Connect with us
Aktivis jadi Birokrat Sekretariat Negara, Indra Iskandar

“Bahaya, Jika Aparatur Sipil Negara Masuk ke Sistem Politik”

Jakarta – Bagi seorang aktivis yang kemudian terjun menjadi birokrat, tentunya akan merasa kesulitan di awal-awal ketika ia menyesuaikan diri di lingkungan kerjanya. Idealismenya selalu membuat sikapnya bertentangan dengan nuraninya. “Di awal-awal  menyesuaikan diri itu penting, namun tidak meninggalkan cita-cita ideal seperti yang tertanam ketika masih menjadi aktivis, untuk melakukan perubahan mental di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN) ke arah yang lebih baik lagi,” tutur Indra Iskandar, seorang birokrat di Sekretariat Negara yang berasal dari kalangan aktivis itu.

Banyak persoalan selama Indra menjalani tugasnya di birokrasi. Bahkan, seperti karena persoalan sentimen kelompok perguruan tinggi yang bekerja di lingkungannya, karier pun dan keahlian pun terlibas hanya oleh kepentingan kelompok tidak membuatnya surut untuk terus mengabdi.

“Ujung-ujungnya, perubahan mental ASN yang seharusnya menjadi pendorong pekerjaan lebih baik, efisien dan cepat pun, jadi dikorbankan,” tutur Indra ketika diwawancarai M Riz, Koster Rinaldi dan Toa dari fakta.news, sepekan lalu di Jakarta.

Nah, bagaimana sikap seorang aktivis  ketika terjun di kalangan birokrat? Sikap seperti apa yang harus ditunjukkan ketika muncul sentiment kelompok di lingkungan kerjanya? Berikut ini petikan wawancaranya.

Sebagai seorang aktivis yang lalu terjun ke birokrat, apakah ada kendalanya?

Pasti ada. Bagi aktivis yang tadinya berkegiatan yang penuh idealis, mengkritisi setiap kebijakan-kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, kemudian kami masuk ke dalam sistem, sementara dalam sistem itu kami tidak bisa menghindari apa yang disebut subordinasi. Masalahnya, jika kami masuk kedalam sistem kami harus beradaptasi dengan sistem itu.

Selain itu, dalam kelembagaan birokrasi itu, ada jenjang di dalam kepemerintahan. Orang yang baru masuk, dalam tahap staf kemudian ada jenjang tangga-tangga ke depan yang naik terus secara alamiah. Memang, pertama kali kami masuk sebagai staf ada situasi dimana kami dilematis, misalnya hal-hal yang dulu dalam dunia aktivisme itu adalah sesuatu yang ideal tetapi ketika masuk ke dalam sistem birokrasi itu tidak seperti apa yang dibayangkan.

Dulu kami membayangkan waktu mengkritik pemerintah, kami berfikir kalau 1 atau 2 hari bisa selesai, setelah masuk ke dalam sistem ternyata tidak sesederhana itu. Merubah cara berfikir itu yang bikin kami sering gagap. Tapi kalau bertekad untuk menyelesaiakan satu cita-cita seperti dulu saat masih menjadi aktivis, yah mau gak mau harus dihadapi dengan satu tekad ketika ada perubahan, sesuatu yang ‘ideal’ itu bisa terwujudkan.

Selama ini kesulitan pola pikir dasar, sehingga ada kendala yang sulit untuk direalisasikan?

Sebenarnya, tidak seburuk yang kami pikirkan atau sedramatis yang kami duga. Karena, pada saat masuk ada juga yang masuk dengan pola pikir pragmatis dengan cita-cita pragmatis juga. Alasannya, karena pada saat di kampus itu pola pikiran pragmatis sudah ada maka yang punya idealisasi seperti kami yang ingin merubah sesuatu, dimulai dengan merapihkan sesuatu hal-hal kecil yang nantinya akan berefek kepada sesuatu hal yang besar.

Sudah ada yang terwujud? Misalkan perubahan-perubahan itu yang sudah tersampaikan atau sudah berhasil mengubah sesuatu ketika masuk birokrat?

Banyak juga. Sesuatu kemudian berubah secara alamiah, ternyata cita-cita untuk mewujudkan sesuatu yang ideal itu bisa terwujudkan, misalkan secara teknis ketika saya ditempatkan di unit Sekretariat Negara (Setneg), pola kerja untuk pengadaan barang dan jasa  dilakukan secara manual dan tertutup, kemudian atas dasar semangat beberapa teman yang ingin melakukan idealisasi di kantor itu kami buat SOP, walaupun waktu itu payung hukumnya secara nasional belum ada.

Kalau sekarang kan standar pengadaan barang dan jasa secara nasional kan sudah ada, seperti lelang elektronik dan macam-macam, dulu itu kan 15 – 20 tahun yang lalu belum ada. Sehingga, inovasi-inovasi seperti itu bisa keluar karena banyak teman punya cita-cita yangg sama tentang Indonesia ke depan dan juga tentang birokrasi ke depan.

Disamping itu, selama 10 tahun belakangan ini ada semangat reformasi birokrasi, walaupun semangatnya masih formal atau masih normatif, tapi semangat untuk berfikir dari hal-hal kecil seperti ini sudah bisa dimulai sesuatu untuk ke depannya, dan sekarang di lingkaran birokrasi di Setneg sudah tertib. Dan, tidak hanya di Setneg sekarang pun di lembaga kepresidenan sudah sangat tertib, mungkin meskipun itu tidak terekspos tetapi bisa menjadi contoh birokrasi di tempat-tempat lain.

Jadi, kendala apa yang dihadapi para aktivis yang terjun di birokrasi itu, kesulitan menyesuaikan dirinya, karena person yang dihadapinya,  pimpinannya, atau sistemnya yang belum ada?

Bisa semuanya. Kami itu berhadapan dengan yang namanya mentalitas orang-orang yang masih berpikiran lama dan juga sistemnya sendiri memang belum mendukung ke arah sana. Jadi, kami berhadapan pada 2 situasi pada menghadapi sistem dan juga menghadapi budaya yang sudah ada;

PSX_20170908_124935

Indra Iskandar

Jadi untuk mengatasi kesulitan itu bagaimana caranya?

Perlu kesabaran. Jadi seperti yang saya sampaikan tadi pada saat ada di dunia aktivis, sesuatu pekerjaan bisa diselesaikan 2 – 3 hari, tapi pada saat sudah masuk dalam 2 – 3 hari itu tidak mungkin bisa, butuh kesabaran juga yah, karena yang harus dihadapi itu situasi besar, paragdima yang sudah bertahun-tahun.

Ketika Anda masuk itu berapa tahun bisa berubah?

Saya rasa sih ketika sejak saya masuk, itu baru terasa efektif setelah 5 tahun. Setelah itu baru kami mengajak teman-teman lain masuk pada tahun kedua ketiga berikutnya. Sejak itu semangatnya sudah mulai sama, walaupun tidak semuanya sama, tapi sebagian besar sudah berubah.

Perubahan mental seperti itu di birokrat, berpengaruh besar tidak terhadap sistem?

Memang berpengaruh sih, tapi semangat ini kan bukan hanya di lingkungan kerja saja. Era pemerintahan saat ini, juga melakukan percepatan untuk suatu keadaan lebih baik. Kalau mau lebih tegas lagi dalam pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), ini sangat serius sehingga semangat itu juga mulai berimbas pada yang lain, mungkin bukan untuk teman-teman yang lain itu punya kesadaran atau enggak tetapi semangat itu gaungnya itu atmosfinya, itu membuat semua untuk berpikir pada persaingan yang terbuka (meritokrasi).

Jadi siapapun yang punya kreativitas tinggi pasti akan muncul. Jadi , yang punya semangat/mentalitas dan idealisme yang tinggi pasti secara alamiah akan lebih unggul dari teman-temandengan pola pikir lama. Mereka pasti tertinggal, dan ini secara alamiah tidak bisa dihindari.

Apakah sentiment perguruan tinggi, seperti suatu lembaga pimpinannya dari universitas tertentu, maka banyak alumninya yang diberi kedudukan di lembaga itu, bukankah hal ini akan mengganggu proses revolusi mental?

Sebenarnya, isunya bagaimana aktivis yang ingin melakukan perubahan masuk kedalam suatu birokrasi itu tidak ada pengelompokan seperti basis universitas, basis agama, dan lain-lain. Artinya, tak mengenal sentimen suatu perguruan tinggi. Di perguruan tinggi teman-teman yang masuk juga mempunyai semangat idealisme, lalu teman-teman yang basisnya bukan aktivis juga mempunyai semangat idealisme yang sama, kami yang mempunyai semangat yang sama belasan tahun yang lalu pasti memiliki wawasan yang lebih.

Yang agak sulit switchnya, kebiasaan dulu ketika kami di dunia aktivis kami berpikir segala sesuatunya itu egaliter, dalam manajemen itu gak ada yang egaliter, ada hirarkinya. Tetapi bagi aktivis seperti saya walaupun sudah ada hirarki, saya memberi kebebasan berkreasi kepada staf di bawah dan tidak terlalu membatasi, sehingga itu terasa seperti keluarga sekali.

Teman-teman yg berangkat dari dunia aktivis,menganggap hirarki itu adalah sesuatu yang dipandang menghambat dan itu mungkin jadi kendala untuk percepatan-percepatan, karena hirarki itu di satu sisi baik untuk tidak anarkis, tetapi di sisi lain itu juga jadi satu kendala.

Inovasi sudah bisakah  diterima dengan baik di lingkungan birokrat?

Ada sebagian, jadi tugas seorang aktivis di dunia birokrasi adalah menjadikan birokrasi sebagai kata benda bukan kata sifat.  Idiom jadi birokrat itu salah, sehingga birokrat menjadi sesuatu yang negatif. Padahal justru yang harus disadari sekarang oleh teman-teman aktivis itu, adalah memelihara semangat melakukan perubahan dimanapun dia berada, dan dilakukan dengan konsisten.

Pertama, kalau dia (aktivis) itu di luar sistem, kan dia tidak bisa melakukan perubahan. Kedua, dia harus bisa menjadi teladan dan inspirasi bagi lingkungannya, bahwa birokrasi itu harus menjadi mesin dari keputusan-keputusan politik sehingga dia harus loyal kepada pimpinan politiknya, jika tidak loyal maka bisa terjadi kekacauan di dalamnya.

Maka, teman-teman walaupun sudah masuk k edalam birokrasi sikap konsisten itu harus tetap terjaga. Disamping itu, yang tidak bisa dihindari dia hidup di suatu sistem atau komunitas yang butuh kesabaran untuk melakukan perubahan.

Artinya sekarang masih terjadi kendala meskipun sistem itu sudah berubah, walaupun masih ada mental birokrat berbasis perguruan tinggi atau berbasis partai?

Itu ada, karena memang gak bisa dihindari, karena dalam kehidupan ini tidak hitam putih,  tidak semua baik dan hal buruknya yang harus dihindari. Kalau visi  dan kepentingannya bukan untuk kebaikan kantor maka pasti bisa disimpulkan ada hidden agenda.

Latar belakang masuk ke Setneg dulu apa?

Dulu background saya kan di Tata Kota Pemda DKI Jakarta. Pada saat itu beberapa tahun di DKI ada perubahan-perubahan reformasi, Gus Dur jadi Presiden. Karena pernah hidup di dunia aktivis, maka Gus Dur pun merekrut kami.

Namun, karena saat itu bukan di setneg atau lingkungan pemerintahan pusat tetapi provinsi dengan fokus pada Peraturan Pemerintah dan perundang-undangan. Saat Gus Dur masuk, banyak melakukan pembenahan-pembenahan.

Saat awal-awal reformasi itu, birokrasi masih mencari bentuk. Pada saat Gus Dur lengser, saya melakukan pilihan apakah kembali lagi ke Pemda DKI atau terus di Setneg, tetapi beberapa pejabat Setneg meminta untuk terus bertahan dan bergabung disitu, itulah prosesnya. Padahal basis keilmuan saya teknik sipil, jadi untuk menambah pengetahuan saat di setneg,kuliah lagi di Administrasi Kebijakan Publik Universitas Indonesia.

Lalu, ke depannya birokrasi harus seperti apa?

Kedepannya, sebenarnya kekuasaan politik harus memahami birokrasi dan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan difungsikan secara professional sebagai mesin dan jangan dimasukkan ke dalam sistem politik saat itu. karena akan berbahaya.

Birokrasi itu siapapun pemimpin politiknya, harus loyal pada sistem, pada negara dan pemerintahan. Kedepannya, mungkin paradigma itu harus diperkuat, harus dibedakan mana political pointy mana professional pointy,

ASN itu, harus dikuatkan pada system professional pointy jangan dicampur baur ke political pointy. Pemerintah harus membuat benang merah jangan mencampur baurkan urusan professional ke dalam politik. ASN ke depan itu tidak semuanya bisa disalahkan ketika bekerja, jadi tergantung supirnya itu sendiri mau dibawa kemana, kan dalam ASN tersebut ada reward and punishment secara maksimal .Sekarang seperti di Setneg ada tunjangan kinerja, sehingga jika tidak sesuai tunjangan kinerja harus dievaluasi.

Lalu persoalan ASN eselon 1  diambil dari luar seperti apa?

Ini soal persepsi saja. ASN itu sekarang untuk beberapa kementerian jabatan eselon 1 diambil dari luar, han hal itu ada plus minusnya. Mungkin plusnya itu jabatan-jabatan strategis dari luar akan dapat tenaga2 profesional yang sudah bepengalaman dan ahli, tetapi kan seharusnya ada jenjangnya. Menurut persepsi saya, setiap jenjang itu ada wisdom-nya, kalau orang belum pernah melawati sesuatu jenjang dia akan mengalami masalah di jenjang berikutnya, karena dia belum pernah mengalami perintah atasan dan sebagainya.

Jadi di sini ada wisdom, meskipun orang itu mempunyai banyak skill assessment (keahlian) seperti komputernya, bahasa inggrisnya, dan lain-lain. Teteapi dia belum pernah merasakan asam garamnya naik jenjang tersebut. Dia belum pernah merasakan leadership atau pengalaman birokrasi, jadi dia belum mempunyai pengalaman birokrasi tetapi di harus membawahi beberapa eselon 2, eselon 3, yang banyak staf tetapi pengalaman itu yang masih kurang. Jadi ASN itu, mengevaluasi birokrat itu kurang kreatif dan kurang pengalamannya buat orang yang dari luar yang mau menduduki jenjang eselon 1. (***)

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

WAWANCARA

Sharon Margriet: Generasi Milenial Butuh Kemasan Menarik untuk Belajar Sejarah

Oleh

Fakta News
Sharon Margriet Sumolang dalam Diskusi Sejarah Kebangsaan yang digelar Komunitas Alumni Perguruan Tinggi (KAPT) Rabu, 28 Agustus 2019

Jakarta – Tidak terasa kemerdekaan Indonesia sudah menginjak usia 74 tahun. Tentunya sudah banyak pencapaian yang telah dilakukan sejauh ini. Topik tentang kemerdekaan pun masih hangat dibicarakan, termasuk bagi generasi milenial.

Menurut mereka, berbicara soal kemerdekaan Indonesia, maka secara tidak langsung bicara soal sejarah. Namun tak sedikit dari mereka yang berharap agar sejarah disajikan semenarik mungkin. Tak melulu sekedar pengetahuan tentang kejadian, tempat, maupun tokoh dalam sejarah tersebut.

Hal ini diungkapkan Runner Up Kedua Miss Indonesia 2019 asal Sulawesi Utara, Sharon Margriet Sumolang, dalam Diskusi Sejarah Kebangsaan yang diadakan Komunitas Alumni Perguruan Tinggi (KAPT), di Rumah Bersama Pelayan Rakyat, Rabu (28/8/2019). Sharon tampil sebagai pembicara mewakili generasi milenial, menurutnya generasi sekarang itu mempunyai cara yang unik untuk menghargai sejarah.

“Kami mungkin generasi yang dianggap cuek akan sejarah. Yang kami dapatkan, sejarah sekedar pengetahuan tentang tempat, tahun, dan tokoh, tidak tentang value. Tapi kami adalah generasi yang kalau sudah addict, kami akan menjadi penyebar yang efektif, kami bisa menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat,” papar Sharon.

Dalam diskusi bertema “Menelusuri Jejak Pemikiran Bapak Bangsa” itu, Sharon menyampaikan banyak hal yang menurutnya perlu mendapat perhatian generasi terdahulu.

“Kami butuh wadah-wadah seperti ini, dimana kami boleh mencurahkan isi pikiran kami tentang apa yang dipikirkan oleh generasi terdahulu. Kami punya cara yang unik untuk menghargai sejarah,” imbuh dara cantik berdarah Manado, Padang, dan Jawa ini.

Menurut Sharon, generasi milenial dianggap kurang menyukai hal-hal yang ruwet seperti politik, ekonomi, bahkan sejarah. Padahal stigma yang seperti itu keliru.

“Ketika disandingkan dengan data dan fakta, mohon maaf itu malah kami kurang tertarik. Kami butuh brand new fresh approach untuk memperkenalkan sejarah kepada kami. Kami suka hal-hal yang kreatif yang tidak terlalu kaku,” tambahnya.

Baca Juga:

 

Munir

Baca Selengkapnya

BERITA

Pembangunan Tidak Merata di Banten, Maruf: Dahnil Gak Tau Apa-apa

Oleh

Fakta News
Dahnil Banten Maruf
Kiai Ma'ruf saat menghadiri Silaturahmi Akbar Banten Bersatu untuk Indonesia

Serang – Calon wakil presiden nomor urut 01, KH Maruf Amin, seusai memberikan pidato kebangsaannya di acara Silaturahmi Akbar Banten Bersatu untuk Indonesia, pada Minggu (3/3/2019), di Kota Serang, menepis tudingan juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjutak terkait pembangunan yang tidak merata di Pandeglang, Banten.

Berikut kutipan wawancara Maruf Amin dengan Fauzan dari Fakta.News bersama para wartawan yang menghadiri acara tersebut.

Terkait cuitan Dahnil yang menyebut bahwa pembangunan di Banten tidak merata, khususnya di Pandeglang, benarkah tudingan itu?

Dahnil tidak memahami wilayah Banten. Padahal Pemerintah saat ini tengah melakukan pembangunan di wilayah Pandeglang.

Dia gak tau apa-apa. Dia bukan orang Banten

Apa saja yang tengah pemerintah bangun di Kabupaten Pandeglang?

Ada tol Serang-Panimbang, program KIP, Program Keluarga Harapan dan masih banyak lagi,” imbuhnya.

Jadi belum selesai semuanya kyai?

Sebagai putra daerah Banten tentu saya mengetahui jika pembangunan di Banten secara keseluruhan telah berjalan secara bertahap. Tentunya butuh waktu, step by step. Insya Allah semuanya akan tepat waktu.

Baca juga:

Pesan pak kyai terhadap warga Banten seperti apa Pak Kyai?

Warga Banten agar menjaga NKRI, karen wilayah Banten ini adalah baagian dari sejarah perjuangan panjang dalam merebut kemerdekaan.

Saya tadi meminta agar warga Banten membela Indonesia lahir dan batin. Perbanyak solawat agar negeri ini tenteram. Karena Banten juga bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Banten akan mengawal NKRI sampai akhir zaman.

Baca Selengkapnya

BERITA

Semua Koperasi Yang Miliki Dana Bergulir Harus Berbasis Digital

Oleh

Fakta News
Dana Bergulir, KUMKM
Direktur Utama LPDB, Braman Setyo(Istimewa)

Jakarta – Program penyaluran dana bergulir di Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) hingga akhir 2018 masih belum memenuhi target. Meski begitu, sisa dana sebagai modal bagi pelaku koperasi dan UMKM di Indonesia ini akan tetap disalurkan pada tahun 2019.

Direktur Utama LPDB KUMKM, Braman Setyo mengatakan, dari total Rp1,2 triliun penyaluran dan bergulir hingga akhir 2018 baru tersalurkan sebesar 80%. Sementara sisanya, yakni sekitar Rp200 miliar akan disalurkan pada 2019 ini. “Kami bukan seperti di kementerian atau lembaga. Desember berhenti, kita tidak berhenti. Berjalan terus sampai tahun selanjutnya,” ujarnya kepada akhir Desember lalu.

Baca juga:

Setyo pun mengaku optimis, bahwa dana bergulir KUMKM ini akan tersalurkan semuanya. Sebab, saat ini ada sebanyak 41 dokumen pengajuan dalam proses yang berpotensi lolos. Ke-41 proposal tersebut telah memasuki pengkajian tahap dua. “Bahkan, beberapa telah masuk analisis yuridis maupun manajemen risiko untuk kemudian ke tahap komite,” ujarnya.

Ia menjelaskan, angka 41 proposal tersebut terbagi untuk penyaluran melalui skema konvensional. Sebanyak 26 proposal dengan jumlah plafond pengajuan Rp846 miliar dan melalui skema syariah sebanyak 15 proposal dengan jumlah plafond pengajuan Rp342 miliar. Artinya, ada tambahan potensi penyaluran hingga Rp1,18 triliun.

Baca Selengkapnya