Connect with us
Ekonomi

Solusi Rizal Ramli Agar Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Mencapai 6,5 Persen

Rizal Ramli

Jakarta – Target pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani yang hanya mematok pertumbuhan ekonomi di 2018 sebesar 5,4 persen dinilai banyak pihak merupakan bentuk ketidakberdayaan Menkeu menghadapi persoalan ekonomi yang cenderung melambat. Padahal Presiden Jokowi sendiri saat kampanye menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen, sedangkan masa pemerintahan Jokowi tinggal dua tahun lagi.

Jangankan untuk meraih pertumbuhan 7 persen, untuk sampai angka 5,4 persen saja rasanya sulit jika Menkeu tidak mempunyai terobosan kebijakan yang berarti. Apalagi selama ini kebijakan Sri Mulyani jauh dari terobosan dan cenderung kontra produktif.

Namun hal berbeda diungkapkan oleh mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, dirinya optimis di sisa dua tahun pemerintahan Jokowi, raihan pertumbuhan ekonomi 6,5 persen akan tercapai. Menurutnya raihan itu akan tercapai bila pemerintah serius dan mau merubah kebijakan ekonominya, salah satunya dengan memberikan kelonggaran kepada dunia usaha. Hal tersebut perlu dilakukan untuk menggenjot perekonomian Indonesia yang saat ini cenderung stagnan.

Menurut Rizal, yang harus diberikan kelonggaran salah satunya dari sisi perpajakan, selama ini terkesan pemerintah begitu ngotot mengejar penerimaan pajak sehingga membuat kalangan dunia usaha terganggu. Akibatnya aktivitas investasi pun tertunda dan berdampak ikut terhambatnya pertumbuhan sektor lainnya.

“Padahal di negara lain di Eropa, China dan lainnya kala ekonomi melambat justru perlu dipompa dan dilonggarkan. Misalnya, ekonomi lagi susah jangan kejar pajak dulu. Nanti kalau ekonomi bergeliat juga pajak itu bisa naik dengan sendirinya,” jelasnya.

Rizal ramli pun mengungkapkan, saat pertumbuhan sedang lesu, harus dipompa perekonomian ini. Tapi bukan dipompa dengan anggaran, melainkan dipompa dengan skema-skema tertentu. Seperti skema Build Operate Transfer (BOT) dan Build Own Operate (BOO) yang menarik bagi investor, juga dipompa dengan revaluasi asset, dengan sekuritisasi asset, sehingga ada mesin pertumbuhan yang lain di luar APBN, terutama di luar Jawa.

Selain investasi, konsumsi rumah tangga juga tak boleh luput dari perhatian pemerintah. Apalagi komponen ini memegang peranan setengah dari perekonomian nasional. Rizal menyoroti harga bahan pangan yang masih sangat tinggi. Bahkan gula hingga daging dijual dengan harga yang dua kali lebih mahal dari harga internasional.

“Kemudian juga pompa daya beli. Selama ini semua pangan di Indonesia itu impor, hal itu yang membuat mahal sekali. Harga gula saja 2 x harga internasional. Harga daging juga 2 x harga dunia, makanya semuanya jadi mahal,” tegas dia.

Menurut Rizal, mahalnya harga pangan ini dikarenakan sistem impor itu dikelola dengan sistem kuota dan pemegangnya cuma 6-7 orang kartel atau taipan yang sudah puluhan tahun menikmati untung. Mestinya, sistemnya diubah menjadi skema tarif. Solusi impor, menurut Rizal bukan sesuatu yang buruk asalkan bisa dikelola dengan benar, khususnya dalam penetapan kuota impor.

“Jadi siapa pun boleh impor tapi harus menggunakan tarif untuk melindungi industri di Indonesia. Jangan dibiasakan ngeles, daya beli tidak turun, ini tidak turun. Yang kita kepengen ada tindakan nyata karena ini kecenderungannya melambat,” ujarnya.

Selain itu, Rizal Ramli pun memberikan solusi lainnya yakni dengan menggenjot laju kredit perbankan yang selama ini hanya tumbuh sekitar 10 persen saja. “Mesti dipompa, jika mau 6,5 persen, maka laju kreditnya bisa mencapai 15-17 persen. Tapi tetap harus prudent,” ujarnya.

Maka dari itu, dirinya pun menegaskan, kalau untuk mengubah perekonomian dari 5 persen ke 6,5 persen dalam waktu kurang dari 2 tahun sangat mungkin dilakukan. “Tetapi tidak boleh menggunakan pakem ekonomi neoliberal. Tidak boleh menggunakan obat dari Bank Dunia,” tegas Rizal.

“Juga harus ada kebijakan terobosan lain tak hanya andalkan paket kebijakan ekonomi yang tak efektif ini. Karena selama ini tak berdampak. Ini kebijakan ecek-ecek. Harus ada kebijakan terobosan seperti yang saya lakukan terhadap Garuda Indonesia dan dunia penerbangan Indonesia,” pungkasnya.

Sorotan dari Rizal Ramli tersebut bukan tanpa alasan, sebab pada saat beliau menjabat sebagai Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur, Garuda saat itu tak mampu membayar utang kepada konsorsium Bank Eropa sebesar 1.8 miliar dolar AS dan terancam disitanya semua pesawat Garuda. Namun dengan kepiawaiannya, Rizal Ramli mampu menaklukkan para bankir tersebut dengan mengirim surat grasi ke Frankfurt untuk menuntut balik konsorsium Bank Eropa karena menerima bunga dari kredit dengan ekstra 50 persen. Dan akhirnya mereka meminta damai dan sepakat merestrukturisasi utang Garuda.

 

Ping.

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Syawalan Aktivis: Persahabatan di Atas Politik

Oleh

Fakta News

Yogyakarta – Suasana tidak biasa berlangsung di Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis Km. 8,5 tembi, timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogjakarta, Sabtu, 14 Mei 2022. Ratusan aktivis tidak saja dari Yogyakarta dan Jawa Tengah, namun juga dari penjuru tanah air tumpah ruah memenuhi joglo dan halaman Rumah Budaya tersebut.

Hari itu berlangsung acara bertajuk “Syawalan Aktivis: Persahabatan di Atas Politik” bertepatan dengan penyelenggaraan Sastra Bulan Purnama Edisi 128.

Beberapa nama aktivis yang sudah tidak asing di dunia katifis Nampak hadir, diantaranya Damairia Pakpahan, Abidin Fikri, Rinjani, Eko Sulistiyo, Imam Azis, Ammarsyah, Yayak Yatmaka, Yeni Rosa Damayanti, Bambang Judhopramono, Ermawan Wibisono, Odik, Karyono, Tri Agus Santoso, Wahyu Susilo, Utoyo, Maulana “Acong”,0 Radian Jadid, Reza Dharmayanda, A’Syam Chandra Manthiek, Tri Chandra Aprianto, Hasto Atmojo, Budi Santoso, Ari Jito, Sariroh, Lusi Margiani, Aji Kusumo, John Tobing, Untoro, Hersubeno Arif, Hamid, dan masih banyak lagi aktivis yang hadir memenuhi Rumah Budaya tersebut.

Acara diisi dengan parade pembacaan puisi, menyanyikan lagu dan testimoni mengenang masa perjuangan semasa aktivitas di era 70, 80, 90 an hingga era sekarang. Wahyu Susilo yang merupkan adik dari Wiji Tukul membawakan puisi legendaris berjudul “Sepeda untuk Adik” yang memberikan inspirasi dan semangat untuk perubahan kearah yang lebih baik dengan bijak bestari. Juga dibacakan puisi berjudul “Peringatan” yang mengekspresikan bentuk perlawanan seorang Widji Tukul yang di kemudian hari melahirkan jargon sang sangat terkenal yakni “maka hanya satu kata : Lawan!”.

Sedangkan A’Syam Chandra Manthiek membacakan puisi yang diambil dari karyanya pada Antologi Puisi Mantra “Blas Blus Blas” yang berisi banyak kritikan atas maraknya korupsi dan penyelewengan serta turunnya nilai moral dan etika. Ia pun melakukan hal yang tidak biasa sebagai ekspresi dan kritik atas kondisi yang ada dewasa ini, yakni yang baca puisi yang nyawer. Ia sebarkan lembaran limapuluh ribuan yang diambilkan dari dompetnya.

Yayak Yatmaka, seniman, aktivis dan pendamping anak-anak, tampil bernyanyi senyambi mengisahkan pergelutannya yang tak penah berakhir mendampingi masyarakat bawah mulai dari kedung ombo (jaman orba) hingga sekarang pada kasus Wadas. Ia merasa sangat senang masih berkesempatan bertemu dan dapt beersinergi dengan teman-teman aktivis dari berbagai penjuru yang ada.

Damairia Pakpahan selaku wakil dari penyelenggara acara juga mengingatkan bahwa banyak pula kawan-kawan aktivis yang telah mendahului dipanggil Tuhan yang Maha Kuasa. Lebih dari 200 aktivis yan0g telah meninggal dunia, untuk itu ia meminta waktu sejenak untuk memanjatkan doa bagi mereka semua.

Pamungkas acara adalah tausiyah syawal yang disampaikan oleh KH. M. Imam Aziz, Staf Khusus Wapres yang dulunya dikenal sebagai Aktivis Pers, Pendiri dan Direktur L-Kis, SAREKAT dsb.

Imam mengisahkan karakteristik yang berbeda ditiap generasi pergerakan mahasiswwa. Era 70an diwarnai dengan model pendampingan program.

Era 80an diwarnai dengan pembelaan hukum, yang kemudian juga melahirkan banyak lebaga bantuan hukum dengan tokoh-tokoh semisal Adnan Buyung Nasution dkk. Juga kampanye dan perjuangan memperjuangkan dan mengedepankan kebhinnekaan Indonesia.

Era 90an dengan warna gerakan yang berpihak pada masyarakat yang terpinggirkan, perempuan, dan anak-anak. Kelompok kajian di masjid kampus juga marak yang kemudian berkembangan dari yang menerima maupun menolak konstitusi.

Semua berkembang dan berdinamika sesuai jaman dan menghadapi tantangannya dan tercatatkan dalam perjalanan sejarah perjuangan bangsa.

Imam melanjutkan, memang para aktivis yang mendinamisir pergerakan pada eranya ada yang kemudian masuk maupun di luar sistem politik. Realitasnya dengan kondisi tesebut menjadi agak sudah mencari motor gerakan gerakan rakyat, karena banyak yang di politik, walaupun memang gerakan sosial pada akhirnya bermuara pada politik.

Iman menekankan bahwa yang paling penting, tiga embrio gerakan sosial yakni Gerakan pengembangan masyarakat, Gerakan hukum struktural dan Gerakan etik, (kebhinnekaan, pluralisme, non politik) telah melahirkan banyak aktivis yang luar biasa.

“Kedepan harus ada tema baru yang diusung dalam gerakan sosial sehingga mampu melahirkan aktivis baru yang lebih tangguh, kata Imam.

“Ada pernyataan bahwa reformasi hampir seperempat abad, tapi perubahan di negeri ini hampir-hampir tidak ada perubahan dibandingkan dengan masa orde baru. Ini kritik yang paling pedas,” sambungnya.

Imam menuturkan, perubahan itu tidak dicapai pasca reformasi, meskipun tidak menafikkan beberapa capaian seperti pengembalian hukum dan konstitusi yang secara teks bagus sekali mulai UUD sampai peraturan lainnya, tapi kita melihat banyak tradisi politik yang tidak banyak berubah.

“Bagaimana nantinya konsolidasi demokrasi ke depan? Saya tidak yakin parpol melakukan pendalaman, bahkan kecenderungannya akan mengarah ke pengembangan politik. Betapa, meskipun sudah ada reformasi, masalah struktural politik yang kita anggap selesai ternyata masih banyak yang perlu dibenahi,” papar Imam.

Juga bagaimana mafia-mafia yang menguasai hajat hidup orang banyak, masih banyak menguasai terutama ekonomi, dan belum teratasi dengan baik.

Masalah pertanian, oligarki ekonomi dsb, ini agenda besar yang harus menjadi agenda utama dari kelompok gerakan sosial dalam aliran apapaun.

Untuk itu pengembangan hukum, dan etika (penting) dalam masyarakat ini harus terus hidup, dan tidak pernah boleh ada orang yang merasa selesai sebagai aktivis, apakah itu di parpol, kelompok sosial non-politik, kelompok keagamaan, dan sebagainya.

Kita juga harus mewaspadai perkembangan negara kita, jangan sampai tidak ada kemajuan apapaun. Kita harus memastikan politik beradab dan untuk kemajuan bangsa. Yang sekarang banyak hilang adalah gagasan kemajuan.

Seperti apa Indonesia yang dibayangkan? “Demokratis, menghargai pluralisme, sistem jaminan sosial. Semua pernah dibayangkan oleh aktivis, hanya kemudian dalam kenyataannya, menjadi sulit dilaksanakan dan direalisasikan.

“Ini momentum, yang tua datang, yang tengah dan yang muda datang. Simbolik antar generasi datang, tidak pernah putus. Apapaun alirannya,keyakinannya, mimpinya sama. Semoga pertemuan ini tidak berhenti disini saja, semoga ada pertemuan lain yg bisa menjadi tuan rumah untuk kelanjutannya,” pungkas Imam.

Baca Selengkapnya

BERITA

Bertemu Presiden Jokowi, Elon Musk: Saya Akan ke Indonesia Bulan November

Oleh

Fakta News
Presiden Joko Widodo dan Pendiri Space X Elon Musk memberikan keterangan pers di Space X, Boca Chica, Amerika Serikat, pada Sabtu, 14 Maret 2022. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

Jakarta – Dalam kunjungannya ke Space X di Boca Chica, Amerika Serikat, Sabtu, 14 Mei 2022, Presiden Jokowi mengundang Elon Musk untuk datang ke Indonesia.

“Saya kira, dia sangat tertarik sekali untuk segera datang ke Indonesia dan tadi saya sudah sampaikan untuk bisa datang di Indonesia,” ucap Presiden Jokowi.

Menjawab undangan Presiden Jokowi untuk datang ke Indonesia, Elon Musk mengatakan berencana datang pada bulan November tahun ini.

“Mudah-mudahan di Bulan November, terima kasih atas undangannya,” pungkas Elon.

Presiden Jokowi berkunjung ke Space X bertemu Elon Musk, setelah berdiskusi, keduanya meninjau fasilitas produksi Space X. Setelah kurang lebih satu jam berada di sana, Presiden Jokowi meninggalkan kawasan Space X.

Baca Selengkapnya

BERITA

Presiden Jokowi Kunjungi Space X, Berdiskusi dengan Elon Musk

Oleh

Fakta News
Presiden Joko Widodo berdiskusi dengan Elon Musk di Gedung Stargate Space X, Boca Chica, Amerika Serikat, Sabtu, 14 Mei 2022. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

Jakarta – Presiden Joko Widodo berkunjung ke Space X di Boca Chica, Amerika Serikat, Sabtu, 14 Mei 2022. Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi berdiskusi dan meninjau pabrik produksi roket Space X bersama Elon Musk selaku founder Space X.

Presiden tiba di Gedung Stargate Space X sekitar pukul 10.30 waktu setempat disambut langsung oleh Elon Musk. Presiden Jokowi dan Elon Musk sempat melakukan pertemuan sebelum berkeliling melihat fasilitas produksi roket Space X.

Setelah peninjauan, Presiden mengatakan bahwa kunjungan ini merupakan tindak lanjut perintahnya kepada Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan untuk berbicara dengan Elon.

“Tindak lanjut perintah saya untuk berbicara dengan Elon mengenai investasi, mengenai teknologi, mengenai inovasi, dan sekarang saya ke sini dan bertemu langsung dengan Elon untuk mendiskusikan kerja sama yang akan datang,” ujar Presiden.

Elon Musk dalam kesempatan yang sama mengatakan sangat tertarik dengan masa depan Indonesia. Indonesia terlihat sangat optimistis terhadap masa depan dan memiliki energi positif.

“Saya rasa Indonesia memiliki potensi yang besar, dan saya rasa kita melalui Tesla dan Space X akan mencoba beberapa kerja sama dengan Indonesia,” ujar Elon.

Lebih lanjut, Elon juga menyampaikan ketertarikannya untuk bekerja sama dengan Indonesia mengingat Indonesia memiliki potensi di banyak bidang.

“Kita akan melihat dari dekat bentuk kerja sama di banyak hal, karena Indonesia memiliki banyak potensi. Apalagi Indonesia memiliki jumlah populasi dan terus berkembang. Ini bagus karena kita membutuhkan banyak orang di masa depan,” kata Elon.

Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam kunjungan tersebut antara lain Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Duta Besar RI untuk AS Rosan Roeslani.

Baca Selengkapnya