sudah jelas kan,” kata Waketum Partai Berkarya Muchdi PR.

Ia pun mencontohkan pembangunan-pembangunan yang dilakukan Jokowi-Maruf. Di antaranya, jalan tol, bandara, hingga pelabuhan. Menurut Muchdi, pembangunan itu tidak terjadi di pemerintah sebelumnya.

“Itu selama setelah reformasi 15 tahun tidak dilakukan presiden siapa pun. Itu kenapa saya memilih Jokowi sebagai capres 2019,” ungkapnya.

Lalu, bagaimana dengan Prabowo yang notabene adalah capres pilihan partainya dan kawannya? Muchdi menilai karena dia sudah mengenal lama Prabowo, ia tak yakin Prabowo bisa menjalankan apa yang dilakukan Jokowi.

“Pak Prabowo kan kawan saya. Jadi saya kira, itu mungkin tidak bisa dilakukan oleh Pak Prabowo 5 tahun ke depan,” ujar Muchdi PR.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

IMM Imbau Tetap Hargai Hasil Quick Count dan Jika Ada Kejanggalan Lapor Bawaslu

Oleh

Fakta News

Jakarta – Calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan rata-rata raihan suara di atas 54 persen berdasarkan hasil quick count atau hitung cepat Pilpres 2019 dari lima lembaga survei.

Namun kubu Prabowo-Sandi menyerukan ketidakpercayaan terhadap hasil quick count. Bahkan Prabowo menyebut telah terjadi beberapa kecurangan sebelum hari pemungutan suara, Rabu (17/4).

Meski begitu, menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Najih Prasetiyo, pasangan capres yang tidak unggul harus menghormati hasil quick count, tidak perlu membuat ketegangan yang membuat panas yang dapat menimbulkan kerugian-kerugian baik materil dan non materiel.

Seharusnya bila kubu Prabowo-Sandi menduga ada kecurangan, maka seharusnya dugaan tersebut dilaporkan ke pihak-pihak berwenang dalam penyelenggaraan Pilpres. Laporan tersebut, katanya, bisa disampaikan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), hingga Mahkamah Konstitusi (MK).

“Jadi kalau ada yang keberatan, silakan melaporkan ke Bawaslu. Bukan menolak dengan pernyataan. Kalau mau sabar ya silakan menunggu hasil resmi dari KPU, tidak kemudian memandang bahwa hasil quick count penuh tipu daya, tidak valid, dan tidak merepresentasikan perhitungan suara manual,” ujar Najih kepada Beritasatu.com, Kamis (18/4/2019).

Dia pun menilai quick count adalah petunjuk awal. Dan lembaga-lembaga itu juga terdaftar resmi di KPU, dan mendapat hak untuk melakukan Quick Count. Jadi kalau ada yang keberatan, silakan melaporkan. Bukan menolak dengan pernyataan.

Sementara, bagi pasangan capres-cawapres yang unggul dalam quick count, kata Najih tidak sepatutnya bersikap melampaui batas, cukup bergembira secara sederhana, dan disyukuri serta terus mengawal perhitungan secara nasional C1 Plano.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

BERITA

Aliran Modal Asing Banjiri Pasar Saham RI Berkat Pilpres 2019 Aman

Oleh

Fakta News
Aliran Modal Asing, Pasar Saham Indonesia

Jakarta – Pasar saham Indonesia tahun, diperkirakan akan dibanjiri aliran modal asing sebagai dampak dari sentimen positif investor menyikapi hasil quick count Pilpres 2019.  Perkiraan itu datang dari Grup riset dari DBS Bank, bank beraset terbesar di Asia Tenggara.

Dampaknya,  Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG bakal menembus level 6.900 atau melesat dari ekspetasi sebelumnya.

“Kami menegaskan peringkat ‘Overweight’ kami untuk Indonesia, dan meningkatkan target IHSG kami dari 6.500 menjadi 6.900 berdasarkan atas perkiraan keuntungan 16 kali dalam 12 bulan ke depan,” kata Joanne Goh, Equity Strategist dan Philip Wee, FX (Foreign Exchange) Strategist dari DBS Group Research dalam  kesimpulan analisisnya, Kamis (18/4/2019).

Joanne, yang merujuk pada hasil hitung cepat (quickcount) oleh lima lembaga survei di Indonesia, memperkirakan Joko Widodo sebagai petahana didampingi Ma’ruf Amin sebagai calon Wakil Presiden, kemungkinan besar akan memimpin Indonesia selama 2019-2024. Jika itu terjadi, pelaku pasar saham berharap stabilitas perekonomian terjaga dan reformasi struktural perekonomian terjadi.

“Pemodal dapat mengetahui apa yang bisa diharapkan berdasarkan atas rekam jejak periode pertama Joko Widodo. Pembangunan infrastruktur akan berlanjut, disertai rencana lebih fokus pada pengembangan sumber daya manusia,” ujarnya.

Baca Selengkapnya

BERITA

Silaturahmi Tak Ingin Putus, Jokowi Berharap Segera Bertemu Prabowo

Oleh

Fakta News
jokowi berharap segera bertemu prabowo
Paslon 01 dan 02 saat acara deklarasi pemilu damai(istimewa)

Jakarta – Calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo alias Jokowi ingin segera bertemu dengan rivalnya Prabowo Subianto. Hal tersebut dinilainya sebagai cara meredam tensi yang terjadi di tengah masyarakat.

“Kalau saya semakin cepat bisa bertemu semakin baik saya sudah mengutus seseorang untuk meminta kepada Pak Prabowo dan Pak Sandi untuk bisa bertemu,” tutur Jokowi dalam acara televisi ‘Live Event Pemilu 2019’ di Stasiun Metro TV, Kamis (18/4/19).

Jokowi menilai peretemuannya dengan Prabowo dapat memberi contoh dan kesan mendalam kepada masyarakat. Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut telah berulang kali menyampaikan rasa silaturahmi dan persaudaraannya pada setiap acara debat capres.

Jokowi tidak ingin kontes pemilihan Presiden membuat silaturahmi antara dirinya dengan rival terputus. Ia menilai hal ini dapat mencoreng reputasi Indonesia di mata dunia yang mendapatkan pujian lantaran sukses menggelar pemilu serentak untuk pertama kalinya.

“Selalu saya sampaikan karena sekali lagi pemilu dalam rangka sebuah proses demokrasi dan negara sebesar Indonesia ini menjadi sorotan negara-negara lain,” tuturnya.

Baca juga:

Baca Selengkapnya