Connect with us

Tak Hanya Makan dan Minum, Puasa Gadget Saat Ramadhan Juga Beri Banyak Manfaat

puasa gadget

Jakarta – Tak dapat dipungkiri, bahwa gadget merupakan teknologi yang kini jadi acuan untuk mendukung segala aktivitas manusia dalam sehari-hari. Dari bangun tidur hingga tidur kembali, tampaknya manusia tidak bisa lepas dari yang namanya gadget.

Memang banyak manfaat yang didapatkan dari teknologi gadget ini jika digunakan secara bijaksana. Komunikasi jadi lancar, aktivitas kerja terbantu, mobilitas makin mudah dan sebagainya.

Akan tetapi, jika pemakaiannya berlebihan, justru akan memberikan dampak buruk. Salah satunya adalah kesehatan yang menurun. Sehingga perlu sesekali berfikir agar sejenak berlepas diri dari ponsel atau puasa gadget.

Berminat untuk melakukan puasa gadget? Inilah manfaat sehat yang bisa kamu dapatkan seperti dilansir dari Boldsky, Kamis (2/5/2019).

1. Menenangkan Mata yang Tegang

Saat kamu terlalu lama menatap layar gadget entah itu laptop atau handphone, maka otot mata lama-kelamaan akan tegang.

Apalagi, radiasi yang dipancarkan pun juga kuat. Nah, ketika kamu melakukan puasa gadget, maka otot mata jadi lebih rileks dan tenang.

2. Quality Time dengan Pasangan

Sering melihat pasangan yang secara fisik selalu bersama tapi mata mereka tak bisa lepas dari gadget?

Nah, tanpa disadari kebiasaan ini mampu membuat mereka yang berpasangan jadi menjauh. Oleh karena itu agar hubungan kamu dan pasangan jadi lebih berkualitas, maka letakkan gadget kamu saat sedang bersama pasangan.

Baca Juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

TEKNOLOGI

Sekarang, Aplikasi Apple iCloud Tersedia di Windows

Oleh

Fakta News
icloud

Jakarta – Apple merilis aplikasi iCloud baru untuk Windows. Dengan iCloud versi yang ditingkatkan, pengguna Windows bakal lebih mudah untuk berbagi data dari komputer ke perangkat iOS.

Dilansir dari blog resmi Windows, Senin (17/6/2019), pengguna bisa dengan mudah mengakses foto, video, email, kalendar, file dan informasi penting lainnya di Windows 10 PC.

Aplikasi iCloud ini memperkenalkan pengalaman iCloud Drive baru untuk pengguna Windows 10 yang juga mendukung fitur OneDrive Files On-Demand, memungkinkan pengguna lebih produktif meskipun dalam keadaan offline dan transfer data lebih cepat di iOS.

Jadi, jika Anda adalah pengguna iOS yang memakai komputer Windows dan ingin integrasi yang lebih baik serta mengakses penyimpanan iCloud, pergilah ke Microsoft Store untuk mendapatkan kemudahan.

Aplikasi iCloud di Windows juga memiliki fitur yang sama dengan macOS. Jika di macOS pengguna bisa mengaksesnya langsung melalui Finder, pemakai Windows bisa via iCloud melalui Windows Explorer.

Aplikasi ini tersedia secara gratis di Microsoft Store bagi user Windows 10. Sayang, untuk pengguna di bawah Windows 10 masih harus menggunakan metode lama, yaitu mengunduh via situs Apple.

Baca Juga:

Dev

Baca Selengkapnya

TEKNOLOGI

Telegram vs WhatsApp, Mana Yang Lebih Aman?

Oleh

Fakta News
telegram

Jakarta – Telegram dan WhatsApp merupakan aplikasi chat yang sudah populer di Indonesia. Sama-sama menawarkan keamanan yang kuat dengan sistem enkripsi, kedua aplikasi chat ini juga menawarkan beberapa fitur lainnya yang hampir mirip satu sama lain. Berikut ulasannya.

Inilah persamaan dan perbandingan antara Telegram dan WhatsApp.

1. Fitur dalam Aplikasi

Telegram dan WhatsApp memungkinkan berbagi gambar dan video, di samping pengiriman pesan teks.
Telegram memiliki dukungan multi-perangkat penuh dan tersedia di iOS, Android, Windows, dan Linux. Aplikasi ini juga menawarkan fitur sinkronisasi cloud pada penyimpanan server permanen.

Artinya pengguna dapat menginstal dan menggunakan desktop Telegram tanpa menginstal aplikasi pada ponsel cerdas mereka. Obrolan dan pengaturan juga secara otomatis dicadangkan ke server aplikasi.

Ketika pengguna memigrasikan perangkat, obrolan dan pengaturan Telegram dapat diunduh secara otomatis ke perangkat baru mereka, apa pun platformnya. Tidak seperti Telegram, WhatsApp mengharuskan pengguna untuk mengatur cadangan cloud secara manual dan tidak mendukung migrasi dari Android ke iOS.

WhatsApp hanya memungkinkan grup hingga 256 anggota, sementara Telegram mendukung grup hingga 3.000 pengguna. Telegram juga dilengkapi saluran dan bot, yang memungkinkan pengguna untuk membuat ruang obrolan.

Integrasi Telegram juga open source, yang memungkinkan pengembang untuk menambahkan dukungan Telegram ke aplikasi mereka sendiri. Kedua aplikasi ini memungkinkan pengguna menghapus pesan terkirim, sementara Telegram juga memungkinkan untuk mengedit pesan terkirim.

Telegram menawarkan banyak fitur tambahan yang menarik bagi pengguna. Sedangkan WhatsApp lebih mudah diakses oleh pengguna umum dan memiliki antarmuka serta perangkat yang lebih sederhana.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

BERITA

Polisi Kini Patroli Grup WhatsApp, Ini Kata Menkominfo

Oleh

Fakta News
grup whatsapp
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

Jakarta – Kepolisian mulai melakukan patroli siber hingga ke grup Whatsapp (WA). Menanggapi hal tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyetujui dan mendukung langkah Polri tersebut, namun ia memberitahu masyarakat yang tidak ada kaitannya dengan aksi kriminal untuk tidak khawatir grup WhatsApp-nya akan dipantau.

“Polri itu menyampaikan, dia akan masuk (grup) apabila ada laporan ada anggota grup yang commit a crime (melakukan tindak kejahatan). Misalnya ada 100 anggota grup, di dalamnya ada yang terkait kriminal, polisi bisa masuk bisa. Saya dukung,” kata Rudiantara, Senin, (17/6/19).

Pria yang akrab disapa Chief RA ini menegaskan, patroli grup WhatsApp tidak akan bentrok dengan kinerja mesin AIS. Dia mengatakan, patroli grup WhatsApp dan mesin AIS memiliki proses yang sama, salah satunya untuk melacak media sosial.

Tindakan ini bisa dilakukan, berdasarkan laporan masyarakat yang disebut dengan delik aduan. Bisa juga menggunakan delik umum, yang tidak memerlukan aduan, asalkan memang berpotensi ke arah kriminal.

“Kalau ada aksi kriminal, ada delik aduan, ada delik umum, anggota grup tersangkut, Polri baru akan masuk,” ujarnya.

Belakangan ini, tren kejahatan yang dilakukan lewat aplikasi pesan seperti WhatsApp memang sedang ramai dilakukan, terutama terkait penyebaran hoaks. Akibatnya, Kominfo sempat membatasi fitur gambar dan video di WhatsApp dan media sosial lain ketika penyebaran hoaks memuncak dalam momen kerusuhan 21-22 Mei lalu di Jakarta.

Langkah ini, menurut Kominfo, dapat menekan angka penyebaran hoaks dan mencegah provokasi-provokasi yang bisa ditimbulkan oleh hoaks yang disebar tersebut.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya