Connect with us

Buka Digital Startup Connect 2018, Pidato Jokowi Pukau Ribuan Anak Muda Kreatif dan Inovatif

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Menko PMK: Penanganan Kemiskinan Kunci Penurunan Stunting

Oleh

Fakta News
Menko PMK Muhadjir Effendy saat meresmikan Gedung Penanggulangan Gizi Terpadu di Desa Lumpangan, Kecamatan Pajukakang, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, pada Selasa (2/3/2021)

Bantaeng – Permasalahan stunting merupakan masalah serius dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Tantangan ini harus diatasi dengan baik agar generasi masa depan Indonesia bisa menjadi generasi yang unggul, berdaya saing, dan berkualitas.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Status Gizi Balita pada 2019, prevalensi stunting di Indonesia sebesar 27,67 persen. Presiden RI Joko Widodo mencanangkan target penurunan stunting menjadi 14 persen di tahun 2024.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menjelaskan, kunci untuk menurunkan stunting adalah penanganan kemiskinan. Menurutnya, kemiskinan merupakan salah satu penyebab ibu dan anak tak memeroleh gizi yang cukup.

“Memang tidak semua orang miskin anaknya stunting. Tapi sebagian besar stunting itu diakibatkan karena kemiskinan. Dan karena itu kemiskinan itu yang harus ditangani,” ujar Menko PMK di Gedung Penanggulangan Gizi Terpadu di Desa Lumpangan, Kecamatan Pajukakang, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, pada Selasa (2/3).

Dalam kesempatan itu Menko PMK didampingi Plt Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, Bupati Bantaeng Ilham Azikin, Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo, Anggota Komisi IX DPR RI Alyah Mustika Ilham.

Lebih lanjut Menko PMK mengatakan, kaitan antara kemiskinan dan munculnya stunting pada anak sangat erat. Apalagi di masa pandemi Covid-19, angka kemiskinan juga mengalami peningkatan. Karena itu, pemerintah menggelontorkan berbagai stimulus agar kemiskinan bisa teratasi. Seperti program Bantuan Sosial, Bantuan Langsung Tunai (BLT), program sembako, dan Program Keluarga Harapan (PKH).

“Ini sangat penting. Karena itu kita mengupayakan jangan sampai ada keluarga miskin baru bertambah,” tuturnya.

Menko PMK menerangkan, pencegahan stunting juga harus dimulai sejak dini sebelum pernikahan. Pada remaja putri, menurut dia, sekolah bisa mengajarkan kesehatan reproduksi, dan soal pemenuhan gizi yang baik.

“Saya sangat percaya biaya penanganan stunting akan lebih murah kalau pencegahan lebih diutamakan. Pendekatan kesehatan (health approach) akan lebih murah dari pendekatan pengobatan (treatment approach),” terangnya.

Resmikan Gedung Pusat Gizi Terpadu

Menko PMK Muhadjir Effendy dalam kesempatan itu juga sekaligus meresmikan gedung Pusat Gizi Terpadu Kabupaten Bantaeng. Dia memberikan apresiasi pendirian gedung sebagai inovasi penanganan stunting di Kabupaten Bantaeng.

“Saya mengapresiasi inisiatif dan prakarsa dari Bupati Bantaeng dan seluruh masyarakat Bantaeng yang telah membangun gedung pusat layanan gizi terpadu,” tuturnya.

Dia mengatakan, keberadaan gedung Pusat Gizi Terpadu ini adalah sebuah inovasi yang sangat baik untuk menangani terintegrasi dan komprehensif. Dia juga mengajak daerah lain untuk ikut meniru inovasi dari Kabupaten Bantaeng.

“Ini saya kira pertama di Indonesia. Dan ini patut dikembangkan dan direplikasi di tempat-tempat lain,” ungkapnya.

Sementara, pelaksana tugas Pelaksana Tugas Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman juga memberikan apresiasi adanya gedung Pusat Gizi Terpadu sebagai upaya peningkatan SDM di Bantaeng.

Dia mengatakan, Sulawesi Selatan akan terus berupaya untuk membangun sinergitas dengan pemerintah pusat untuk meningkatkan kebutuhan gizi.

“Ini perlu kita galakkan bersama. Dan kami dari provinsi siap untuk mendukung program-program dari BKKBN dan Pak Menko untuk menjadikan pilot project di Kabupaten Bantaeng ini untuk penanganan stunting,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menko PMK juga memberikan apresiasi kepada dua orang KPM PKH Graduasi Mandiri di Kabupaten Bantaeng berupa hadiah tabungan senilai Rp. 2.000.000,- dan kepada pendamping PKH berupa e-money senilai Rp. 500.000,-.

Baca Selengkapnya

BERITA

Kasus Suap, Jaksa Tuntut 12 Tahun Penjara Mantan Sekretaris MA Nurhadi

Oleh

Fakta News
Mantan Sekretaris MA Nurhadi (rompi oranye)

Jakarta – Mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi dituntut 12 tahun penjara ditambah denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Sementara, menantu Nurhadi, Rezky Herbiyono, dituntut 11 tahun penjara ditambah denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

Jaksa penuntut umum (JPU) menilai Nurhadi dan Rezky terbukti menerima suap sebesar Rp 45,7 miliar dari Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) 2014-2016 Hiendra Soenjoto serta menerima gratifikasi dari sejumlah pihak sejumlah Rp 37,287 miliar.

“Menuntut supaya majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) menyatakan terdakwa Nurhadi dan Rezky Herbiyono terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama,” ungkap JPU pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Lie Putra Setiawan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (2/3/2021) malam, dikutip dari Antara.

Selain itu, Nurhadi dan Rezky juga dituntut untuk membayar uang pengganti dengan total Rp 83,013 miliar. Dengan ketentuan, harta benda milik kedua terdakwa akan dilelang untuk menutupi uang pengganti apabila tidak dibayarkan dalam waktu satu bulan setelah putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap atau inkrah.

“Dalam hal terdakwa tidak punya harta yang cukup untuk membayar uang pengganti maka dipidana penjara selama 2 tahun,” ujar jaksa Lie.

Menurut JPU, hal yang meringankan adalah kedua terdakwa belum pernah dihukum. Sementara, hal yang memberatkan yakni, perbuatan Nurhadi dan Rezky tidak mendukung program pemerintah untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dari kolusi, korupsi dan nepotisme.

Kemudian, perbuatan keduanya disebut merusak citra MA dan pengadilan di bawahnya, serta para terdakwa berbelit-belit dan tidak mengakui perbuatannya.

Dalam kasus ini, menurut JPU, suap yang diterima Nurhadi dan Rezky dari Hiendra dalam rangka kepengurusan perkara antara PT MIT dan PT Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN) terkait sewa menyewa depo container milik PT KBN. Selain itu, Hiendra juga disebut meminta bantuan Nurhadi dalam perkara gugatan perdata yang dilayangkan Azhar Umar melawan Hiendra terkait Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT MIT.

Nurhadi dan Rezky kemudian menggunakan uang tersebut untuk membeli lahan sawit di Padang Lawas, ditransfer ke istri Nurhadi, membeli tas Hermes hingga mobil mewah, membayar utang, berlibur ke luar negeri, merenovasi rumah, dan kepentingan lainnya. Sementara, gratifikasi yang diterima kedua terdakwa disebut dari sejumlah pihak yang berperkara, baik di tingkat pertama, banding, kasasi, maupun peninjauan kembali.

Keduanya dinilai melanggar Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 ke-1 KUHP dan Pasal 12B UU Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat 1 KUHP.

Baca Selengkapnya

BERITA

Lapangan Sidodadi Semarang Direvitalisasi, Wali Kota Hendi Ingin Bangun Sport Center di Tiap Kecamatan

Oleh

Fakta News
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat meninjau lapangan Sidodadi, Selasa (2/3/2021)

Semarang – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang akan merevitalisasi lapangan Sidodadi, di Jalan Taman Maluku, Karangtempel, Semarang Timur menjadi sport center. Pembangunan di lapangan berukuran 130 x 80 meter itu akan difokuskan pada peningkatan lapangan sepak bola, lapangan futsal, lapangan voli, skate park, hingga lintasan lari sintetis.

Wali Kota yang akrab disapa Hendi itu menyatakan, lapangan Sidodadi memiliki lokasi strategis untuk menjadi sport center atau area olahraga terpadu karena berada di tengah Kota Semarang.

“Di sini banyak sekali peminatnya baik untuk lari pagi dan aktivitas main (sepak) bola. Untuk itu, kami ingin lapangan ini bisa dibuka lebih baik lagi,’ ujarnya saat meninjau lapangan Sidodadi, Selasa (2/3/2021).

Hendi ingin agar dalam pembangunan nanti, baik lapangan sepak bola, jogging track, dan pagar depan dapat menyatu dengan pemukiman warga. Adapun guna mempertahankan eksistensi lapangan sepak bola, pembangunan jogging track tidak akan mengikuti standar nasional untuk mengatasi keterbatasan lahan.

“Jogging track hanya lima lintasan. Yang penting menarik, bermanfaat, dan dapat dijadikan ruang terbuka hijau dan sport center yang nyaman bagi masyarakat,” imbuh Hendi dalam keterangan tertulisnya, Selasa.

Sementara itu, untuk pagar sebagian akan dibuka dan diganti dengan pagar BRC agar masyarakat dapat melihat ke dalam lapangan. Untuk mengantisipasi banjir saat musim hujan, Hendi menyatakan pembangunan lapangan Sidodadi akan diikuti dengan pembuatan drainase.

Sebagai informasi, kajian pembangunan lapangan Sidodadi telah dikerjakan setahun yang lalu. Rencananya setelah penyusunan detail engineering design (DED) selesai, pembangunan akan dimulai pada 2021.

Selain lapangan Sidodadi, Pemkot Semarang berencana pula membangun sport center di setiap kecamatan. Setidaknya ada empat paket besar pembangunan sport center. Nantinya di masing-masing kecamatan akan ada tiga hingga empat lapangan, seperti lapangan sepak bola, futsal, hingga voli.

Pada 2018 dan 2019, Pemkot Semarang telah membangun sejumlah sport center di beberapa kecamatan. Namun akibat pandemi Covid-19 pembangunan tersebut ditunda.

Selain pembangungan sport center, Pemkot Semarang juga telah menata Stadion Citarum dengan memasang rumput sintesis berstandar FIFA dan penambahan fasilitas fitness outdoor di Gelanggang Olahraga (GOR) Tri Lomba Juang.

Melalui peningkatan fasilitas olahraga ini, masyarakat Kota Semarang bisa memiliki lebih banyak pilihan alternatif dalam berolahraga. Dengan demikian, Hendi berharap masyarakat akan semakin memiliki semangat untuk membiasakan diri berolaraga sehingga lebih sehat dan bugar.

Hendi juga menghimbau kepada masyarakat untuk turut merawat dan memelihara fasilitas-fasilitas tersebut agar dapat terus bermanfaat.

Baca Selengkapnya