Connect with us

Bersedia Smartphonenya Dilacak, Pengguna Facebook Akan Terima Bayaran

facebook

Jakarta – Baru-baru ini, Facebook bakal membayar pengguna smartphone yang rela disadap. Melalui aplikasi bernama Study, raksasa media sosial ini akan memantau bagaimana pengguna menggunakan smartphone setiap harinya.

Dilansir dari The Verge (11/6), aplikasi Study ini akan memantau aplikasi mana yang diinstal pada smartphone seseorang, waktu yang dihabiskan menggunakan aplikasi tersebut, negara tempat Anda berada, dan data aplikasi tambahan yang dapat mengungkapkan fitur spesifik yang Anda gunakan.

Meski begitu, Facebook menyebutkan bahwa tidak akan melihat konten spesifik apa pun. Seperti pesan, kata sandi, dan situs website yang Anda kunjungi. Peluncuran aplikasi Study ini telah dilakukan beberapa bulan lalu, setelah aplikasi penelitian pelacakan pengguna Facebook Research ditutup karena kontroversi.

Namun, Facebook belum memberikan konfirmasi berapa besaran bayaran akan diterima oleh pengguna.

Dalam keterangan resminya, Facebook mengatakan bahwa tujuan dari program ini adalah untuk mempelajari aplikasi apa saja yang sering digunakan kebanyakan orang dan bagaimana pola mereka menggunakan aplikasi tersebut.

“Dengan aplikasi ini, kami mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk membantu kami membangun produk kami agar menjadi lebih baik lagi kedepannya,” tulis keterangan di Facebook Newsroom.

Baca Juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Kompetisi Startup Berhadiah Rp 140 Juta, Mau Ikut?

Oleh

Fakta News

Jakarta – NTT mengadakan NTT Startup Challenge 2019 yang untuk memberdayakan pengembangan startup di Indonesia dan negara lain di Asia Tenggara. Hadiah totalnya USD 10 ribu atau sekitar Rp 140 juta.

Ajang ini pun dijadikan kesempatan untuk memberikan dukungan kepada perusahaan-perusahaan rintisan yang memiliki kreativitas dan teknologi inovatif untuk menciptakan ekosistem persaingan yang sehat di negara ini.

NTT Startup Challenge pertama dilakukan pada tahun 2017, bermitra dengan sejumlah perusahaan-perusahaan global. Di NTT Startup Challenge 2019, akan ada 10 finalis yang akan terpilih untuk memberikan presentasi mengenai bagaimana mereka dapat mengakselerasi usaha mereka dan menjadi mitra NTT.

“Ajang ini diselenggarakan untuk mendukung pengembangan komunitas ekosistem usaha rintisan di Indonesia, dengan peluang-peluang untuk memberikan dana, akses ke para investor NTT dan infrastruktur teknologi berkualitas,” kata Hendra Lesmana CEO NTT Indonesia dalam keterangan yang diterima detikINET, Jumat (11/10/2019)

“NTT Startup Challenge 2019 menciptakan kesempatan yang besar untuk perusahaan-perusahaan rintisan mengembangkan usaha mereka sambil melihat setiap peluang dari transformasi digital yang saat ini sedang berlangsung,” ujar Yasunori Kinebuchi, pencetus NTT Startup Challenge.

Periode registrasi NTT Startup Challenge 2019 sudah dimulai sejak 8 Agustus 2019 dan akan berakhir pada 23 Oktober 2019. Terdapat 500 perusahaan rintisan yang berpartisipasi dalam mempromosikan solusi-solusi kreatif dan model bisnis inovatif mereka dengan berfokus pada bidang Big Data, Fintech, Artificial Intelligence, dan Sharing Economy.

Baca Selengkapnya

BERITA

2 Hal Penting yang Harus Diingat Saat Bikin Startup

Oleh

Fakta News

Jakarta – Startup kian menjamur di Indonesia dan menjadi salah satu pendukung ekonomi. Banyak anak muda jadi ingin bikin startup dengan harapan kesuksesan, tapi jangan asal.

Rieke Caroline selaku founder dari KontrakHukum menjelaskan beberapa masalah yang paling sering dialami startup. “Kalau masalah startup yang paling sering di consult ke kita sebenernya kalau dari profile user, mereka masih struggling menentukan kepemilikan saham di dalam PT,” sebutnya.

“Masih banyak start up founder yang nggak tahu kalau buat PT nggak boleh sendirian, itu harus berdua, apakah harus nama istrinya tapi kan nggak boleh kecuali ada perjanjian kawin, atau pakai nama adeknya atau kakaknya,” tambah Rieke baru-baru ini.

Contohnya adalah masalah pembagian hasil dari segi persentase, siapa yang mendapatkan lebih banyak atau lebih sedikit. Masalah kedua adalah pendaftaran brand yang sering kali dilupakan para pendiri startup.

“Banyak startup di luar sana yang, mengutip data Bekraf baru 11% dari pelaku ekonomi kreatif yang punya brand, brand lokal lah ada apa, mereka punya brand tapi mereka nggak daftarin, nah itu baru 11,5% yang mendaftarkan HAKI,” ungkap Rieke.

“Saya udah banyak banget denger startup founder nangis mereka bangun brand mereka tapi ternyata itu bukan milik dia, dia yang create tapi yang daftarin orang lain jadi kan bukan milik mereka,” lanjut Rieke.

KontakHukum sendiri adalah layanan hukum yang dipadukan teknologi. KontrakHukum memberikan layanan legal pada umumnya seperti pembuatan kontrak, pendaftaran merk, membuat badan usaha menjadi lebih simpel.

Baca Juga:

 

Munir

Baca Selengkapnya

BERITA

Waspada, Kini Penjahat di Indonesia Juga Incar Dompet Digital

Oleh

Fakta News

Jakarta – Fraud atau penipuan di sektor keuangan Indonesia terbilang tinggi. Kebanyakan pelaku masuk dalam berbagai celah yang ada di kartu kredit hingga yang saat ini ngetren yaitu akun e-wallet atau dompet digital.

“Angka fraud kita tinggi. Tapi cukup sulit menentukan posisinya. Singapura paling rendah, kalau Indonesia bisa dibilang antara masuk top 3-4,” kata Kevin Onggo, Country Manager Indonesia CashShield saat berbincang, Rabu (9/10/2019).

Namun ada beberapa perbedaan antara fraud yang terjadi di Indonesia dengan negara lain, contohnya target yang tidak sama. Misalnya di Eropa, fokus pelaku masih banyak di kartu kredit.

“Kalau di Indonesia saat ini targetnya kebanyakan ke e-wallet. Misalnya penipuan lewat modus permintaan OTP ke pengguna dompet digital tersebut,” tambahnya

“Tapi credit card value-nya sekarang nggak as precious as account. Kalau account dalemnya ada saldo, gue punya saldo gue bisa kena fraud ke credit card gue kan, akun ini bisa dipakai semua orang kan, tapi kalau credit card gue diambil gue tinggal telepon aja ke bank ‘eh credit card gue diambil nih’, tapi kalau account gue nelepon kan saldonya udah ilang,” sambungnya.

Di pihak lain, Justin Lie Founder & CEO CashShield mengatakan perusahaannya masuk ke bisnis proteksi dari fraud. “Kami masuk ke berbagai macam celah e-wallet, fraud sekarang lebih kompleks dan kami punya alat untuk mencegahnya,” klaim Justin.

Baca Selengkapnya