Connect with us
Politik

Mengapa Gerakan Tagar Ganti Presiden Berbahaya? Ini Alasannya

ganti presiden berbahaya
Spanduk 2019 Ganti Presiden yang berlogo PKS dan HTI di Depok.(Istimewa)

Jakarta – Menjelang pemilihan presiden 2019, gerakan tagar 2019 ganti presiden masif dilakukan. Sejumlah kalangan mengungkapkan bahwa gerakan tagar ganti presiden berbahaya. Mengapa demikian?

Kepolisian sendiri telah melarang deklarasi gerakan tagar ini di beberapa tempat, seperti di Pekanbaru dan di Surabaya. Alasannya, deklarasi ini dikhawatirkan akan memicu konflik horizontal antara masyarakat yang pro pada gerakan dan kontra.

Ini adalah alasan pertama mengapa gerakan tagar 2019 ganti presiden berbahaya. Alasan kedua, gerakan tersebut sangar rawan ditunggangi oleh misi politik kelompok tertentu.

Soffa Ihsan, Direktur Lembaga Daulat Bangsa, melihat potensi rawan gerakan tersebut ditunggangi misi politik, terutama misi politik mengganti sistem pemerintahan. Soffa pun mencontohkan gerakan serupa dan terjadi di Mesir pada 2013 lalu.

“Gerakan seperti ini harus diwaspadai dan dicegah agar tidak terjadi di Indonesia,” ujarnya, Jumat (7/9).

Menurut dugaan Soffa, organisasi Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI ini bisa saja mendompleng di gerakan tagar 2019 ganti presiden. HTI sendiri sudah dibubarkan oleh Pemerintah Indonesia. Soffa menambahkan, gerakan tagar tersebut bukan memberikan manfaat lebih baik, justru menimbulkan mudarat.

“Ini adalah gerakan politik ekstrem yang dimainkan oleh PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang dalam satu periode tidak memegang kekuasaan,” imbuh Soffa.

Bila sampai ditunggangi HTI, tentu akan membahayakan persatuan Indonesia. “Pastinya mereka hanya memanfaatkan tagar ini untuk membuat Indonesia antar-rakyatnya yang terbelah ke dalam dua dukungan mengalami benturan,” ujarnya lagi.

Baca Juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Akan Dikunjungi MPR, DPR dan DPD, Menko Polhukam Pastikan Kondisi Papua Aman

Oleh

Fakta News
Menko Polhukam Mahfud MD

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD memastikan, kondisi di Papua aman pada saat kunjungan kerja MPR, DPR, dan DPD pada bulan Maret mendatang. Hal ini disampaikan Mahfud setelah menggelar rapat dengan MPR di ruang GBHN, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (24/2/2020).

“Ini bukan soal pengungsi nih. Ini ketua DPR, ketua DPD, ketua MPR mau kunker ke Papua, ya sudah kondusif tadi laporan kesiapan dari daerah dari semua birokrasi kondusif bagus,” kata Mahfud.

Ia mengatakan, salah satu agenda kunjungan kerja yakni DPR memastikan persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX yang akan digelar di Papua.

“Ya soal persiapan PON dan lain-lain, jadi kita koordinasi saling memberi tukar informasi, dan memberi bekal,” ujar dia.

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menggelar rapat kerja dengan Mahfud MD di ruang GBHN, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (24/2/2020). Ketua MPR Bambang Soesatyo mengatakan, rapat kerja bersama Menko Polhukam akan membahas mengenai penyelesaian konflik yang terjadi di Papua.

“Hari ini (Senin, red) kami mengundang para pihak yang terkait penyelesaian Papua, yang pertama kami ingin mendapat laporan terkait keamanan politik dan sosial,” kata Bambang.

Rapat kerja juga akan dihadiri Pimpinan DPR dan DPD. Sebab, Pimpinan MPR, DPR, dan DPD, akan berkunjung ke Papua pada awal Maret.

“Kami pimpinan MPR, DPR, dan DPD akan berkunjung ke papua tanggal 2 Maret sampai tanggal 5 untuk memastikan masalah keamanan, karenanya (kami) mendengar laporan tentang keamanan,” ujar dia.

 

Mujafi

Baca Selengkapnya

BERITA

Pendaftaran KIP Kuliah Dibuka pada 2-31 Maret 2020

Oleh

Fakta News

Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membuka pendaftaran Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) bagi para pemegang Kartu Indonesia Pintar yang ingin mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Pendaftaran KIP Kuliah dibuka pada 2-31 Maret 2020 hingga pukul 23.59 WIB melalui laman http://kip-kuliah.kemdikbud.go.id/.

“Pada tahun ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan KIP Kuliah agar terintegrasi dengan kebijakan yang telah dilaksanakan selama lima tahun belakangan ini, yakni KIP yang dimiliki siswa SMA maupun SMK,” kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam, dalam keterangan tertulis, Senin, 24 Februari 2020.

Nizam, mengatakan KIP Kuliah adalah penguatan program Bidikmisi yang memperluas akses mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Namun kebijakan KIP Kuliah ini untuk sementara diperuntukkan hanya bagi calon mahasiswa baru di kampus.

Nizam menuturkan pendaftaran SNMPTN telah dibuka. pemerintah memperpanjang waktu pendaftaran SNMPTN khusus bagi calon mahasiswa dari keluarga tidak mampu yang membutuhkan KIP Kuliah yang seharusnya berakhir pada 27 Februari 2020 pukul 23.50.

“Bagi calon mahasiswa dari keluarga tidak mampu yang membutuhkan KIP Kuliah, disediakan perpanjangan waktu yang menyesuaikan pendaftaran KIP Kuliah, yaitu tanggal 2 hingga 31 Maret 2020,” kata dia.

Sementara untuk calon mahasiswa lainnya, batas pendaftaran SNMPTN tetap sama, yakni 27 Februari 2020. Hal ini berlaku pula bagi calon mahasiswa yang sudah memiliki KIP pada jenjang pendidikan sebelumnya.

Ketua Tim Pelaksana Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), Mohammad Nasih, menjelaskan, bagi calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu yang sama sekali belum memiliki KIP tetap dapat melakukan pendaftaran SNMPTN hingga pengisian program studi dan pilihan universitas. Namun, diharapkan tidak melakukan finalisasi terlebih dulu sebelum mendaftar pada laman KIP Kuliah.

“Pendaftaran KIP Kuliah dimulai awal Maret mendatang. Boleh saja sudah mulai mendaftar dan mengisi informasi-informasi yang perlu dicantumkan di pendaftaran SNMPTN, tetapi kami imbau untuk jangan finalisasi terlebih dulu. Jika pendaftaran KIP Kuliah sudah rampung, baru pendaftaran SNMPTN dapat difinalisasi dan cetak kartu,” jelas Nasih.

 

Chrst

Baca Selengkapnya

BERITA

WHO Ungkap Tingkat Penyebaran Virus Corona dalam Kondisi Sangat Memprihatinkan

Oleh

Fakta News
Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus

Jakarta – Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan kekhawatirannya terhadap penyebaran virus corona (COVID-19). Tedros mengatakan peningkatan penyebaran virus corona di Iran, Italia dan Korea Selatan dalam beberapa hari terakhir dalam kondisi sangat memprihatinkan.

“Peningkatan kasus corona secara tiba-tiba di Italia, Iran dan Republik Korea sangat memprihatinkan,” ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada wartawan di Jenewa, seperti dilansir AFP, Senin (24/2/2020) waktu setempat.

Sementara itu, Tedros mengatakan epidemi virus corona terus meningkat di China, dan belum menunjukkan tanda penurunan.

Diketahui, di Korea Selatan, otoritas kesehatan melaporkan kasus kematian ke-7 akibat virus corona COVID-19. Sebanyak 161 kasus baru, 142 di antaranya terinfeksi COVID-19 dari Daegu, kota di mana wabah COVID-19 menular di Korea Selatan. Sedangkan tiga kasus baru dilaporkan berasal dari Seoul, ibukota Korea Selatan.

Korea Selatan mengumumkan pada (23/2) bahwa mereka telah memutuskan untuk menaikkan level siaga menjadi “merah”, level tertinggi.

Sementara di Iran sudah delapan orang meninggal dunia akibat virus corona di wilayahnya. Jumlah total kasus virus corona yang ditangani otoritas Iran dilaporkan terus bertambah.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (24/2), juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Kianoush Jahanpour, menuturkan kepada televisi nasional Iran bahwa jumlah kasus virus corona yang terkonfirmasi di negara ini sejauh ini bertambah menjadi 43 kasus.

“Kita mendapati 43 orang telah didiagnosis terinfeksi virus Covid-19 di negara ini. Delapan pasien di antaranya kehilangan nyawa mereka dalam beberapa terakhir,” sebut Jahanpour dalam pernyataannya.

Sedangkan di Italia, pemerintah Italia menutup beberapa kawasan pedesaan di utara negara itu yang berpenduduk sekitar 50 ribu orang, setelah otoritas kesehatan melaporkan 150 kasus infeksi. Hingga saat ini ada tiga kasus kematian di Italia karena infeksi virus Corona. Virus itu diduga menyebar dari sebuah desa kecil dekat kota Milan.

Sementara di China, mengenai korban jiwa, otoritas kesehatan China melaporkan adanya 150 kematian baru di wilayahnya hingga Minggu (23/2) tengah malam, dengan 149 orang di antaranya meninggal di Provinsi Hubei, yang merupakan pusat wabah ini. Total, korban meninggal akibat virus corona sejauh ini bertambah menjadi 2.592 orang di China daratan. Sedikitnya 30 orang lainnya meninggal akibat virus corona di delapan negara dan wilayah lain di luar China daratan.

 

Munir

Baca Selengkapnya