Sutopo Purwo Nugroho Siapa Tak Haru Melihat Dedikasinya

  • Fakta.News - 10 Okt 2018 | 14:44 WIB
Siapa Tak Haru Melihat Dedikasinya
Sutopo Purwo NugrohoInstagram Pribadi

Siapa tak kenal Sutopo Purwo Nugroho. Setiap hari belakangan ini, ia banyak tampil di media massa, baik elektronik maupun cetak. Apalagi saat terjadi gempa di Lombok dan Sulawesi Tengah.

Teleponnya saja nyaris tak berhenti. Tak cuma wartawan, ia harus melayani pertanyaan dari berbagai instansi pemerintah, masyarakat, dan tentu saja Presiden.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini memang

Sebagai Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo menjadi tumpuan pertanyaan. Apa saja mulai dari anggota keluarga hilang hingga keluhan listrik dan bantuan juga menyasar dirinya.

Dari situ, Sutopo mencatatya dan meneruskannya ke para relawan dari berbagai instansi di lapangan.

Malah seperti diceritakan dirinya, Sutopo pernah ditelepon korban gempa Lombok dan memintanya untuk mengusir kuntilanak. Korban itu mengatakan daerahnya menjadi sangat angker lantaran banyak korban jiwa berjatuhan.

Tanpa disadari, BNPB seakan-akan jadi institusi yang melayani semua hal. Padahal pada saat didirikan 2007, BNPB seharusnya untuk menanggulangi dan mengurangi risiko bencana.

Sampai-sampai, kata Sutopo, ada yang memanggil BNPB karena orang itu memanjat pohon kelapa tapi tidak bisa turun. Ada juga yang minta tolong karena kambingnya tercemplung ke sumur.

Baca Juga:

Sudah begitu yang bertanya padanya pun bukan cuma orang Indonesia. Orang luar negeri pun menghubunginya.

Sutopo lantas memberi contoh pada saat letusan Gunung Agung di Bali. Berkali-kali ia mendapat panggilan telepon dari warga negara asing.

Misalnya turis dari Jerman. Turis itu jauh-jauh hari sudah merencanakan menggelar pesta pernikahan di Ubud, Bali dengan pasangannya dari Amerika Serikat. Sang turis sudah menyebar undangan, namun terancam batal karena informasi yang simpang siur.

Jadi bayangan orang asing saat itu, seluruh Bali dalam bahaya letusan Gunung Agung. Hal ini pula yang sangat disayangkan dan memukul ekonomi masyarakat Bali karena tergantung pada sektor wisata.

Sutopo pun menjelaskan detail lengkap dengan data terbaru soal Gunung Agung. Ia meyakinkan turis Jerman itu untuk tetap melangsungkan pernikahan di Ubud.

Singkat cerita, orang Jerman itu tetap menikah di Ubud dan nyatanya nyaman dari zona bahaya. Malahan bulan madunya pun tetap di wilayah Bali, tepatnya Karangasem.

Tak disangka, foto pasangan Jerman tersebut malah viral di media sosial. Foto bulan madu dengan latar belakang kepulan asap Gunung Agungnya jadi ikon di medsos sekaligus jadi kampanye Bali aman.

Bagi Sutopo, peran sosial media begitu penting. Selain jadi sumber kesimpangsiuran, bisa juga jadi sumber informasi yang cepat dan mudah diandalkan. Nah Sutopo adalah salah satu yang cukup aktif menggunakannya. Bahkan Sutopo mengelola sendiri media sosialnya.

Selain itu, jebolan UGM dan IPB ini aktif mengirimkan materi siaran pers harian. Biasanya ia kirim ke lebih dari 3 ribu kontak yang sebagian besar memang wartawan. Tak main-main, dalam setahun, ia bisa mengeluarkan hingga 500 sampai 600 siaran pers.

Namun Sutopo mengakui perang melawan hoaks merupakan tantangan terbesar. Bagi dia, satu-satunya cara melawan hoaks adalah rutin mengirimkan kabar terkini yang akurat dan tersebar luas ke masyarakat.

Sutopo sendiri tak menyangka bahwa dirinya akan melangkah sejauh ini untuk Indonesia. Yang perlu diketahui, dia juga Doktor di bidang hidrologi dan peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Delapan tahun lalu, ia ditugaskan ke BNPB untuk menjadi Direktur Pengurangan Risiko Bencana. Ia dipaksa memegang jabatan sebagai Kepala Pusat Data dan Humas BNPB. Dan saat itu, sebenarnya ia sempat menolak.

Pikirannya, posisi humas itu jauh dari bayangannya sebagai peneliti. Apalagi dirinya tak punya banyak pengalaman.

Namun takdir berkata demikian. Sutopo Purwo Nugroho dinilai mampu berinteraksi dengan media dan publik.

Terutama pada saat gempa dan tsunami Mentawai pada Oktober 2010. Sutopo yang saat itu ikut survei ke lokasi dengan cepat mampu menyiapkan materi siaran pers.

“Tiba-tiba saja saya sudah diberi SK (Surat Keputusan) sebagai humas,” kata dia. “Namun, akhirnya harus saya akui bahwa saya kecanduan dan merasa inilah panggilan saya,” katanya.

Nah, kemampuannya sebagai peneliti rupanya memudahkan Sutopo dalam menyampaikan data-data yang dibutuhkan media dan publik secara cepat. Sedangkan kemampuannya menulis, menurut dia, diperoleh secara otodidak.

Saat ini, dia biasa menulis di lapangan menggunakan telepon genggam. Bahkan, dia berani diuji adu cepat dengan wartawan dalam meliput dan melaporkan peristiwa jika terjadi kejadian di lapangan.

  • Halaman :
  • 1
  • 2

BACA JUGA:

Tulis Komentar