Khairil Azhar Mendermakan Hidup untuk Jadi Donor Darah

  • Fakta.News - 8 Mei 2018 | 20:16 WIB
Mendermakan Hidup untuk Jadi Donor Darah
Khairil Azhar, penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Kebaktian Sosial dari Presiden Joko Widodo karena sudah mendonorkan darahnya lebih dari seratus kali.(Sumber: Kompas)

Donor darah itu bukan profesi. Bukan pula cita-cita. Namun seorang donor darah punya peran tersendiri dalam kehidupan manusia.

Awal tahun ini, orang-orang masih ada yang membicarakannya. Namanya Khairil Azhar. Ia tercatat telah 112 kali mendermakan darah.

Ia melakukannya sejak 1987. Usianya kini menginjak 58 tahun dan kakek satu cucu tersebut masih melakukannya.

Atas aksi sosial yang sudah dilakukan selama puluhan tahun itu, Khairil menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Kebaktian Sosial dari Presiden Joko Widodo di Istana Bogor.

Penghargaan itu diterimanya karena ia sudah lebih dari 100 kali menyumbangkan darah. Penghargaan yang tentunya tak bisa ditukar dengan nominal harga.

Bagi Khairil, tak berlimpah materi bukanlah halangan untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Sebab, ada banyak cara untuk membantu sesama, termasuk dengan menyumbangkan darahnya.

Ya, sampai sekarang pun, ia bekeinginan tetap rutin menyumbangkan darah setiap tiga bulan sekali hingga usia 65 tahun. Jelas menjadi seseorang yang jarang ditemui bukan?

Warga Kelurahan Pemurus Baru, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini merupakan pensiunan pegawai negeri sipil yang masih terlihat bugar.

Menurutnya, resep kebugaran tersebut justru karena dirinya rutin menyumbangkan darah.

Perlu ditegaskan kembali, Khairil melakukannya saat usia 27 tahun. Sejak itu, ia mengaku merasa selalu sehat. Kalaupun sakit, ia tak pernah sampai harus opname di rumah sakit. Paling hanya sakit flu, batuk, dan meriang, begitu pengakuannya.

Baca Juga: Presiden Anugerahi Satyalancana ke 897 Orang yang Sudah Mendonor 100 Kali

Meski demikian, Khairil mengutarakan dirinya tidak pernah berpikir untuk menjadi donor darah sebelumnya. Pasalnya ia takut dengan jarum suntik. Namun karena sudah terdorong untuk menmbantu sesama rasa takut itu pun berhasil dihalau.

Bahkan cerita bagaimana ia memulainya pun cukup menyentuh. Saat itu, tahun 1987, ia tengah berkunjung ke RSUD Ulin Banjarmasin. Ia lalu bertemu dengan seseorang yang panik.

Orang itu rupanya sedang mencari darah O+ untuk istrinya yang hendak melahirkan. Khairil kasihan, apalagi orang itu dari golongan masyarakat kurang mampu.

Secara spontan, ia lalu menawarkan diri untuk membantu. Kebetulan darahnya juga O+, sesuai dengan yang dibutuhkan.

“Saya bilang kepadanya, kamu tenang saja, saya akan membantu kamu, Saya akan mendermakan darah saya untuk istrimu,” ucapnya saat itu.

Sambil melawan ketakutannya pada jarum suntik, Khairil mengajak orang yang baru pertama kali dijumpainya itu pergi ke Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kota Bajarmasin untuk proses transfusi darah.

Semua proses berlangsung lancar. Akhirnya istri orang itu melahirkan dengan selamat.

  • Halaman :
  • 1
  • 2
  • 3

BACA JUGA:

Tulis Komentar