Connect with us

Survei LSI: 67 Persen Masyarakat Puas dengan Kinerja Jokowi

Capres Jokowi

Jakarta – Demonstrasi mahasiswa yang menolak sejumlah pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) tak mempengaruhi signifikan terhadap tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Joko Widodo. Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyebut mayoritas publik masih puas dengan kinerja Jokowi.

“Masih cukup baik ya, sangat puas 12,7 persen dari publik menyatakan bahwa mereka puas kinerja presiden. 54,3 persen cukup puas. Kalau digabungkan itu menjadi 67 persen,” kata Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu, 6 Oktober 2019.

Hasil survei mencatat ada 28,3 persen responden yang tidak puas dengan kinerja Presiden setelah ada gelombang unjuk rasa. Kendati, Djayadi mengakui tingkat kepuasan publik ini cenderung menurun jika dibandingkan dengan periode Mei 2019, atau sesaat setelah Pilpres 2019.

“Masih cukup tinggi tingkat kepuasan kepada presiden meskipun menurun dibandingkan Mei 2019, 71 persen pascapemilu, sekarang agak turun menjadi 67 persen,” jelas Djayadi.

Data ini disebut jadi modal kuat Jokowi untuk memulai kinerjanya di periode kedua. Tugas besar Jokowi yakni bagaimana meredam demonstrasi besar tak terulang lagi.

“Dukungan publik saat ini masih ada. mungkin karena itu lah publik masih demonstrasi berharap presiden melakukan sesuatu, kalau publik tidak lagi percaya sama presiden maka tidak lagi meminta presiden melakukan sesuatu,” jelas Djayadi.

Tingkat kepercayaan publik kepada DPR justru lebih buruk. Angka kepercayaan publik terhadap legislatif jauh di bawah presiden dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Salah satu faktornya, kata dia, lantaran UU yang dihasilkan DPR beberapa waktu lalu menimbulkan polemik.

“Tingkat kepercayaan publik kepada DPR yang baru saja dilantik ini dan tentu saja terpengaruh oleh DPR lama itu di angka 40 persen, rendah sekali,” pungkas dia.

Survei LSI dilakukan melalui sambungan telepon pada 4-5 Oktober 2019. Survei melibatkan 1.010 responden yang dipilih menggunaka metode stratified random sampling dari responden yang pernah menjadi sampel LSI sebelumnya. Survei memiliki margin of error 3,2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

 

Ping

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Sebanyak 609 Kasus Positif Baru, Total Penderita COVID-19 Capai 27.549

Oleh

Fakta News
Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto

Jakarta – Total kasus positif penderita virus SARS-CoV-2 berjumlah 27.549 per hari ini, Selasa (2/6). Gugus Tugas Nasional mencatat penambahan kasus baru sebanyak 609 kasus.

Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto mengatakan bahwa penambahan jumlah ini tidak merupakan gambaran total keseluruhan yang menggambarkan kondisi tanah air kita. Meskipun di beberapa provinsi, kenaikan kasus terjadi.

“Kita melihat di Provinsi Jawa Timur, hari ini 213 kasus. Ini meningkat dibanding hari kemarin (1/6). Kemudian Provinsi Papua, juga meningkat 94 kasus dibanding hari kemarin.  Provinsi DKI 60 kasus, ini kalau dibanding hari kemarin terjadi penurunan,” ucap Yurianto dalam konferensi pers di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta pada Selasa (2/6).

Yurianto juga menyampaikan bahwa ada kasus baru di Sulawesi Selatan sejumlah 44 kasus. Namun, dibandingkan sehari sebelumnya jumlah tersebut penurunan. Hal yang sama juga terjadi Sumatera Selatan dengan 24 kasus baru.

Dari laporan yang diterima oleh Kementerian Kesehatan, ada 4 provinsi yang melaporkan satu kasus positif, yakni Provinsi Bengkulu, Kalimantan Timur, Sumatera Utara dan Lampung. Sebanyak 11 provinsi yang hari ini (2/6) melaporkan tidak ada penambahan kasus, yaitu Aceh, DI Yogyakarta, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Riau, Maluku dan NTT.

Yurianto mengumumkan bahwa jumlah pasien sembuh meningkat 298 orang sehingga total mencapai 7.935 per hari ini. Jumlah kasus tersebut tersebar di 417 kabupaten dan kota di 34 provinsi. Sedangkan kasus meninggal, pemerintah mencatat total kematian berjumlah 1.663 orang.

Di samping data kasus positif COVID-19, pihaknya telah mengidentifikasi jumlah orang dalam pemantauan (ODP) yaitu 48.023 orang dan pasien dalam pengawasan (PDP) 13.213 orang.

Sementara itu, pemeriksaan spesimen yang sudah selesai dan terverifikasi sampai dengan pukul 12.00 WIB adalah 9.049 spesimen. Ia menambahkan bahwa ada sekitar 1.143 spesimen belum selesai pemeriksaan karena terpotong waktu yang telah ditentukan.

“Total yang kita periksa sampai dengan saat ini adalah 342.466 spesimen, baik dengan Real Time PCR, maupun dengan Tes Cepat Molekuler. Hasil pemeriksaannya kita dapatkan, bahwa konfirmasi COVID-19  positif sebanyak 609 orang, totalnya menjadi 27.549 orang,” jelas Yurianto.

Berikut ini lima provinsi dengan jumlah kasus positif tertinggi di seluruh Indonesia, yakni DKI Jakarta 7.541 kasus, Jawa Timur 5.135, Jawa Barat 2.314, Sulawesi Selatan 1.630 dan Jawa Tengah 1.432.

Menyikapi penularan yang terjadi, Yurianto meminta dan mengajak semua pihak untuk berkomitmen dalam menjalankan protokol kesehatan dalam rangka menghadapi kebiasaan yang baru.

 

(hels)

Baca Selengkapnya

BERITA

Pastikan Sikap Disiplin Sebelum Memulai Aktivitas di Masa Pandemi

Oleh

Fakta News
Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Nasional Prof. Wiku Adisasmito

Jakarta – Sikap disiplin terhadap perilaku aman menjadi kunci dalam memulai aktivitas di tengah pandemi COVID-19. Sikap disiplin diutamakan pada memproteksi diri agar tidak terpapar oleh virus Corona.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Nasional Prof. Wiku Adisasmito mengatakan bahwa setiap individu perlu untuk menjaga imunitas, seperti jangan panik. Ia menyirakan dengan ungkapan ‘kenali musuhmu, kenali dirimu, seribu kali kamu perang, seribu kali kamu menang.’

“Jadi kalau kita tahu caranya virus ini bekerja, selama kita sudah bekerja, dia akan bingung sendiri virusnya. Jadi kalau kita sudah begitu, nggak panik, imunitas kita naik dan bisa saja kita akhirnya mampu,” kata Prof. Wiku dalam dialog di Media Center Gugus Tugas, Graha BNPB, Jakarta, pada Selasa (2/6).

Wiku mengatakan ada dua langkah preventif untuk menghadapi pandemi. Sikap disiplin terhadap perilaku tadi sebagai salah satu upaya preventif menghadapinya, sedangkan upaya lain dengan vaksin. Namun, vaksin masih membutuhkan waktu lama untuk dapat digunakan.

“Preventif yang sebenarnya ada di diri kita masing-masing adalah mencegah saja kita untuk dapat berinteraksi dengan virus itu secara langsung. Maka dengan cara melakukan, kita, protokol kesehatan yang sudah sering diulang-ulang, kan semua sudah sadar itu,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa setiap individu harus berdisiplin, baik disiplin individu dan disiplin secara kelompok. Ia berkata, “Kita selalu mengingatkan orang, orang mengingatkan kita, dan seterusnya. Selama kita bisa begitu, dan tertib disiplin, itulah saatnya kita mulai mempertimbangkan untuk mulai melakukan aktivitas yang produktif dan aman COVID.”

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Pratiwi Sudarmono. Ia mengatakan,”Kita mulai memikirkan bagaimana tata cara bagaimana kita bekerja, belajar, beribadah, bersosialisasi, bersilaturahmi dalam kondisi ada virus Corona.”

Menurutnya, langkah-langkah preventif tersebut juga dipraktekkan tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

“Jadi kita harus ubah perilaku kita, mau tidak mau,” ujar Prof. Pratiwi.

 

(hels)

Baca Selengkapnya

BERITA

Ganjar Minta Mahasiswa Bantu Edukasi Masyarakat Terkait Pandemi Covid-19

Oleh

Fakta News
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo

Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta para mahasiswa ikut mengedukasi masyarakat terkait pandemi COVID-19 yang masih berlangsung di dalam negeri.

“Kalau kata Bung Karno, ‘beri saya 10 pemuda, maka saya akan guncang dunia’. Saya yakin mahasiswa UNS bisa ikut mengguncang dunia. Dalam hal ini bisa ikut menyelesaikan persoalan yang muncul akibat pandemi COVID-19,” katanya pada pelepasan Mahasiswa KKN “Peduli COVID-19” tahap ketiga melalui daring di Solo, Selasa (2/6).

Ia mengatakan kaitannya dengan COVID-19, dengan adanya edukasi dari mahasiswa kepada masyarakat diharapkan masyarakat tidak perlu panik.

“Versi Google, (masyarakat) Jateng tingkat kelayabannya paling tinggi. Ini jadi pekerjaan pemerintah, kampus termasuk mahasiswa, yaitu mahasiswa KKN yang terjun ke masyarakat,” katanya.

Ia mengatakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memiliki program bernama “Jogo Tonggo” atau menjaga tetangga.

Menurut dia, semangat dari program ini adalah Pancasila dan gotong-royong.

“Kaitannya dengan program ini, harapannya mahasiswa bisa mengisi slot-slot yang kurang misalnya data kita kurang baik. Siapa tahu mahasiswa UNS yang tahu IT bisa tahu mana masyarakat yang dapat PKH (program keluarga harapan), bantuan provinsi/kota, selanjutnya bisa diklaster. Yang tidak dapat bantuan bagaimana,” katanya.

Selain itu, dikatakannya, mahasiswa KKN bisa membantu masyarakat desa untuk membenahi sistem sekaligus mendata siapa petani, ibu hamil, menyusui, berapa balita, berapa jumlah orang tua yang ada di desa tersebut.

“Ini masyarakat kelompok rentan yang kita kelompokkan, yang ikut asimilasi, yang di-PHK, dirumahkan. Selanjutnya, mahasiswa melakukan asesment, kebutuhan pangan cukup atau tidak, kekuatan sosial untuk saling bantu seberapa besar dan ada berapa orang, yang sudah masuk bantuan pemerintah berapa,” katanya.

Menurut dia, mahasiswa juga dapat menginventarisasi untuk menggerakkan ekonomi kecil dan mikro, pedagang, petani, nelayan, dan buruh kena PHK.

“Ajak mereka untuk ‘bangun bisnis baru yuk’. Misalnya dengan mengajak teman yang aktif secara IT, saya juga sudah melibatkan sejumlah ‘market place’ dan mereka mau bekerja sama. Kalau kemarin-kemarin jualnya secara konvensional, saat ini dengan pendampingan mahasiswa para pelaku UMKM ini bisa jualan lewat ‘market place’,” katanya.

Sementara itu, Rektor UNS Jamal Wiwoho mengatakan “KKN Peduli COVID-19” ini memberangkatkan sebanyak 744 mahasiswa yang 73 persennya ada di Jawa Tengah.

“Kegiatan KKN di era COVID-19 diarahkan ke beberapa sektor, di antaranya ketahanan pangan dan mahasiswa bisa ikut Satgas COVID-19. Dalam hal ini, kampus dan pemda punya misi dan kepentingan yang sama dalam menghadapi pandemi COVID-19,” katanya.

Ia mengatakan baik perguruan tinggi maupun pemerintah daerah harus secepatnya mencari solusi terbaik dari bencana ini.

“Tidak mungkin menghadapi corona dengan cara parsial, kerja sama merupakan amunisi ampuh untuk mengajak masyarakat keluar dari kepanikan dan egoisme. Di sini masyarakat harus diberi kesadaran bahwa peluang selamat lebih besar kalau orang di sekitar kita juga selamat,” katanya.

Menurut dia, program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yaitu “Jogo Tonggo” dan program UNS bernama “Siskamling Corona” merupakan dua sisi mata uang yang memiliki kesamaan konsep, kemanusiaan, dan kepedulian sosial.

“Oleh karena itu, mari bangkit untuk mewujudkan kolaborasi antara akademisi, pemda, dan masyarakat. Mari menggerakkan potensi yang ada untuk melawan COVID-19,” katanya.

 

(hels)

Baca Selengkapnya