Cynthia Tenggara Sosok Ibu di Balik Kesuksesan Berry Kitchen

  • Fakta.News - 28 Apr 2018 | 20:33 WIB
Sosok Ibu di Balik Kesuksesan Berry Kitchen
Chyntia Tenggara, CEO Berry Kitchen

Ada yang bilang, banyak orang memilih jadi pengusaha supaya punya kendali penuh atas waktu dan kebebasan bekerja. Dalam bahasa sehari-sehari, biar tak diperintah-perintah orang. Namun tidak bagi food ecommerce Berry Kitchen, Cynthia Tenggara.

Sebagaimana seorang ibu, ia harus pintar membagi waktu untuk mengurus anak. Malah sempat sampai membawa-bawa bayi ke kantor.

Cerita ini ada di dapurnya, di kawasan Tomang, Jakarta Barat. Tepatnya di belakang area memasak dan pengemasan makanan. Di sebuah kontainer yang disulap menjadi ruang perkantoran.

Di sana, Cynthia bekerja di tengah-tengah sekitar puluhan karyawan bagian marketing dan teknologi informasi. Sang CEO rupanya tak memiliki ruangan khusus seperti bos-bos pada umumnya.

Kalaupun ada ruangan khusus, itu adalah kamar bayi, tempat si buah hatinya beristirahat dan bermain. Saat si kecil terlena bermain, Chyntia fokus bekerja.

Namun saat tangis bayinya pecah, tiba waktunya ia menyusui dan meninggalkan pekerjaannya sejenak. Begitulah seorang CEO dan seorang ibu.

Baginya, kompromi itu seperti sudah kodrat. Menjadi ibu rumah tangga dan pengusaha, sudah menjadi komitmennya secara total.

Tak terkecuali saat beberapa perusahaan resmi menanamkan modalnya. Tanggung jawab yang makin besar itu telah menjadi bagian hidupnya. Ia pun sadar harus menyusun strategi agar perusahaannya terus berkembang dan mencapai keuntungan.

Ya, meraih untung jelas jadi tujuan seorang pengusaha. Termasuk saat usahanya masih kecil dan dibelenggu tuntutan mencapai break event point.

Perlu diketahui, perusahaannya itu bukan 100% miliknya. Ada dana investor yang harus dipertanggungjawabkan. Jadi sebenarnya, Chyntia pun tak benar-benar bisa sesuka hati bekerja. Namun ia bisa melakukannya.

Simak saja ceritanya saat awal-awal merintis Berry Kitchen pada 2012. Tim Cynthia hanya tiga orang, yaitu chef, admin dan dirinya yang berperan sebagai marketing.

Kala itu, segala usaha dilakukannya untuk menembus pasar. Mulai dari berselancar di sosial media, berinteraksi dengan pelanggan, sampai menjemput konsumen dengan menyebar selebaran iklan. Semua ia lakukan.

Tak sedikit ujian yang ia rasakan. Misalnya seperti banyaknya pelanggan atau mitra yang meminta murah, di saat perusahaannya tak bisa banting harga.

Ia mengaku hal itu menjadi tantangan terberatnya. Pasalnya, ia tak ingin mengurangi kualitas makanan.

Apalagi kemasan yang menggunakan kertas food grade dan bisa didaur ulang. Tintanya saja dari kacang kedelai. Jadi memang benar-benar sulit untuk mematok harga di bawah standar.

  • Halaman :
  • 1
  • 2
  • 3

BACA JUGA:

Tulis Komentar