Jorge Sampaoli Pernah Jadi Sosok yang Disegani karena Tattonya

  • Fakta.News - 1 Jul 2018 | 03:24 WIB
Pernah Jadi Sosok yang Disegani karena Tattonya
Jorge SampaoliFoto: FIFA

Jakarta – Argentina akhirnya pulang dengan kepala tegak usai dikalahkan Perancis di babak perdelapanfinal Piala Dunia 2018 dengan skor 4-3. Sudah saatnya berpisah dengan sang pelatih Jorge Sampaoli.

Sampaoli mungkin jadi sosok paling disoroti selain kapten Lionel Messi. Pasalnya ia sempat dituding sebagai biang kerok kegagalan Argentina di edisi piala dunia kali ini.

Tepatnya saat penyisihan Grup D, kala Argentina ditahan imbang 1-1 oleh debutan Eslandia dan dikalahkan Kroasia 0-3.

Setelah itu, jelang pertandingan ketiga, kursi pelatih Sampaoli “dikudeta” para pemainnya. Ada mosi gerakan tak percaya pada pelatih plontos bertato itu.

Messi dan pemain senior Javier Mascherano akhirnya turun tangan melatih pasukan La Albiceleste. Sergio Aguero bahkan berani vokal menolak Sampaoli memimpin Tim Tango.

Namun upaya Aguero gagal. Sampaoli masih diberi kepercayaan memimpin laga melawan Nigeria. Beruntung mereka menang dan lolos ke babak selanjutnya.

Namun apes. Mereka bertemu Perancis, juara grup C. Argentina pun takluk dan resmi pulang kampung. Nah, kira-kira bagaimana nasib Sampaoli?

Baca Juga: Cerita Lionel Messi, Dipuja Juga Dianggap Pemberontak Argentina

Sambil menanti nasibnya, yang sepertinya tetap akan dipecat, perlu diketahui bahwa sosok Sampaoli sebelumnya adalah figur yang disegani.

Keseganan orang terhadap dirinya karena Sampaoli dikenal sebagai orang yang berani memberontak sesuatu yang dianggap lazim oleh kebanyakan.

Tatto Jorge Sampaoli. Foto: FIFA

Tatto Jorge Sampaoli. Foto: FIFA

Sikap ini bahkan tercermin dari tatonya, tepatnya di lengan kirinya. No escucho y sigo, porque mucho de lo que esta prohibido me hace vivir, begitu tulisannya.

Tulisan itu adalah penggalan lirik dari band rok asal Argentina, Callejeros, dalam salah satu lagu mereka: Prohibido berarti: Yang Terlarang. Lagunya sendiri sudah dirilis cukup lama, tahun 2004.

Apabila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, artinya kurang lebih: saya menolak mendengar apalagi menjadi pengikut, karena yang terlarang itu memenuhi jiwa dengan kehidupan.

Sampaoli pun dikenal sebagai penggemar musik cadas. Jadi dia pasti tahu Callejeros. Tato di lengan kirinya bisa jadi bukti.

Tato tersebut masih ada sampai saat ini. Tepatnya saat ia mulai panik Argentina tampil buruk.

Biasanya Sampaoli membuka lengan panjangnya dan kalimat itu bisa dibaca. Yang jelas, lirik itu menginspirasi Sampaoli untuk terus memberontak.

Inspirasi itu meneguhkan dia melawan pandangan skeptis dan tatapan negatif orang akan perkembangan kariernya sebagai pelatih klub. Saat itu, ia masih bergelut dengan klub medioker di Peru.

“Kalau saya mendengar apa yang dikatakan orang-orang, mungkin saya sudah berhenti melatih dan bekerja di bank. Saya jelas tidak punya peluang bertahan di dunia sepak bola, tapi saya menolak buat menerima situasinya,” kata pria berusia 57 tahun itu di FIFA.

“Saya menutup telinga dan terus berjuang. Itulah seni memberontak, tak membiarkan orang menyetop apa yang sedang kita perjuangkan. Lirik lagu itu membekas di hati dan itu alasan saya memakainya untuk tato,” ujar Sampaoli.

Karier Sampaoli beranjak pelan. Dari Peru, ia ke Ekuador. Setelah itu, ia mendapat kesempatan meroket usai hijrah ke Cile bersama satu dari triumvirat klub tersukses: Universidad de Chile.

Semangat memberontak dan pendiriannya menolak segala anggapan miring justru membuatnya jadi pahlawan klub. Padahal tadinya ia jadi musuh banyak orang. Tapi semua berubah dalam 12 bulan.

Sampaoli mengusung kedisiplinan. Gaya mainnya juga dicecar publik Universidad. Banyak yang sulit mencerna tujuannya, termasuk dari kalangan pemain.

Bagaimana tidak, ia menjual pemain bintang yang dianggap tak sesuai gayanya. Para pemain juga tak mengerti ide Sampaoli. Sebagian besar fan menghujatnya. Sampai petinggi klub meragukannya.

Tapi, uniknya Sampaoli tak diberhentikan. Dari situlah ia lantas punya peluang mewujudkan ambisinya mengubah Universidad menjadi tim ofensif.

BACA JUGA:

Tulis Komentar