Connect with us
DPR RI

RUU IKN Lahirkan Peradaban Baru

RUU IKN Lahirkan Peradaban Baru
Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz (tengah) dalam Forum Legislasi bertajuk "Quo Vadis RUU Ibu Kota Negara", di Media Center DPR RI, Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Selasa (5/10/2021). Foto: Geraldi/Man

Jakarta – Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz mengatakan, Rancangan Undang-Undang Ibu Kota Negara (RUU IKN) yang sempat terhenti perbincangannya, diharapkan bisa melahirkan peradaban baru yang lebih ramah atas semua isu, baik isu lingkungan sampai kesejahteraan.

Saat menjadi pembicara dalam Forum Legislasi bertajuk “Quo Vadis RUU Ibu Kota Negara”, di Media Center DPR RI, Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Selasa (5/10/2021), Eem menilai, sudah benar rencana pemerintah pusat memindahkan IKN ke Kalimantan Timur, mengingat beban Jakarta yang sudah tidak ramah lagi, baik dari sisi kependudukan, lingkungan, kemacetan, dan lainnya.

“Pusat pemerintahan disebut ibu kota yang berasal dari kata ‘ibu’. Ibu adalah rahim peradaban. Maka ibu kota negara harus menjadi rahim peradaban negara kita atau rahim peradaban Nusantara. Kalimantan Timur yang dipilih juga merupakan rahim peradaban Indonesia. Itu harus tercermin dalam ibu kota baru, tidak hanya dari sisi fisik pembangunan tetapi dari sisi kemanusiaan, sosial,  budaya, dan lingkungan,” urai politisi PKB ini.

Eem menyambut baik pemindahan IKN tersebut. Apalagi, lanjutnya, muka tanah Jakarta terus turun 12 cm setiap tahun. Ini membahayakan masa depan IKN. Beban Jakarta sudah sangat berat, karena pusat pemerintahan, bisnis, dan perdagangan menyatu di Jakarta. “Ide pemerintahan hari ini untuk memindahkan ibu kota sangat relevan, walau mungkin ini tidak bisa selesai dalam setahun atau dua tahun. Surat presiden hari ini sudah keluar dan sudah diserahkan kepada DPR. Artinya pemindahan ibu kota sudah serius,” pandang Eem.

Anggota Komisi V DPR RI ini menyerukan, pembangunan IKN di Kaltim harus menonjolkam sisi keibuan yang punya kasih sayang tanpa batas. Jadi, pengelolaan IKN juga harus seperti itu, ramah atas semua isu. Baleg sendiri belum membahas lagi RUU IKN ini. Isu ini, ujar Eem, memang penting dibicarakan kembali. Persiapan membangun IKN baru harus tuntas dan komprehensif.

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Perkenalkan ‘Gerakan Masyarakat Tepat Waktu’, Cara Peter F Momor Beri Solusi Meningkatkan Produktivitas Bangsa

Oleh

Fakta News

Jakarta – Pegiat seni, Peter F Momor, punya suatu cara unik untuk berbagi kebahagiaannya bersama masyarakat Indonesia dalam merayakan ulang tahunnya yang ke-50 ini. Tepat di tanggal 21 Januari 2022, Peter meluncurkan suatu ide program ‘Gerakan Masyarakat Tepat Waktu’.

Melalui Gerakan ini Peter ingin mengajak seluruh masyarakat Indonesia turut berpartisipasi membangun dan memajukan bangsa melalui cara sederhana yaitu menghargai serta menepati waktu.

“Bangsa kita terkenal dengan budaya dan mental jam karet, saatnya kita membalikkan identitas negatif dan stigma yang terlanjur melekat tersebut menjadi bangsa yang punya budaya disiplin, memiliki etos kerja serta produktivitas yang tinggi,” ungkap Peter dalam keterangan, Kamis (20/1/2022).

Menurut Peter, Gerakan Masyarakat Tepat Waktu ini dapat diterapkan mulai dari hal sederhana yaitu mencantumkan kode ‘TW’ di belakang jam. Misalnya undangan acara rapat tertera dimulai pukul 19.00 TW, itu artinya acara dimulai Tepat Waktu tanpa ada toleransi keterlambatan.

Diharapkan nantinya kode TW ini akan dipakai pula pada segala bidang, misalnya jadwal keberangkatan moda transportasi, sistem telekomunikasi, dll.

“Oleh karena itu peran serta tekad masyarakat untuk mendisiplinkan diri dan jujur pada diri sendiri yang didukung oleh kebijakan-kebijakan Pemerintah akan mendorong gerakan masyarakat ini menjadi suatu Gerakan Nasional Tepat Waktu. Sehingga nantinya menjadi suatu warisan berharga bagi kemajuan generasi berikutnya bangsa kita,” demikian harapan pria asal Manado ini.

“Setiap menit bahkan detik sangat berharga dan tidak bisa diulang.
Dengan menghargai waktu berarti kita menghargai Tuhan yang adalah pemberi waktu  dan kehidupan,” imbuh Peter yang juga merupakan salah seorang pendiri ASPARNAS (Asosiasi Pariwisata Nasional) serta IPPA (Indonesia Professional Photographer Association).

Baca Selengkapnya

BERITA

Kabar Baik dari Presiden Jokowi Mengenai Pandemi Covid-19

Oleh

Fakta News

Jakarta – Kabar baik mengenai pandemi Covid-19 datang dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia optimis pandemi Covid-19 di Indonesia akan terkendali pada tahun 2022 ini. Jokowi mengatakan optimisme itu dilihat dari berbagai indikator perekonomian yang terus menunjukkan perbaikan.
Meski begitu, Jokowi tetap meminta semua pihak untuk berhati-hati, khususnya terhadap penularan varian Omicron yang tengah meningkat saat ini.

“Tahun 2022 akan menjadi momentum dan penanganan pandemi juga semakin terkendali, meskipun hati-hati masih ada varian Omicron yang harus diwaspadai,” kata Jokowi dalam ‘Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2022’ yang disiarkan di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (20/1/2022).

Alasan lain yang membuat Jokowi optimis pandemi Covid-19 ini bisa terkendali adalah karena tingkat vaksinasi corona yang terus meningkat. Kata Presiden, tercatat 301 juta vaksin telah disuntikkan per hari ini.

Jokowi mengatakan cakupan vaksinasi dosis pertama sudah mencapai 85 persen, sementara dosis kedua sudah mencapai 58 persen. Bahkan saat ini pemerintah sudah memulai pemberian dosis ketiga atau booster pada masyarakat Indonesia sejak 12 Januari 2022 lalu.

“Penanganan pandemi semakin baik harus kita pakai untuk membangkitkan optimisme, memberikan keyakinan, kepercayaan yang lebih besar kepada masyarakat dan pelaku usaha untuk segera melanjutkan aktivitas ekonomi dan aktivitas-aktivitas produktif lainnya,” katanya. []

 

Baca Selengkapnya

BERITA

Budaya Digital Membaik, Indeks Literasi Digital Indonesia Meningkat

Oleh

Fakta News
Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan

Jakarta – Budaya Digital mendapat skor tertinggi dalam pengukuran Indeks Literasi Digital Indonesia 2021. Pilar Budaya Digital (digital culture) tercatat dengan skor 3,90 dalam skala 5 atau baik. Selanjutnya pilar Etika Digital (digital etics) dengan skor 3,53 dan Kecakapan Digital (digital skill) dengan skor 3,44. Sementara itu, pilar Keamanan Digital (digital safety) mendapat skor paling rendah (3,10) atau sedikit di atas sedang.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan, pengukuran indeks literasi digital ini selain untuk mengetahu status literasi digital di Indonesia juga untuk memastikan upaya peningkatan literasi digital masyarakat makin tepat sasaran.

“Kita ingin terus mempercepat dan mengawal terus tingkat literasi digital masyarakat, mengimbangi dengan perkembangan teknologi digital yang cepat dan makin strategis bagi kehidupan masyarakat Indonesia saat ini,“ ujarnya dalam Peluncuran Indeks Literasi Digital 2021 dari Jakarta Pusat, Kamis (20/01/2022).

Keempat pilar yang menjadi pembentuk Indeks Literasi Digital yang diukur setiap tahun oleh Kementerian Kominfo. Pengukuran indeks dilakukan bersama Siber Kreasi dan Katadata Insight Center (KIC).

Panel Ahli Katadata Insight Center, Mulya Amri, mengatakan tahun ini Indeks Literasi Digital Indonesia berada pada skor 3,49 atau pada tahap sedang dan mendekati baik.

“Penggunaan empat pilar dalam pengukuran kali ini mengacu pada Roadmap Literasi Digital Indonesia 2020-2024 yang disusun Kominfo, berdasarkan riset nasional sebelumnya serta mengacu pengukuran serupa yang dimikili UNESCO,” jelasnya

Mulya Amri menjelaskan bila dibanding tahun sebelumnya, pada kerangka indeks tahun 2021 terdapat perubahan dalam pengelompokan unsur pembentuk yang menyusun indeks. “Ini adalah upaya untuk terus memastikan Indonesia memiliki alat ukur yang ajeg dan kini kita sudah punya roadmap atau peta jalan yang bisa dijadikan acuan baik dalam pengkuran maupun upaya peningkatan literasi,” kata Mulya.

Analisis Perilaku

Pengukuran Indeks Literasi Digital 2021 dilakukan melalui survei tatap muka kepada 10.000 responden dari 514 kabupaten dan kota di Indonesia. Karakteristik responden adalah pengguna internet berusia 13-70 tahun.

Dibandingkan dengan Indeks Literasi Digital 2020, ada peningkatan indeks (dari 3,46 ke 3,49). Perbaikan terjadi pada pilar Digital Culture dan Digital Skills, tapi ada penurunan pada Pilar Digital Ethics dan Digital Safety.

Mulya Amri menyebutkan pilar Keamanan Digital (digital safety) yang mendapat skor paling rendah perlu mendapat perhatian. Responden masih banyak yang belum mampu melindungi dirinya di dunia maya.

“Kami menemukan misalnya, masih banyak yang tidak menyadari bahaya dari mengunggah data pribadi,” ujar Mulya.

Selain mengukur indeks literasi, survei yang dilakukan Kominfo bersama Katadata Insight Center juga mengalisis perilaku pengguna internet di Indonesia.

“Lewat survei ini, kami juga menemukan juga jika masyarakat saat ini mengalami peningkatan skill dalam mengklarifikasi berita bohong. Ini ditunjukkan dengan makin banyak yang rajin mencari melalui mesin pencari di dunia maya untuk mendapatkan kebenaran sebuah informasi,” ujar Mulya. “

Analisis terhadap hasil indeks menemukan juga perlu ada upaya peningkatan literasi terhadap kelompok perempuan, kelompok berpendapatan rendah, yang berpendidikan rendah serta yang telah berumur,” Semuel turut menjelaskan.

Survei Status Literasi Digital Indonesia 2021 dilakukan terhadap 10.000 responden pada dengan teknik pengambilan sampel multistage random sampling. Survei yang dilakukan pada Oktober 2021 ini, dilakukan secara tatap muka dengan menggunakan kuesioner. Hasil dapat diakses di tautan http://survei.literasidigital.id/

Seluruh informasi mengenai kegiatan literasi digital dapat diikuti melalui literasidigital.id, sedang hasil survei indeks literasi digital dapat dibaca dan diunduh melalui status.literasidigital.id.

Baca Selengkapnya