Edvin Aldrian Ilmuwan Indonesia di Panggung Internasional

  • Fakta.News - 11 Apr 2018 | 07:32 WIB
Ilmuwan Indonesia di Panggung Internasional
Edvin Aldrian

Jakarta – Ilmuwan Indonesia di panggung internasional mungkin memang sedikit. Namun bagi Edvin Aldrian, justru Indonesia merupakan salah satu negara tujuan banyak ilmuwan di dunia.

Salah satu topik yang terhangat yang tengah jadi perbincangan ilmuwan di dunia tentu saja soal perubahan iklim. Bagi para ilmuwan, perubahan iklim memang menjadi isu yang kompleks.

Perlu banyak pintu untuk memahami dampak perubahan iklim. Edvin sendiri yang sudah bertahun-tahun bergulat dalam kompleksitas persoalan ini mengamininya. Baginya, persoalan perubahan iklim tidak lagi cukup didekat dengan ilmu meteorologi, klimatologi, bioloi, dan seterusnya.

Menurut ilmuwan berusia 48 tahun ini, jika kita ingin mencari solusi untuk mengatasi dampak luas perubahan iklim maka perlu dukungan ilmu sosial, hukum, dan politik. Ilmu-ilmu itu amat penting dalam proses negosiasi untuk kesepakatan global.

Kalangan ilmuwan tahu, Edvin Aldrian adalah salah seorang ilmuwan pelopor yang lama bergelut dalam kompleksitas persoalan perubahan iklim. Ia mengawal isu perubahan iklim komplit dengan segala persoalan sosial politik di dalamnya.

Saat ini ia tercatat sebagai anggota dewan Panel Ahli Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC). Sejak 8 Oktober 2015, Edvin menjadi Wakil Ketua Kelompok Kerja I IPCC dalam Bureau for Assesment Report (AR) 6. Hasil AR 6 bakal selesai pertengahan 2022.

Sejak 2014, ia juga menjabat Co-Chair of WMO Comission for Climatology (CCI) Expert Team in Institutional and Infrastructural Capabilities (ET-IIC). Di kawasan Asia-Pasific, Edvin menjadi Co-Vice Chair WMO Regional Association V Working Group on Climate Service (WMO RA V WG-CLS) untuk 2014-2018.

Sebagai ilmuwan Indonesia yang muncul ke lapisan internasional, ia menilai ilmuwan dan peneliti Indonesia terlalu khawatir sementara kreativitas dan “kenekatan” kurang. “Mereka takut produk (isu) lokal tidak akan laku untuk jurnal internasional. Padahal dengan kreativitas yang dimiliki, akan muncul pemikiran yang beragam,” tutur Edvin.

Ini dia. Menurutnya, sering kali peneliti tidak menyadari bahwa isu-isu lokal sebenarnya amat dekat dengan isu utama yang sedang menjadi perhatian dunia. Edvin sendiri mengaku menulis segala hal yang ia sebut “aneh-aneh” mulai kebakaran hutan, soal padi, laut, hingga permodelan dari dalam negeri.

“Saya tidak takut dibilang tanpa spesialisasi. Masalahnya ini adalah ilmu meteorologi terapan. Keenganan penulis berawal dari merasa tidak cukup kreatif untuk menuliskan sesuatu,” katanya.

Karya ilmiahnya terjaring untuk dibaca IPCC pada 2007 bersama dengan dua peneliti Indonesia lainnya. Saat ini ada delapan ilmuwan Indonesia yang karyanya dibaca IPCC.

Perlu diketahui, kini IPCC sedang menyusun laporan tentang apa arti kenaikan suhu 1,5 derajat celcius, sesuai permintaan negara-negara pada Konferensi Perubahan Iklim 2015 di Paris.

Selain itu, akan disusun pula laporan dampak perubahan iklim terhadap laut dan daratan secara khusus 1,5 tahun ke depan.

Laporan tersebut menjadi potret kondisi bumi saat ini yang telah menderita akibat perubahan iklim. Laporan itu akan menjadi stoctaking (inventarisasi) pertama tentang berbagai kondisi bumi sesuai Kesepakatan Paris.

Kesepakatan Paris menargetkan penurunan emisi untuk menahan kenaikan suhu global di bawah 2 derajat celcius dari suhu pra-Revolusi Industri atau dengan upaya keras menahan kenaikan paling tinggi 1,5 derajat celcius.

Nah, salah satu isu krusial adalah perubahan iklim dan kota kerena lebih dari 50 persen warga dunia tinggal di kota. Dengan gaya hidup perkotaan yang boros energi, warga kota adalah penyumbang emisi terbesar dari transportasi dan gaya hidup yang bergantung pada porduk industri.

Topik khusus Perubahan iklim dan Kota sudah dibahas di Edmonton, Kanada, yang melibatkan 300 kota sedunia.

  • Halaman :
  • 1
  • 2
  • 3

BACA JUGA:

Tulis Komentar