Connect with us

Bikin Puisi Balasan, Politisi Nasdem Sebut Fadli Zon Raja Nyinyir

Waketum Gerindra Fadli Zon(ist)

Jakarta – Politisi Partai Gerindra Fadli Zon mendapat balasan atas ulahnya yang kerap nyinyir terhadap pemerintah terutama Presiden Joko Widodo. Balasan atas sikap Wakil Ketua DPR RI itu dibuat menjadi sebuah puisi oleh politisi Nasdem Irma Suryani Chaniago.

Irma yang juga juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, membuat puisi politik. Puisi tersebut mengandung frasa ‘Raja Nyinyir’ di dalamnya, itu untuk membalas puisi Fadli Zon.

“Saya menjawab puisi Fadli Zon,” ujar Irma kepada wartawan, Rabu (6/2/2019).

Puisi yang berjudul ‘Aku’ ini mengisahkan tentang sosok seorang ambisius yang mengejar kekuasaan.

“Aku adalah raja segala ambisi, semua hal kukomentari, pokoknya semua kucaci maki. Tak peduli benar atau salah, bahkan ulama sepuh pun kukriminalisasi,” demikian kutipan puisi Irma.

Adapun puisi Fadli Zon berjudul ‘Doa yang Ditukar’. Puisi itu dikeluarkan Fadli setelah ramai-ramai Mbah Moen salah sebut dengan mengucapkan nama Prabowo Subianto saat sedang mendoakan capres petahana Joko Widodo.

Dalam puisinya, Fadli menyindir soal agama yang diobral hingga penguasa tengik. Puisi Wakil Ketua DPR itu juga dibalas oleh Ketum PPP Romahurmuziy, yang mengklarifikasi soal Mbah Moen salah ucap dalam doanya.

Baca Juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Real Count KPU Pagi Ini: Jokowi 54,89%, Prabowo 45,11%

Oleh

Fakta News
real count

Jakarta – Hingga Selasa (23/4/2019), Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01 Joko Widodo – Ma’ruf Amin masih mengungguli Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Data tersebut merujuk pada real count yang dimuat dalam Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Merujuk pada situs resmi pemilu2019.kpu.go.id, suara real count yang masuk 18,8 persen atau memuat 153.624 dari 813.350 total tempat pemungutan suara (TPS).

Dari jumlah suara yang sudah masuk itu, Jokowi-Ma’ruf unggul dengan persentase 54,89 persen atau 15.972.166 suara. Sementara itu pasangan Prabowo-Sandiaga dengan 45,11 persen atau 13.128.406 suara.

Situng merupakan sistem penghitungan resmi KPU yang disiarkan secara online di laman pemilu2019.kpu.go.id. Penghitungan dilakukan menggunakan hasil pindai form C1 yang mencatat hasil pemungutan suara di setiap TPS. Meski hasil di situs itu resmi, tetapi hasil akhir yang ditetapkan KPU berdasarkan rekapitulasi fisik berjenjang.

Rekapitulasi akhir KPU secara nasional rencananya akan keluar pada Rabu (22/5).

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

BERITA

Soal Utus Luhut Temui Prabowo, Jokowi: Demi Kebaikan Bangsa

Oleh

Fakta News
kebaikan bangsa
Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya buka suara alasan mengutus Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, untuk menemui sang rivalnya dalam Pilpres 2019, Prabowo Subianto. Ia mengatakan pertemuan bertujuan untuk kebaikan bangsa.

“Tujuannya untuk kebaikan bangsa ini,” kata Jokowi di Rumah Makan Seribu Rasa Menteng Jakarta Pusat, Senin (22/4/2019).

Jokowi menuturkan, dirinya mempunyai pesan khusus yang akan disampaikan kepada Prabowo melalui Luhut. Namun, dirinya enggan menyampaikan isi pesan tersebut.

“Ya, ada (pesan khusus) tapi engga perlu saya sampaikan,” kata Jokowi.

Jokowi sendiri mengakui belum membuat rencana untuk menemui langsung Prabowo. Ia mengatakan, setelah Luhut bertemu Prabowo, baru giliran dirinya merencanakan pertemuan dengan sesama peseta Pilpres 2019.

“Belum, (Luhut) ketemu saja belum. Belum, belum, saya kan mengutus dalam rangka itu,” tuturnya.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

BERITA

Dosen UGM: Bahayakan Persatuan Bangsa, Politik Identitas Harus Dikikis Habis

Oleh

Fakta News
Dosen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Achmad Munjid (Foto: ugm.ac.id)

Jakarta – Politik identitas dinilai masih menguat perpolitikan Indonesia, tak hanya itu juga mengancam persatuan bangsa. Oleh sebab itu politik identitas masih menjadi pekerjaan rumah bangsa Indonesia pascapemilu 2019 dan harus dikikis.

Hal ini disampaikan Dosen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Achmad Munjid di Yogyakarta, Senin (22/4/2019).

Munjid menjelaskan bahwa berdasar data lembaga survei Indikator Politik Indonesia, politik identitas masih sangat kuat mendominasi perpolitikan nasional. Dia mengatakan, dari data tersebut pemilih muslim 49 persen memilih pasangan 01 atau Jokowi – Ma’ruf. Sedangkan 51 persen memilih 02 atau Prabowo-Sandi. Pemilih yang non-muslim, 97 persen memilih Jokowi, dan hanya 3 persen pilih Prabowo.

“Dari identitas kesukuan, suku Jawa 65 persen memilih Jokowi dan 35 persen memilih Prabowo. Suku yang identitas Islamnya kuat memenangkan Prabowo. Begitu juga TPS di negara Islam, yang menang juga Prabowo,” papar Munjid.

“Selain itu, daerah yang memiliki tradisi dan ideologi masa lalu seperti Masyumi, juga memenangkan Prabowo. Artinya politik identitas masih sangat kuat,” imbuhnya.

Munjid juga mengungkapkan, politik identitas ini harus dikikis. Dalam keberagaman Indonesia, politik identitas tidak boleh terjadi karena risikonya sangat besar.

“Itu ibarat mencampur minyak dengan api. Tinggal menunggu waktu akan terjadi sesuatu,” kata tokoh Nahdlatul Ulama ini,” ujar Doktor alumnus Temple University Amerika Serikat itu.

Baca Selengkapnya