Connect with us

Seknas Jokowi: Inilah Demokrasi dan Contoh Kebesaran Hati

Komnas HAM, PHPU
Sekjen Seknas Jokowi Dedy Mawardi

Jakarta – Peringatan Kemerdekaan RI sudah dekat. Suasana kegembiraan kemerdekaan pun sudah terasa di penjuru Nusantara. Sudah lazim, salah satu kemeriahan itu ditandai dengan pemberian penghargaan bintang kehormatan kepada tokoh yang telah berjasa bagi bangsa oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Termasuk yang telah mengabdi di Lembaga Tingg Negara seperti MPR dan DPR. Terbilang Oesman Sapta Odang, Mahyudin, Agus Hermanto, Fadli Zon dan Fahri Hamzah oleh Presiden Jokowi dianugerahi Bintang Mahaputera Nararya.

“Itulah implementasi hakekat demokrasi yang di tunjukkan oleh Presiden Jokowi kepada Rakyat Indonesia,” tutur Sekjen Seknas Jokowi Dedy Mawardi dalam keterangan tertulisnya Rabu (12/8).

Dedy menilai bahwa kepada pengkritik keras sekalipun seperti Fadli Zon dan Fahri Hamzah tetap dihargai jasa dan pengabdiannya, jika itu dilakukan untuk kemajuan bangsa dan negara dalam berdemokrasi di Indonesia. Itulah kebesaran hati seorang pemimpin.

“Secara pribadi dan sebagai Sekretaris Jenderal Seknas Jokowi, saya tidak keberatan atau menolak atas pemberian penghargaan bintang jasa itu. Bahkan memberi apresiasi dan penghormatan atas kebijakan Presiden Jokowi tersebut,” kata Dedy.

“Kepada Fadli Zon dan Fahri Hamzah jangan berniat berhenti kritis setelah mendapat penghargaan bintang jasa,” tambah Dedy. 

 

(edn)

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Kasus Covid-19 Per 23 September: 257.388 Positif, 187.958 Sembuh, dan 9.977

Oleh

Fakta News

Jakarta – Perjalanan pandemi Covid-19 di Indonesia dinilai sejumlah pihak mulai masuk tahap yang mengkhawatirkan. Kasus baru sudah menembus angka 4.000 pasien dalam sehari, dan kemarin angka kematian mencapai 160 orang dalam sehari.

Kemudian, pemerintah kini menyatakan bahwa penularan virus corona masih terjadi di masyarakat. Ini terlihat dengan jumlah kasus baru Covid-19 yang masih tinggi, di atas 4.000 pasien.

Berdasarkan data hingga Rabu (23/9/2020) pukul 12.00 WIB, pemerintah menyatakan ada 4.465 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan jumlah total kasus Covid-19 di Indonesia ada 257.388 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020.

Adapun 4.465 kasus baru merupakan rekor tertinggi penambahan pasien Covid-19 dalam sehari di masa pandemi.

Informasi ini diungkap Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melalui data yang disampaikan kepada wartawan pada Rabu sore. Data juga bisa diakses publik melalui situs Covid19.go.id, dengan update yang tersedia setiap sore.

Meski jumlah kasus Covid-19 terus meningkat, pemerintah berupaya menumbuhkan harapan dengan memperlihatkan semakin banyaknya jumlah pasien Covid-19 yang sembuh.

Dalam sehari, ada penambahan 3.660 pasien Covid-19 yang kini sembuh dan tidak lagi terinfeksi virus corona. Mereka dinyatakan sembuh berdasarkan pemeriksaan dengan metode polymerase chain reaction yang memperlihatkan hasil negatif virus corona.

Penambahan itu menyebabkan jumlah pasien Covid-19 yang dianggap sembuh mencapai 187.958 orang.

Akan tetapi, masih ada kabar duka dengan masih adanya pasien Covid-19 yang meninggal.

Pada periode 22 – 23 September 2020, terdapat 140 pasien Covid-19 yang tutup usia. Dengan demikian, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 9.977 orang

Selain kasus positif, pemerintah juga menyatakan bahwa saat ini ada 109.541 orang yang berstatus suspek.

Adapun sebanyak 4.465 kasus baru Covid-19 diketahui setelah pemerintah melakukan pemeriksaan 38.181 spesimen dalam sehari. Jumlah ini melampaui target yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, yaitu 30.000 spesimen dalam sehari.

Pada periode itu, ada 25.498 orang yang diambil sampelnya untuk dilakukan pemeriksaan spesimen.

Total, pemerintah sudah melakukan pemeriksaan 3.032.250 spesimen terhadap 1.799.563 orang. Dengan catatan, satu orang bisa menjalani pemeriksaan spesimen lebih dari satu kali.

Kasus Covid-19 saat ini sudah tercatat di semua provinsi yang ada di Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Jika dirinci, ada 494 kabupaten/kota dari 34 provinsi yang terdampak penularan virus corona. Jumlah ini sekitar 96 persen dari seluruh wilayah di Tanah Air.

Baca Selengkapnya

BERITA

Danpuspom: 66 Oknum Prajurit TNI Jadi Tersangka Penyerangan Polsek Ciracas

Oleh

Fakta News
Danpuspom TNI Mayjen Eddy Rate Muis

Jakarta – Komandan Pusat Polisi Militer TNI Angkatan Darat (Danpuspomad) Letnan Jenderal Dodik Widjanarko mengatakan, telah memeriksa 5 orang personel TNI AD terkait penyerangan Polsek Ciracas, Jakarta Timur.

Dari 5 orang tersebut, 1 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dari TNI AD. Kini totalnya ada 58 prajurit TNI AD yang jadi tersangka.

“Jumlah tersangka oknum TNI AD saat ini sebanyak 58 orang dari 26 satuan. Sebanyak 5 orang personel dimintai keterangan. Dari 5 orang personel, 1 orang sudah dinaikkan sebagai tersangka,” kata Dodik dalam konferensi pers di Mapuspom TNI AD, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2020).

Di waktu yang sama, Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) Mayjen TNI Eddy Rate Muis menyatakan, total ada 66 orang tersangka penyerangan Polsek Ciracas dengan 125 orang yang sudah diperiksa.

“Secara umum sampai saat ini oknum prajurit yang sudah diperiksa berjumlah 125 orang dari TNI AD, AL dan AU. Kemudian telah ditetapkan sebagai tersangka sebanyak 66 orang,” ujar Eddy.

Eddy mengatakan, perincian tersangka dari oknum AD ada 58 orang, kemudian dari TNI AL 7 orang, dan TNI AU 1 orang. Saat ini, TNI masih berupaya memeriksa kemungkinan adanya tersangka lain terkait perusakan Polsek Ciracas.

“Selanjutnya Puspom TNI beserta Puspom angkatan lain melakukan lanjutan pemeriksaan dengan mendalami ataupun mengungkap tersangka lainnya yang belum terungkap seperti yang tertera dalam barang bukti yang kita miliki,” ujar Eddy.

Baca Selengkapnya

BERITA

Wapres Ma’ruf Amin Buka Konferensi Besar NU secara Virtual

Oleh

Fakta News
Wapres Ma'ruf Amin

Jakarta – Gerakan ekonomi warga Nahdlatul Ulama (NU) penting untuk dibangun karena sektor ekonomi warga saat ini belum optimal dijalankan secara organisatoris.

“Selama ini yang dilakukan NU baru sebatas pertemuan-pertemuan (ijtima’at) dan keputusan-keputusan organisatoris (qaraaraat) tentang pengembangan ekonomi,” tegas Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin saat membuka Konferensi Besar (Konbes) NU secara virtual, Rabu (23/09/2020).

Lebih lanjut, Wapres mengajak warga Nahdliyin untuk merealisasikan berbagai keputusan organisasi menjadi suatu program nyata, misalnya melalui pemberdayaan ekonomi umat.

“Namun keputusan-keputusan tersebut belum ditindaklanjuti secara program dan agenda yang lebih riil dalam bentuk gerakan ekonomi warga,” imbau Wapres.

Kalau tidak, kata Wapres, bisa dikatakan NU sampai saat ini kurang responsif terhadap perkembangan ekonomi yang menjadi ketertinggalan umat.

“Padahal potensi dan jaringan yang dimiliki NU dalam bidang ini sangatlah besar,” ucapnya.

NU Telah Tanamkan Nilai-nilai Keagamaan dan Kebangsaan Dalam Dakwah dan Perjuangan

Sebagai forum terbesar kedua setelah muktamar, Konferensi Besar (Konbes), diharapkan menjadi forum untuk merumuskan kebijakan penting organisasi agar Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah mampu menjalankan tugas-tugas besar dalam bidang kebangsaan dan keumatan. Untuk itu, Konbes merupakan ajang yang tepat untuk melakukan evaluasi terhadap jalannya organisasi.

“Salah satu bentuk evaluasi itu adalah di satu sisi kita bangga bahwa NU telah menjadi organisasi pioner yang mampu meletakkan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan menjadi satu tarikan nafas dalam dakwah dan perjuangan,” tegas Wapres.

Lebih lanjut Wapres menuturkan, bahwa pemahaman kebangsaan di tubuh NU secara hirarkis telah relatif matang mulai dari pengurus besar sampai ke tingkat pengurus ranting.

“Ini adalah intangible asset (asset non fisik) yang tak banyak dimiliki oleh organisasi-organisasi keagamaan yang lain,” tuturnya.

Tetapi di sisi lain, kata Wapres, dalam menghadapi tantangan ke depan, intangible asset yang sangat berharga itu menjadi kurang berarti mana kala kita tertinggal dalam banyak hal penting yang harus dikelola secara baik.

“Kita ingat kata mutiara yang terkenal dari Sayyidina Ali, Al haqqu bilaa nidzoomin yaghlibuhul baathilu bin nidhoom (kebenaran yang tak terorganisasi dengan baik akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi secara sistemik). Saya optimis bahwa NU mampu menjawab semua tantangan yang dihadapinya, sehingga kita dalam berorganisasi tidak menjadi bagian yang dikhawatirkan oleh kata mutiara yang diucapkan oleh Sayyidina Ali tersebut,” tegasnya.

Selanjutnya, Wapres pun memaparkan tantangan-tantangan yang dihadapi NU mulai dari penguasaan teknologi, ekonomi, hingga pendidikan.

“Salah satu tantangan ke depan yang mesti kita jawab dalam berorganisasi adalah penguasaan teknologi digital (dalam bentuk media sosial dan lain-lain) sebagai alat dakwah masa kini dan masa depan. Sistem dakwah melalui teknologi digital akan lebih efektif karena memungkinkan masyarakat untuk menyimak dakwah kapan saja (anytime), di mana saja (anywhere), dan waktunya pun lebih fleksibel, terutama untuk generasi milenial dan generasi Z,” pungkasnya.

Baca Selengkapnya