Eniya Listiani Dewi Pakar Sel Bahan Bakar dari Magelang

  • Fakta.News - 11 Jul 2018 | 15:05 WIB
Pakar Sel Bahan Bakar dari Magelang
Eniya Listiani Dewi

Jakarta – Selasa 10/7) kemarin, sejarah baru tercipta. Seorang peneliti perempuan bernama Eniya Listiani Dewi menerima anugerah Bacharuddin Jusuf Habibie Award 2018. Penghargaan itu diberikan atas prestasinya mengembangkan teknologi sel bahan bakar.

Ia mengembangkannya sejak 2004 hingga menghasilkan 3 paten, 2 hak merek, dan 200 makalah internasional dan nasional.

Sejarah baru yang dimaksud adalah Eniya Listiani Dewi menjadi perempuan pertama penerima penghargaan ini. Ia juga menjadi yang termuda dari 10 penerima sebelumnya.

Terpilihnya Eniya pun tidak sembarangan. Wanita berusia 44 tahun ini juga bukan orang kemarin sore yang baru terjun ke dunia penelitian teknologi.

Orang sudah mengenalnya sebagai pakar sel bahan bakar atau fuel cell dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Baca Juga: Ilmuwan ITB ‘Ubah’ Bungkus Mi Instan jadi Bahan Bakar Minyak

Tepat Selasa kemarin, Kepala BPPT Unggul Priyanto mengumumkan hal ini dalam acara penyerahan BJ Habibie Technology Award 2018. Acaranya sendiri berlangsung di Auditorium Gedung 2 BPPT Jakarta dan dihadiri langsung Presiden ketiga Indonesia BJ Habibie.

Eniya kini menjabat sebagai Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi, Informasi, Energi dan Material. Ia berhasil mengembangkan teknologi fuel cell dengan metode transfer elektron, memakai bahan baku lokal dan dipasang pada motor serta daya cadangan bagi berbagai alat.

“Produksi gas hidrogen dari bio massa dengan bahan baku limbah kelapa sawit,” begitu kata Unggul.

Temuannya fuel cell ini memang memiliki banyak keunggulan. Misalnya bisa untuk katalis pada baterai, efisiensi energi 65 persen, sebagai server cadangan tak beremisi, dan satu lagi, mudah dirawat.

Nah, gas biohidrogen dari limbah bimassa seperti diketahui adalah energi terbarukan. Ini bisa dipakai untuk menaikkan efisiensi pembakaran, serta memakai metode hidrogen hijau.

Dalam keterangan, dijelaskan bahwa Eniya pun telah menciptakan banyak inovasi lain. Jadi selain sel bahan bakar untuk otomotif-pembangkit daya, ia juga menciptakan alat peraga ilmu pengetahuan dan teknologi yang disebut edukasi kit Omaf.

Ini adalah peralatan fuel cell berbahan bakar cairan langsung memakai komponen lokal, membran ataupun katalis.

Katanya, alat mini ini memberi pemahaman pada siswa tentang perubahan bahan bakar metanol jadi listrik. Jadi pelajar bisa memakai kit itu dan mudah membongkar pasang kit. Dengan menambahkan metanol 5 persen (air 95 persen), bisa menghasilkan listrik untuk memutar kipas.

Eniya merupakan peneliti utama bergelar Profesor Riset Teknologi Proses Elektrokimia di BPPT. Ia mendapatkan gelar sarjana, master, dan doktor di Universitas Waseda Jepang. Ia pun menjadi Komisaris Utama PT garam sejak tahun lalu.

  • Halaman :
  • 1
  • 2

BACA JUGA:

Tulis Komentar