Connect with us

Achmad Yurianto: 790 Positif, 58 Meninggal, 31 Sembuh Terkait Pandemi Corona di Indonesia Per 25 Maret

Yang berikutnya di laksanakan kegiatan screening massal, screening massal itu adalah pemeriksaan massal untuk melakukan penyaringan, penapisan. Oleh karena itu, screening massal dengan menggunakan pemeriksaan rapid test tidak diarahkan untuk menegakkan diagnosa, karena tes yang kita gunakan adalah rapid test yang berbasis pada respon imunologi dari seseorang. Kita tahu kalau virus masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh secara otomatis akan membentuk antibodi, inilah yang kemudian akan kita ukur dan inilah yang kemudian akan dideteksi oleh alat. Sehingga manakala di dalam pembacaan alat itu dari rapid test dikatakan positif, maka kita bisa memastikan bahwa tubuh orang itu pernah diinfeksi oleh virus atau sedang diinfeksi oleh virus, karena sistem kekebalannya antibodinya ada. Tapi manakala hasil pembacaan rapid test ini negatif, tidak ada jaminan bahwa dia tidak terinfeksi virus. Bisa saja dia sudah terinfeksi tetapi antibodinya belum terbentuk, kita paham bahwa pembentukan antibodi itu butuh waktu kurang lebih sampai dengan 6 atau 7 hari, sehingga kalau infeksi itu belum 6 atau 7 hari dan kita lakukan pemeriksaan hasilnya akan negatif.

Maka yang kita lakukan manakala hasilnya negatif meskipun tanpa keluhan, kita menyarankan untuk jaga jarak. Kalau kemudian ada keluhan maka kita akan menyarankan untuk karantina diri, sambil kita tunggu setelah 7 hari berikutnya kita lakukan tes lagi, manakala di dalam tasnya ditemukan positif makanya adalah guidance, tuntunan bagi kita untuk melakukan pemeriksaan antigen dengan menggunakan metode yang sudah kita ketahui yaitu Real Time PCR. Ini yang kemudian dipakai dasar di dalam kaitan dengan menegakkan diagnosa. Namun apabila setelah 7 hari dilakukan pemeriksaan kedua masih tetap negatif maka kita yakini bahwa kondisi yang bersangkutan saat ini sedang tidak terinfeksi, artinya bukan dia kebal, suatu saat kalau dia tidak bisa menjaga diri dengan baik, mengabaikan kontak dekat, mengabaikan tentang pembatasan aktivitas bisa saja tertular. Ini yang penting dan harus kita pahami.

Pada kasus yang positif dan kemudian kita konfirmasi dengan PCR, kita akan minta untuk melaksanakan karantina, pertama tentunya kita akan melihat manakala tidak ada keluhan atau keluhan minimal maka kita akan meminta yang bersangkutan melaksanakan karantina di rumah, bukan di rumah sakit. Dengan catatan yang ketat bahwa dia harus menggunakan masker terus-menerus selama 14 hari, kemudian menjaga jarak dengan semua anggota keluarga yang di rumah, kemudian makan dan minum menggunakan alat makan sendiri yang tidak berganti-ganti dengan anggota keluarga yang lain, rajin mencuci tangan dengan menggunakan sabun, dan kemudian menjaga kesehatan diri dengan pola hidup bersih dan sehat, cukup asupan gizi, banyak makan vitamin yang alami, tidak perlu yang sintesis, alami sangat banyak di buah dan sayur apapun, kemudian istirahat cukup, aktivitas yang cukup juga. Dengan cara seperti ini kita bisa berharap maka dia akan cepat pulih menjadi lebih baik lagi dan menjadi sembuh total.

Tentunya ada self monitor sepanjang 14 hari dia dilakukan monitoring, dan kita akan menyampaikan ini pada kesehatan wilayah atau bisa menggunakan beberapa situs online yang saya sebutkan tadi.

Apabila kemudian hasil positif dari PCR dan kemudian diyakini bahwa tidak bisa melakukan isolasi diri di rumah karena ada gejala panas, batuk, sesak atau kita temukan faktor penyakit lain, misalnya penderita hipertensi, diabetes, kelainan jantung, gagal ginjal kronis, maka kelompok inilah yang harus dilakukan isolasi di rumah sakit.

Pemerintah telah menyiapkan beberapa rumah sakit isolasi rumah sakit tambahan yang cukup besar, kita tahu bersama beberapa hotel, kemudian wisma atlet digunakan untuk kepentingan ini. Inilah yang kemudian akan kita pakai untuk melakukan isolasi rumah sakit dengan kasus-kasus yang sedang atau kasus-kasus tanpa penyulit, sedang tanpa penyulit. Tetapi manakala kemudian kita temukan kasus yang berat dengan penyulit maka inilah yang akan kita rujuk ke rumah sakit rujukan. Di rumah sakit rujukan tentunya akan lebih intensif lagi pelaksanaan perawatannya, polanya adalah pola yang kita bangun di Jakarta. Sudah barang tentu pemerintah daerah pun juga akan mengaplikasikan di daerah masing-masing dengan pola-pola yang sama seperti yang kita buat di Jakarta saat ini, sehingga tidak perlu lagi ada kepanikan di masyarakat bahwa di dalam penanganan kasus ini seakan-akan tidak ada perhatian.

Ini yang mari kita tata dengan baik sehingga tidak semua orang yang sakit berbondong-bondong menuju ke rumah sakit dan tidak semua kasus isolasi harus dilaksanakan di rumah sakit, kalau cara berpikir ini bisa kita tata kembal, sudah barang tentu dengan kerja bersama, kerjasama secara sinergi kemudian saling mengingatkan Insyaallah ini akan bisa tertangani dengan lebih baik.

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Perawat Indonesia Minta Physical Distancing Dilakukan Masif dan Tegas Karena Kasus Corona Makin Meningkat

Oleh

Fakta News

Jakarta – Angka penularan virus Corona (COVID-19) di Indonesia terus meningkat. Persatuan perawat meminta masyarakat untuk melakukan jaga jarak atau physical distancing.

“Saya kira physical distancing ini dilakukan masif dan tegas,” ucap Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Harif Fadhillah, Jumat (27/3/2020).

Menurutnya masih ada masyarakat yang abai jaga jarak. Sehingga, perlu ada ketegasan peraturan.

“Ya kalau melihat penyanggah di DKI, itu banyak yang berkeliaran. Imbauan kepada masyarakat supaya tetap di rumah,” katanya.

Sebelumnya, pemerintah memperbarui data kasus pasien yang positif terinfeksi virus Corona (COVID-19) di Indonesia. Jumlah kasus positif Corona kini bertambah menjadi 1.046 orang.

“Total kasus menjadi 1.046,” kata juru bicara pemerintah terkait penanganan wabah Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang ditayangkan di saluran YouTube Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jumat (27/3/2020).

 

(mjf)

Baca Selengkapnya

BERITA

KPN Beri Bantuan Wastafel Portabel ke Pemkot Bogor Cegah Penyebaran Covid-19

Oleh

Fakta News

Bogor – Upaya pemerintah Kota Bogor dalam pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19 atau virus Corona salah satunya adalah menyiapkan wastafel portabel disejumlah pusat keramaian warga. Langkah Pemkot Bogor tersebut mendapat dukungan dari organ relawan Komite Penggerak Nawacita (KPN).

KPN secara langsung menyerahkan bantuan wastafel portabel kepada Pemkot Bogor yang diterima langsung oleh Wakil Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Dodi Ahdiyat, Jumat (27/3).

Wakil Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Bogor Dodi Ahdiyat mengungkapkan apresiasi dan terima kasih atas sumbangan wastafel portabel dari KPN. Rencananya wastafel portabel tersebut akan ditempatkan di titik-titik fasilitas umum atau akses masuk dan keluar ruangan.

“Kami mengucapkan terima kasih sekali atas bantuan KPN yang telah menyumbangkan wastafel portabel. Sumbangan ini sangat berarti apalagi saat ini Kota Bogor juga KLB Covid-19 dan masuk zona merah,” ungkap Dodi.

“Wastafel portabel ini akan kita manfaatkan untuk ditempatkan di fasilitas umum atau tempat yang menjadi akses masuk dan keluar ruangan, terutama di Posko Penanganan Covid-19 ini,” lanjutnya.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim pun mengucapkan apresiasi atas kepedulian KPN dalam membantu pemerintah dalam penanganan pandemi Corona. Tak lupa Dedie juga mengucapkan terima kasihnya atas sumbangan wastafel portabel dari KPN, dan berharap dapat bermanfaat bagi masyarakat sehingga dapat membantu mencegah penyebaran virus Corona lebih luas.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan KPN yang telah menyumbangkan wastafel portabel ini, mudah-mudahan apa yang diberikan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19 yang saat ini kit hadapi bersama. Mudah-mudahan apa yang disumbangkan KPN mendapat balasan dari berlipat ganda dari Allah SWT,” ujar Dedie.

Perwakilan KPN Shane M Hasibuan mengatakan, bantuan wastafel portabel merupakan salah satu bentuk upaya nyata relawan dalam membantu pemerintah dalam pencegahan penyebaran Corona di Indonesia terutama Kota Bogor. Rencananya wastafel portabel ini akan ditempatkan di sejumlah titik keramaian yang rawan penyebaran virus Corona.

“Dengan adanya wastafel portabel ini diharapkan meningkatkan kesadaran dan semangat kepada semua masyarakat untuk menjaga kebersihan diri mulai dari hal yang terkecil sekalipun yaitu mencuci tangan,” ujar Shane.

Pada wastafel portabel ini juga terpasang lengkap imbauan dengan langkah-langkah yang tepat dalam mencuci tangan yang baik dan benar serta imbauan pencegahan Corona di masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu pengurus KPN Pitono Adhi menyampaikan pembagian wastafel portabel ini tak hanya ditujukan di wilayah Bogor saja, namun juga di sejumlah titik di Jakarta. Ia berharap melalui pembagian wastafel portabel tersebut, masyarakat menjadi lebih sadar bahwa virus Corona dapat dicegah, salah satunya dengan menjaga sanitasi tangan.

Menurutnya selain wastafel portabel, KPN juga telah membagikan hand sanitizer dan masker gratis bagi warga yang kesulitan mendapatkan alat pencegahan diri dari Corona.

“Selain wastafel portabel yang saat ini kita bagikan, KPN telah mendistribusikan hand sanitizer maupun masker untuk warga menengah ke bawah, terutama mereka yang mempunyai aktifitas dan saling berinteraksi langsung, misalnya pengemudi online, supir bajaj maupun pedagang keliling,” ujar Pitono.

“Mereka ini terpaksa tetap bekerja dan keluar rumah di tengah gempuran wabah Corona. Oleh sebab itu kami berusaha membantu mereka dengan memberikan hand sanitizer agar mereka terlindungi dari ancaman wabah tersebut,” tambah Pitono.

Pitono pun mengajak elemen masyarakat bahu membahu, saling bergotong-royong untuk sama-sama bergerak melawan virus corona ini. Tak lupa juga menjaga pola hidup bersih dan sehat, rutin mengonsumsi sayur dan buah-buahan, serta berolahraga secara teratur.

“Kami harap masyarakat untuk dapat patuhi imbauan pemerintah dalam pencegahan Corona dengan membatasi kontak fisik, menunda sementara kegiatan yang mengumpulkan orang banyak dan tidak keluar rumah jika tidak terlalu penting,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Komite Penggerak Nawacita (KPN) merupakan organ relawan pendukung Jokowi yang terdiri dari berbagai organ seperti Almisbat, Alumni Menteng 64 (AM 64), Blusukan Jokowi, Bara JP, Komunitas Alumni Perguruan Tinggi (KAPT), Kornas-Jokowi, MAPPAN, Paguyuban Relawan Nusantara, Pengawal Pancasila Damai (PPD), RPJB dan Seknas Jokowi.

 

(chrst)

Baca Selengkapnya

BERITA

Mendikbud Nadiem: Realokasi Anggaran Kemendikbud untuk Penanganan Covid-19 Rp 405 Miliar

Oleh

Fakta News
Mendikbud Nadiem Makarim

Jakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim melakukan realokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 untuk penanganan Coronavirus Disease (COVID-19). Nadiem menganggarkan Rp 405 miliar.

“Jumlah realokasi anggaran untuk mendukung pencegahan COVID-19 sebesar Rp 405 miliar,” kata Nadiem dalam keterangan tertulisnya pada Jumat (27/3/2020).

Nadiem menjelaskan sumber realokasi anggaran tersebut berasal dari penyisiran anggaran di setiap unit kerja di Kemendikbud. Dia mengefisienkan anggaran rapat hingga perjalanan dinas Kementerian untuk menangani COVID-19.

“Ini adalah anggaran yang disisir dari efisiensi berbagai unit utama dan program. Anggaran seperti perjalanan dinas ataupun rakor-rakor dengan banyak orang yang tidak mungkin dilakukan di saat-saat seperti ini,” ujar Nadiem.

Lebih lanjut Nadiem mengatakan realokasi anggaran tersebut akan digunakan untuk program penguatan kapasitas 13 rumah sakit pendidikan (RSP) dan 13 fakultas kedokteran (FK) yang menjadi test center COVID-19.

Sebanyak Rp 250 miliar dari total realokasi anggaran akan digunakan untuk peningkatan kapasitas dan kapabilitas rumah sakit pendidikan.

“Kita ingin memperkuat rumah-rumah sakit pendidikan menjadi test center yang bisa melakukan tes hingga 7.600 sampel per hari dan semua rumah sakit pendidikan mampu menangani pasien COVID-19 sesuai kapasitas yang ada,” terang Nadiem.

Selain itu, anggaran itu digunakan untuk menggerakkan 15 ribu relawan mahasiswa dalam melakukan upaya mitigasi pandemi Corona. Sebanyak Rp 5 miliar akan digunakan untuk pengadaan bahan habis pakai untuk KIE, triase, pelacakan, dan pengujian di rumah sakit pendidikan dan fakultas kedokteran.

Selanjutnya, sekitar Rp 60 miliar akan digunakan untuk edukasi COVID-19 ini. Selain itu, Nadiem menyebutkan Rp 90 miliar dari realokasi anggaran akan dipakai dalam pelaksanaan 150 ribu rapid test di lima rumah sakit pendidikan.

“Terutama kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) serta tugas-tugas lainnya sesuai kebutuhan, kompetensi, dan kewenangan relawan yang dikoordinasikan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19,” tutur Nadiem.

Berikut daftar rumah sakit pendidikan yang akan melakukan penanganan COVID-19:

  1. Universitas Airlangga
  2. Universitas Diponegoro
  3. Universitas Gadjah Mada
  4. Universitas Hasanuddin
  5. Universitas Indonesia
  6. Universitas Padjadjaran
  7. Universitas Sumatera Utara
  8. Universitas Andalas
  9. Universitas Brawijaya
  10. Universitas Mataram
  11. Universitas Sebelas Maret
  12. Universitas Tanjungpura
  13. Universitas Udayana.

 

(chrst)

Baca Selengkapnya