Nofi Bayu Darmawan Inspirator Pebisnis Desa dari Purbalingga

  • Fakta.News - 7 Sep 2018 | 11:07 WIB
Inspirator Pebisnis Desa dari Purbalingga
Nofi Bayu Darmawan

Meski sudah merantau dan merintis karier di kota besar, rupanya tak membuat Nofi Bayu Darmawan puas. Siapa sangka, keputusannya pulang kampung ke Purbalingga justru mengundang decak kagum banyak orang.

Ya, Nofi Bayu Darmawan sebenarnya sudah merintis bisnis online saat ia kuliah di kota besar. Tapi ia malah pulang ke desanya di Desa Tunjungmuli, Kecamatan Karangmoncol. Bayu rupanya harus memenuhi panggilan hatinya untuk mengajak, melatih, dan memberdayakan anak muda di desanya agar melek teknologi.

Tak tanggung-tanggung, Bayu bahkan mengajak anak-anak muda desa untuk memanfaatkan teknologi untuk berbisnis daring.

Perlu diketahui dulu, Desa Tunjungmuli itu berada di kawasan perbukitan. Udaranya sejuk. Sawah ada di mana-mana. Saking asrinya, kendaraan yang lewat juga jarang. Jadi sangat tenang di sana.

Baca Juga:

Meski suasana desa, pola pikir anak mudanya ternyata tidak serta-merta “ndeso”. Mereka sudah memanfaatkan teknologi, jaringan internet, serta kecanggihan aplikasi dalam perangkat telepon pintar dan laptop.

Malahan mereka sampai menyewa rumah lalu dijadikan kantor. Namanya Kampung Marketer. Jangan salah, di sana sudah dilengkapi dengan menara penguat sinyal internet pula.

Tak cuma anak muda. Ibu-ibu muda di sana juga dilibatkan. Mereka ibaratnya menjadi customer service. Jadi tugasnya melayani permintaan pelanggan dengan gawainya masing-masing.

Ingat, mereka ini tak semuanya punya pendidikan tinggi. Beberapa bahwa cuma lulusan SMP. Sisanya ada yang SMA dan SMK.

Jadi di sana, anak muda tak menggunakan ponselnya cuma untuk foto-foto, main game, apalagi mengonsumsi media sosial saja. Lebih dari itu, mereka menggunakannya untuk bisnis.

Jadi sistemnya sederhana. Menggunakan WhatsApp, mereka menjawab pertanyaan dari para calon pembeli. Dari pagi jam 8 sampai 5 sore mereka bekerja dan “digaji”. Malahan rata-rata bisa bawa pulang uang Rp1 juta hingga Rp4,5 juta per bulan.

Nah, itu semua gara-gara Bayu. “Kalau ditangani sendiri akan sibuk sepanjang 24 jam untuk melayani pertanyaan calon pembeli,” kata Bayu. Maka dari itu, ia mengajak anak-anak muda itu bekerja bersamanya.

Bayu mengaku sulit menerapkan hal yang sama di kota besar. Selain upahnya besar, ia juga harus mengeluarkan biaya banyak untuk sewa kantor. Ia juga melihat loyalitas karyawan kota masih kalah dengan di desa.

Adapun bisnis online yang Bayu rintis ini menjual produk seprai dan bed cover yang diambil dari pasar tekstil Cipadu, Ciledug Tangerang Selatan. Ia menekuninya sejak 2012 ketika kuliah di STAN.

Bayu sebenarnya sempat bekerja di ikatan dinas salah satu kementerian. Namun memang passion-nya tak bisa dengan rutinitas PNS. Bayu pun memutuskan keluar setelah bekerja selama 3,5 tahun.

Ia pulang ke desa dan melanjutkan untuk fokus mengelola toko daringnya pada pertengahan 2017 dengan produk mainan anak serta produk perawatan kulit.

Awalnya ia langsung mengajak 20 rekannya di desa. Untuk pengembangan, ia menjalin kemitraan dengan pebisnis daring lain di seluruh Indonesia. Dari situ ia bisa saling tukar SDM dan lain-lain.

  • Halaman :
  • 1
  • 2

BACA JUGA:

Tulis Komentar