Artidjo Alkostar Hakim Tanpa Saraf Takut

  • Fakta.News - 30 Jul 2018 | 18:22 WIB
Hakim Tanpa Saraf Takut
Artidjo AlkostarFoto Politiktoday

Kursi pimpinan kamar pidana Mahkamah Agung (MA) masih kosong. Penguasa kursi sebelumnya sudah resmi pensiun. Tanpa dirinya, profesionalitas MA pun diuji. Publik juga menantikan, apakah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia itu bisa tetap setegas era Artidjo Alkostar.

Ya, Artidjo Alkostar adalah seorang hakim ternama di Indonesia. Senior yang pernah mencapai titel Hakim Agung ini selalu disorot tiap keputusan dan pernyataan beda pendapatnya dalam banyak kasus besar. Spontan saja Ketua Muda Kamar Pidana MA sejak 2014 itu disegani.

Artidjo berdarah Madura. Ia lahir di Situbondo pada 22 Mei 1949. Sampai SMA, ia mengenyam pendidikan di Asem Bagus, Situbondo. Barulah setelah lulus, ia hijrah ke Yogyakarta untuk melanjutkan studinya.

Baca Juga:

Meski kini disegani, dunia hukum baginya ternyata berawal dari sebuah kebetulan. Ia mengatakannya saat dirinya menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universtas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Sebab, dengan bekal ilmu IPA ketika SMA, Artidjo sebenarnya lebih ingin masuk dunia pertanian. Namun kala itu pendaftaran sudah tutup. Artidjo pun mendaftar ke Hukum UII yang saat itu masih buka. Meski asing baginya, ternyata jodohnya memang di situ.

Selepas menyandang gelar Sarjana Hukum dari UII pada 1976, Artidjo ketagihan jadi dosen di almamaternya, bahkan hingga saat ini. Ia mengajar mata kuliah Hukum Acara Pidana dan Etika Profesi dan mata kuliah HAM untuk mahasiswa S2. Ia mengajar setiap Sabtu, dari pagi sampai malam dan kembali ke Jakarta pada Senin pagi.

Tak cuma dosen, Artidjo juga pernah aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Jabatannya Wakil Direktur sejak 1981 hingga 1983. Karena reputasinya, ia diangkat menjadi Ketua LBH Yogyakarta sampai dengan 1989.

Di rentang 1989 dan 1991, Artidjo terbang ke New York untuk pelatihan pengacara mengenai HAM. Ia mengikuti bimbingan di Columbia University selama enam bulan. Selama itu, sekitar dua tahun, Artidjo juga bekerja di Human Right Watch divisi Asia di New York.

Tak lama, Artidjo pulang ke Indonesia. Ia segera mendirikan kantor hukum bernama Artidjo Alkostar and Associates.

  • Halaman :
  • 1
  • 2
  • 3

BACA JUGA:

Tulis Komentar