Jelang Pilkada 2018: Pilih Penguasa atau Pelayan?

Jilal Mardhani
  • Fakta.News - 5 Mei 2018 | 14:47 WIB
Jelang Pilkada 2018: Pilih Penguasa atau Pelayan?

Situasi politik di Tanah Air kita akhir-akhir ini lucu sekali.

Begitu banyak yang mengumbar nafsu ingin berkuasa. Mengejar kedudukan dan ingin menjadi pemimpin di ranah publik. Mulai dari Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat hingga Lurah. Juga sebagai Perwakilan Rakyat, maupun pimpinan lembaga-lembaga lain yang terafiliasi dengan anggaran maupun kekayaan Negara. Padahal, semua itu sesungguhnya demi kepentingan bangsa dan seluruh masyarakat.

Semua posisi yang diperebutkan itu sesungguhnya menuntut tugas dan tanggung jawab yang luar biasa berat. Sebab, negara kita yang sudah merdeka hampir 73 tahun ini, masih menyisakan banyak persoalan.

Sebagian merupakan masalah klasik yang tak kunjung selesai. Misalnya tentang kemiskinan dan kesenjangan pembangunan. Masalah pada kedua hal itu, bukan hanya terkait pada keterbatasan kemampuan yang kita miliki. Hal yang paling memusingkan justru karena budaya lancung korupsi-kolusi-nepotisme (KKN) yang merasuk birokrasi kekuasaan kita sejak awal mula keberadaannya di republik ini. Jadi, kalau sekedar miskin dan bodoh, mungkin kita gampang memakluminya. Tapi kalau sudah culas dan jahat sebagaimana niat dibalik setiap laku KKN terkutuk itu, pasti sangat merepotkan.

Selain masalah lama yang belum terselesaikan, ada pula persoalan yang sebetulnya buah dari proses mutasi maupun yang sama sekali baru. Sintensa antar persoalan lama sering menyebabkan munculnya masalah lain yang sebelumnya tak ada. Misalnya tentang kesehatan lingkungan yang muncul karena ‘sinergi’ kemiskinan berkepanjangan dengan pembangunan yang terseok-seok. Begitu pula dengan konflik-konflik yang berlatar suku-agama-ras-antargolongan (SARA).

Capaian perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sejatinya bertujuan untuk memudahkan kehidupan manusia. Tapi justru tak jarang menimbulkan dampak sampingan yang negatif. Misalnya penebaran hoax yang semakin memprihatinkan justru setelah teknologi digital berkembang pesat dan dimanfaatkan untuk sosial media. Belum lagi soal penyalah gunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Padahal semula upaya penemuan unsur-unsur yang kemudian disalah gunakan itu, ditujukan untuk memudahkan manusia mengatasi masalah kesehatannya.

Singkat kata, persoalan yang harus ditangani dan diselesaikan bangsa ini, sesungguhnya sangat beraneka ragam, berlapis-lapis, dan menjadi begitu kompleks. Hal yang hanya mungkin diselesaikan secara bergotong-royong disertai kerelaan berkorban yang tulus dan ikhlas dari seluruh lapisan masyarakat kita.

Kembali ke pertanyaan semula, mengapa begitu banyak yang sangat bernafsu untuk berkuasa dan mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan semua persoalan itu?

  • Halaman :
  • 1
  • 2
  • 3

BACA JUGA:

Tulis Komentar