Hoaks dan Ancaman untuk Demokrasi di Indonesia

  • Fakta.News - 12 Jan 2019 | 14:33 WIB
Hoaks dan Ancaman untuk Demokrasi di Indonesia

Jakarta – Berita bohong (fake news) dan hoaks menjadi fenomena menakutkan di dunia. Hoaks pun menjadi perhatian dunia lantaran keberadaannya turut mengancam demokrasi. Begitu pula di Indonesia

Secara makna, hoaks sendiri berarti informasi yang tak berdasarkan data dan fakta. Bukan itu saja, hoaks ini juga merupakan alat manipulasi jahat untuk melanggengkan tujuan tertentu.

Nah, mengapa hoaks ini begitu masif belakangan ini, terlebih di tahun politik? Dayanto, pegiat hukum dan demokrasi dan salah satu tim asistensi Bawaslu RI, ini menyebut ada tiga faktor yang menyebabkan hoaks begitu intens dan masif di tahun politik.

Dikutip dari Sindonews.com, kontestasi politik seperti pemilihan presiden atau kepala daerah merupakan momen yang menjadi perhatian masyarakat. Masyarakat akan tersedot dalam arus informasi yang menjadi bagian dari adu preferensi untuk menggaet pemilih.

Hoaks semakin intens dan masif lantaran tiga faktor: demokratisasi, kebebasan informasi, dan perkembangan teknologi informasi. Dayanto menulis, demokratisasi di Indonesia, terutama saat jabatan eksekutif seperti presiden dan kepala daerah dipilih secara langsung, menyebabkan tarikan kepentingan semakin masif. Alhasil, segala cara kadang ditempuh demi menjadi pilihan masyarakat.

Demokratisasi turut pula membuka arus kebebasan informasi. Sumber informasi tak lagi dimonopoli oleh media arus utama maupun terpusat pada rezim pemerintahan. Informasi bisa bersumber dari mana saja dan bersifat plural.

Demokratisasi dan kebebasan informasi akhirnya bersimbiosis dengan perkembangan teknologi informasi. Perkembangan teknologi ini tak pelak membuat arus pertukaran informasi semakin cepat dan masif. Ditambah, media sosial maupun media pesan instan makin mempercepat pertukaran informasi tersebut.

Demokratisasi menciptakan tensi politik untuk menciptakan informasi yang bisa menggaet pemilih. Kebebasan informasi membuat sumber informasi tak dimonopoli, sementara teknologi informasi memberikan ruang persebaran tak terhingga dengan kecepatan luar biasa. Ketiga hal ini akhirnya membuka ruang dalam menciptakan informasi bohong atau hoaks demi tercapainya kepentingan politik.

Baca Juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
  • 3

BACA JUGA:

Tulis Komentar