Connect with us

Dianggap Hina Mbah Moen, Yenny Wahid: Warga NU Tak Terima Puisi Fadli Zon

Yenny Wahid (ist)

Jakarta – Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra Fadli Zon sepertinya tak pernah bosan membuat kegaduhan. Tak hanya itu Fadli pun kerap nyinyir terhadap pemerintah, baik melalui ucapan maupun bentuk tulisan, salah satunya adalah puisi politik.

Yang terbaru adalah saat Fadli Zon membuat puisi politik yang berjudul ‘Doa yang Ditukar’ terkait doa ulama kharismatik Nahdlatul Ulama (NU), KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen. Puisi itu diunggah di akun twitter pribadi Fadli Zon.

Dalam puisinya, Fadli Zon menyindir kata ‘Kau’ yang mengobral doa hingga makelar doa. Puisi tersebut dinilai telah melukai warga NU atau Nahdliyin karena dianggap menghina Mbah Moen.

Hal ini diungkapkan putri Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid yang menyebut warga NU banyak yang tak terima dengan puisi yang berjudul ‘Doa yang Ditukar’ itu. Ia menilai, puisi tersebut malah akan menjadi blunder bagi kubu Prabowo-Sandiaga.

“Banyak banget yang enggak terima warga NU, ulamanya dihina seperti itu. Jka mendukung Prabowo-Sandiaga, Fadli tak seharusnya menghina ulama,” kata Yenny di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (6/2/2019) kemarin.

Baca juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Real Count KPU Pagi Ini: Jokowi 54,89%, Prabowo 45,11%

Oleh

Fakta News
real count

Jakarta – Hingga Selasa (23/4/2019), Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01 Joko Widodo – Ma’ruf Amin masih mengungguli Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Data tersebut merujuk pada real count yang dimuat dalam Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Merujuk pada situs resmi pemilu2019.kpu.go.id, suara real count yang masuk 18,8 persen atau memuat 153.624 dari 813.350 total tempat pemungutan suara (TPS).

Dari jumlah suara yang sudah masuk itu, Jokowi-Ma’ruf unggul dengan persentase 54,89 persen atau 15.972.166 suara. Sementara itu pasangan Prabowo-Sandiaga dengan 45,11 persen atau 13.128.406 suara.

Situng merupakan sistem penghitungan resmi KPU yang disiarkan secara online di laman pemilu2019.kpu.go.id. Penghitungan dilakukan menggunakan hasil pindai form C1 yang mencatat hasil pemungutan suara di setiap TPS. Meski hasil di situs itu resmi, tetapi hasil akhir yang ditetapkan KPU berdasarkan rekapitulasi fisik berjenjang.

Rekapitulasi akhir KPU secara nasional rencananya akan keluar pada Rabu (22/5).

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

BERITA

Soal Utus Luhut Temui Prabowo, Jokowi: Demi Kebaikan Bangsa

Oleh

Fakta News
kebaikan bangsa
Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya buka suara alasan mengutus Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, untuk menemui sang rivalnya dalam Pilpres 2019, Prabowo Subianto. Ia mengatakan pertemuan bertujuan untuk kebaikan bangsa.

“Tujuannya untuk kebaikan bangsa ini,” kata Jokowi di Rumah Makan Seribu Rasa Menteng Jakarta Pusat, Senin (22/4/2019).

Jokowi menuturkan, dirinya mempunyai pesan khusus yang akan disampaikan kepada Prabowo melalui Luhut. Namun, dirinya enggan menyampaikan isi pesan tersebut.

“Ya, ada (pesan khusus) tapi engga perlu saya sampaikan,” kata Jokowi.

Jokowi sendiri mengakui belum membuat rencana untuk menemui langsung Prabowo. Ia mengatakan, setelah Luhut bertemu Prabowo, baru giliran dirinya merencanakan pertemuan dengan sesama peseta Pilpres 2019.

“Belum, (Luhut) ketemu saja belum. Belum, belum, saya kan mengutus dalam rangka itu,” tuturnya.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

BERITA

Dosen UGM: Bahayakan Persatuan Bangsa, Politik Identitas Harus Dikikis Habis

Oleh

Fakta News
Dosen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Achmad Munjid (Foto: ugm.ac.id)

Jakarta – Politik identitas dinilai masih menguat perpolitikan Indonesia, tak hanya itu juga mengancam persatuan bangsa. Oleh sebab itu politik identitas masih menjadi pekerjaan rumah bangsa Indonesia pascapemilu 2019 dan harus dikikis.

Hal ini disampaikan Dosen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Achmad Munjid di Yogyakarta, Senin (22/4/2019).

Munjid menjelaskan bahwa berdasar data lembaga survei Indikator Politik Indonesia, politik identitas masih sangat kuat mendominasi perpolitikan nasional. Dia mengatakan, dari data tersebut pemilih muslim 49 persen memilih pasangan 01 atau Jokowi – Ma’ruf. Sedangkan 51 persen memilih 02 atau Prabowo-Sandi. Pemilih yang non-muslim, 97 persen memilih Jokowi, dan hanya 3 persen pilih Prabowo.

“Dari identitas kesukuan, suku Jawa 65 persen memilih Jokowi dan 35 persen memilih Prabowo. Suku yang identitas Islamnya kuat memenangkan Prabowo. Begitu juga TPS di negara Islam, yang menang juga Prabowo,” papar Munjid.

“Selain itu, daerah yang memiliki tradisi dan ideologi masa lalu seperti Masyumi, juga memenangkan Prabowo. Artinya politik identitas masih sangat kuat,” imbuhnya.

Munjid juga mengungkapkan, politik identitas ini harus dikikis. Dalam keberagaman Indonesia, politik identitas tidak boleh terjadi karena risikonya sangat besar.

“Itu ibarat mencampur minyak dengan api. Tinggal menunggu waktu akan terjadi sesuatu,” kata tokoh Nahdlatul Ulama ini,” ujar Doktor alumnus Temple University Amerika Serikat itu.

Baca Selengkapnya