Pro Kontra Tarawih Akbar di Monas Sandiaga Enggan Sebut Ulama yang Mengusulkan Tarawih Akbar di Monas

  • Fakta.News - 22 Mei 2018 | 12:49 WIB

Tujuan Diragukan

Kritik juga datang dari Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini. Ia mengatakan sebaiknya urusan pelaksanaan salat tarawih dikembalikan ke masjid yang berfungsi sebagai tempat beribadah.

“Sebaiknya kalau penyelenggaraan tarawih itu di masjid lah. Kan masjid kita memadai dan cukup bisa menampung. Kecuali kalau dalam keadaan darurat, memang tidak tersedia masjid, tidak tersedia tempat untuk salat, bisa di tempat lain. Kita sepakati itu (Monas) sebagai tempat peribadatan. Tapi ini kan masjid ada,” jelas Helmy, Senin petang.

Helmy juga meragukan alasan digelarnya Tarawih Akbar sebagai cara untuk mempersatukan umat. Sebab, menurutnya, antara niat dan cara itu dua hal yang berbeda.

“Itu malah akan menimbulkan perbedaan pendapat lagi soal baik tidak baiknya. Artinya kan kalau niatnya baik mempersatukan umat, tapi caranya malah menimbulkan perpecahan umat. Misalnya, kenapa salatnya di Monas? Kenapa nggak di masjid? Kan itu menimbulkan kontroversi jadinya,” ungkap Helmy.

Helmy pun memastikan PBNU secara organisasi belum pernah dimintakan pendapat. Hal ini menampik keterangan Sandiaga yang mengatakan sudah membicarakan rencana kepada ulama dan ormas Islam.

“Setahu saya belum ada ya. Mungkin ke orang per orang, saya enggak tahu. Kalau dimintai pendapat ya kita akan menyarankan tarawihnya di masjid saja,” tegas Helmy.

  • Halaman :
  • 1
  • 2
  • 3

BACA JUGA:

Tulis Komentar