Connect with us
Tips

Cara Cek Data Facebook Bocor

Facebook.(Foto: Techstunt.com)

Jakarta Facebook rupanya telah mulai memberikan notifikasi kepada para pengguna yang data-datanya dirampas oleh perusahaan analisis politik Cambridge Analytica. Hal ini telah dilakukan oleh Facebook semenjak Senin (9/4/2018) pagi.

Beberapa pengguna Facebook yang menjadi korban pun mengaku sudah mendapatkan notifikasi tersebut di laman Facebook mereka. Hal ini juga berlaku bagi para 1,096 juta korban kebocoran data Facebook dari Indonesia.

Dikutip dari laman The Verge, Rabu (11/4/2018), ternyata masih banyak pengguna media sosial besutan Mark Zuckerberg tersebut yang khawatir apakah mereka menjadi korban atau tidak, meski tidak mendapatkan notifikasi di laman Facebook pribadi mereka.

Mendengar banyaknya permintaan pengguna untuk mengecek apakah akun mereka menjadi korban atau tidak, pada akhirnya Facebook membuka sebuah fitur di mana semua orang dapat mengecek apakah akun mereka menjadi korban atau tidak.

Para pengguna tinggal membuka laman pusat bantuan Facebook atau dengan mengklik di sini. Perlu diingat, saat mengakses laman tersebut, pengguna disarankan sudah masuk ke dalam akun masing-masing untuk mengecek apakah akun tersebut menjadi korban atau tidak.

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Per Maret, Kominfo Identifikasi 200 Hoaks Terkait Politik

Oleh

Fakta News
200 hoaks
Ilustrasi.

Jakarta – Jelang sebulan Pilpres 2019, Kementerian Kominfo menemukan sebanyak 200 hoaks pada periode 1 maret sampai dengan 20 maret 2019, yang di antaranya terkait isu politik. Kominfo perkirakan peredaran hoaks bisa meningkat 33,3 persen dari bulan Februari.

“Kalau bulan Februari itu 300 ada hoaks. Sementara sampai pada 20 Maret ini sudah lebih dari 200 hoaks. Akhir bulan bisa tembus 400 hoaks,” kata Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kemkominfo Ferdinandus Setu di Kantor Kemkominfo, Jakarta Pusat, Rabu (20/3) seperti dikutip CNNIndonesia.com.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Aplikasi dan Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan, tren hoaks akan menyebarkan berita yang sudah disebarkan sebelumnya dan terbukti hoaks.

“Kalau saya lihat makin banyak tapi recycle. Kebanyakan recycle yang sudah pernah ada,” kata dia.

Namun demikian, Semuel mencermati hoaks baru juga bermunculan. Kominfo berusaha mengedukasi masyarakat untuk menghindari hoaks. Semuel menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan beberapa pihak seperti platform internet dan KPU.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

TEKNOLOGI

Terkait Siaran Penembakan di Selandia Baru, Kominfo Panggil Facebook

Oleh

Fakta News
selandia
Ilustrasi.

Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) berencana untuk memanggil Facebook terkait video penembakan masjid di Selandia Baru yang tersiar secara langsung. Pemanggilan Facebook rencananya akan dilakukan pekan ini.

“Kita akan panggil (Facebook Indonesia). Mereka saja kewalahan karena ada 1,5 juta video yang dihapus. Rencana minggu ini mereka sudah kasih responsnya,” kata Semuel di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Menurut pria yang akrab dipanggil Semmy itu, Kominfo kesulitan mendeteksi video-video penembakan yang beredar karena isinya sudah di-edit sehingga sulit terbaca oleh sistem AI (artificial intelligence) yang digunakan.

“Jadi waktu dibaca pakai AI itu susah enggak terdeteksi. Karena variannya banyak di-edit, enggak kebaca jadi lebih lama (deteksinya),” papar Semmy.

Lebih lanjut, Semuel mengungkapkan bukan kali ini saja Facebook gagal mencegah konten negatif tersiar langsung. Pada 2017 di Indonesia, seorang pria bernama Pahinggar Indrawan menyiarkan langsung video ketika ia bunuh diri dengan cara gantung diri.

“Sebenarnya sudah ada dua kasus, dulu ada bunuh diri dan ini (penembakan). Kami mengharapkan mereka punya konten moderator yang lebih lebih canggih,” tuturnya.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya

TEKNOLOGI

Dua Eksklusif Facebook Mundur, Ini Kata Mark Zuckerberg

Oleh

Fakta News
dua eksklusif
Mark Zuckerberg.

Jakarta – Secara mengejutkan dua eksklusif di Facebook mengundurkan diri dari perusahaan yang dimiliki oleh Mark Zuckerberg. Keduanya yakni Chris Cox yang merupakan Chief Product of Officer Facebook dan Chris Daniel menjabat sebagai Vice President WhatsApp.

Dilansir Techcrunch, keduanya mundur setelah Mark Zuckerberg mengumumkan akan mentransformasi seluruh jejaring sosialnya dengan sistem enkripsi mirip SMS.

“Saya ingin membagikan pembaruan terpenting saat kami sedang mengelola perusahaan kami untuk membangun platform sosial yang fokus pada privasi yang saya bahas minggu lalu,” tulis Zuckerberg, mengawali pengumuman mundurnya Cox dan Daniels.

Cox telah bergabung dengan Facebook selama lebih dari satu dekade. Ia memilih meninggalkan studi pascasarjana di Universitas Standford pada tahun 2005 dan memilih bergabung dengan facebook sebagai teknisi software. Ia berjasa mengembangkan fitur News Feed di facebook.

Cox juga berperan penting dalam pembuatan tim sumber daya di Facebook. Ia mengepalai tim desain dan produk, menjalankan aplikasi, serta mengawasi seluruh aplikasi di bawah naungan Facebook.

“Dia (Cox) adalah orang paling bertalenta yang saya kenal dan dia memiliki potensi untuk melakukan sesuatu yang ia mau,” kenang Zuckerberg.

Baca Juga:

Baca Selengkapnya