5 Negara Besar Telah Memulai Langkah Dedolarisasi

  • Fakta.News - 3 Jan 2019 | 12:29 WIB
5 Negara Besar Telah Memulai Langkah Dedolarisasi
Presiden Rusia, Vladimir Putin campakkan dolar AS(Foto: Istimewa)

Jakarta – Tahun 2018 dipenuhi fenomena ekonomi yang membuat geopolitik terbagi menjadi 2 zona. Zona pertama, negara yang masih menggunakan kurs Dolar Amerika Serikat (AS) sebagai alat finansial. Sementara, zona kedua adalah negara yang mulai meninggalkan sistem keuangan tersebut, atau ‘Dedolarisasi’.

Tekanan global yang disebabkan oleh sanksi ekonomi dan konflik perdagangan, memicu negara-negara terdampak mulai meninggalkan sistem mata uang negeri Paman Sam.

Lansiran Russia Times menyebutkan 5 negara besar yang memicu terjadinya fenomena Dedolarisasi.

Republik Rakyat Tiongkok (RRT) merupakan salah satu negara besar yang mendorong fenomena Dedolarisasi. Konflik perdagangan dengan AS, menyebabkan ancaman sanksi terhadap mitra ekonomi negara Tirai Bambu.

RRT memutuskan untuk menurunkan ketergantungan mereka terhadap Dolar AS. Gaya ‘Soft-Power’ negara Tirai Bambu membuat Dedolarisasi tampak senyap. Bank rakyat Tiongkok secara bertahap menurunkan pembagian keuangannya dengan Dolar AS. Mitra terbesar AS tersebut mengangsur hutangnya ke level terendah sejak Mei 2017.

Baca Juga:

RRT juga mempromosikan Yuan sebagai mata uang internasional. Yuan tergabung bersama beberapa mata uang internasional lainnya, seperti Poundsterling, Yen serta Euro dalam lembaga keuangan internasional (IMF).

Pergerakan Yuan pun, menjadi sangat signifikan. Hal tersebut didorong dengan langkah penguatan cadangan emas, penjualan minyak mentah berjangka panjang serta penggunaan Yuan sebagai alat pembayaran untuk mitra kerja sama RRT.

  • Halaman :
  • 1
  • 2
  • 3

BACA JUGA:

Tulis Komentar