Connect with us

Rhenald Kasali Ungkapkan Keberanian Presiden Jokowi yang Tak Ada di Presiden Lainnya

keberanian presiden jokowi

Jakarta – Rhenald Kasali membeberkan keberanian Presiden Jokowi dalam mengambil alih sebagian besar saham PT Freeport Indonesia. Pasalnya, presiden di pemerintahan sebelumnya tidak berani melakukan hal serupa.

Rhenald yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia mengungkapkan, banyak pihak dengan mudah menyebut bahwa Freeport memang sepantasnya beralih ke tangan Indonesia. Pasalnya, kontrak Freeport akan habis 2021.

Meski begitu, Rhenald menambahkan, tidak ada presiden di pemerintahan sebelumnya yang berani dan berniat mengambil alih Freeport. “Ide itu murah karena tak berisiko apa-apa. namun, implementasi itu mahal karena yang menjalankan akan babak belur,” ujar Rhenald.

Bagi pihak yang berada di luar pemerintahan atau pengambil kebijakan, mereka kan melihat pengambilalihan Freeport ini merupakan hal mudah. Namun, imbuh Rhenald, bagi yang berada di lingkaran pengambil kebijakan, risiko mengambil alih Freeport ini cukup besar, baik tekanan dari dalam maupun dari luar.

Rhenald mencontohkan, ketika Presiden Jokowi ingin mengambil alih Freeport, pemerintahannya terus dirongrong. “Amerika marah besar bahkan sempat kirim pasukan yang merapat di Australia. Namanya juga negara adikuasa. Pakai psywar adalah hal biasa dalam mengawal kepentingannya,” kata Rhenald.

Ditambah lagi gejolak di Papua beberapa waktu lalu yang menembaki warga sipil di sekitar tambang Freeport. Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi setelah negosiasi pindah tangan telah disepakati.

“Jangan heran pemimpin-pemimpin yang dulu selalu memundurkan action karena kurang berani atau mereka kurang pandai bertempur, kurang gigih,” kata Rhenald.

Baca Juga:

  • Halaman :
  • 1
  • 2
Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

PKB Siap Berperan Sukseskan Program Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf

Oleh

Fakta News
Muktamar V PKB

Jakarta – Muktamar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tahun 2019 tuntas dengan terpilihnya kembali Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai Ketua Umum. PKB mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait penyelenggaraan muktamar ini.

Muktamar PKB digelar di Nusa Dua, Badung, Bali, pada 20-21 Agustus 2019. Jokowi menjadi pihak yang membuka Muktamar PKB sebelum acara itu ditutup wapres terpilih KH Ma’ruf Amin.

“Kami sangat berterima kasih dan merasa terhormat karena Pak Presiden bersedia membuka muktamar. Pak Jokowi sudah menyenangkan hati umat PKB dan NU, apalagi saat pembukaan mengenakan baju warna hijau,” ujar Wasekjen PKB demisioner Ahmad Iman dalam keterangan tertulis, Kamis (22/8/2019).

Ahmad Iman mengatakan kehadiran Jokowi menjadi pelecut semangat semua kader PKB untuk terus bekerja. PKB juga disebutnya menjadi termotivasi untuk mengambil peran dalam menyukseskan program-program pemerintah.

“Semua kader PKB tentu akan semakin solid dan semakin bersemangat untuk ikut serta dalam menyukseskan agenda-agenda pemerintahan Jokowi-Kiai Ma’ruf. Kehadiran Pak Jokowi sangat berarti dan menyenangkan bagi kami,” sebut Ahmad Iman.

Baca Selengkapnya

BERITA

Festival Pamalayu Ajang Generasi Muda Kenal Sejarah Masa Lampau

Oleh

Fakta News
Peluncuran Festival Pamalayu

Jakarta – Singasari merupakan kekuatan besar di Jawa, sebelum Majapahit lahir. Kekuasaanya bahkan sampai Kamboja. Festival Pamalayu, merupakan cara mengenang bagian dari epos Singasari sebagai kerajaan besar, yang membuka hubungan Jawa dan Sumatera pada abad ke-13.

Rangkaian Festival Pamalayu akan diadakan dalam kurun pada 22 Agustus 2019-7 Januari 2020. Festival Pamalayu di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat memiliki ragam acara, di antaranya lomba fotografi, menulis, lokakarya warisan kebudayaan, dan pesta rakyat.

“Festival Pamalayu ini menjadi pintu menjemput nilai-nilai tua di masa lalu,” kata Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan, saat peluncuran Festival Pamalayu di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Kamis, 22 Agustus 2019. Ia menambahkan bahwa pemilihan waktu akhir festival tersebut, 7 Januari 2020 bertepatan dengan ulang tahun Kabupaten Dharmasraya yang ke-16.

Sutan menjelaskan bahwa Festival Pamalayu akan menjadi ajang untuk anak-anak muda mengenal lebih dekat sejarah masa lampau. “Melalui Festival Pamalayu kami semai benih baru. Benih yang lama disimpan dari peradaban nenek moyang, kemudian ditawarkan untuk masa mendatang,” tuturnya.

Menurut dia pengetahuan kebudayaan dan sejarah yang akan dibagikan dalam Festival Pamalayu, merupakan keutamaan untuk para anak-anak muda. Ia pun mengumpamakan hubungan masyarakat dalam kehidupan pada masa lampu.

“Bayangkan pada zaman dahulu, tidak ada pesawat, mobil, kereta, tapi persahabatan antar pulau luar biasa melalui sungai, laut,” ujarnya. “Dan itu berjalan dari pulau ke pulau membuat suatu persahabatan, kekuatan, kesatuan.”

Adapun Pamalayu merupakan sebuah ekspedisi pada abad ke-13, atau 22 Agustus 1286. Ekspedisi itu dilakukan oleh Kerajaan Singasari untuk menjalin persahabatan dengan Malayu-Dharmasraya di bawah pemerintahan Raja Kertanegara. Ekspedisi tersebut sebagai bentuk bala bantuan untuk mencegah invasi Kekaisaran Mongol yang dipimpin Kubilai Khan.

 

Yuch

Baca Selengkapnya

BERITA

Bertemu Tokoh Masyarakat Manokwari, Wiranto Pesan Jaga Keutuhan NKRI

Oleh

Fakta News
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto

Manokwari – Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan bahwa persoalan apa pun yang terjadi hingga berdampak pada terganggunya keamanan masyarakat di Papua dan Papua Barat tidak dapat mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena NKRI tetap harga mati dari Sabang sampai Merauke. Hal ini dikatakan Wiranto saat melalukan tatapmuka bersama tokoh masyarakat Manokwari, Papua Barat, Kamis, 22 Agustus 2019.

Dia mengatakan bahwa dalam kunjungannya bersama Panglima Tentara Nasional Indonesia Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian hanya ingin menyampaikan pesan damai atas perintah Presiden Joko Widodo kepada warga asli Papua Barat. Terkait masalah yang terjadi di Surabaya dan Malang, kata Wiranto, bukan perbuatan pemerintah, melainkan ulah oknum yang memprovokasi kondisi.

“Apapun yang terjadi, NKRI harga mati, dari Sabang sampai Merauke. Saya kira Gubernur Jatim sudah sampaikan bahwa kejadian di Malang dan Surabaya bukan perbuatan pemerintah, tapi perbuatan oknum-oknum yang memang hobinya seperti itu,” ujar Wiranto.

Wiranto menuturkan kedatangannya bersama pimpinan tentara dan polisi bukan untuk memata-matai atau mengawasi kejadian, melainkan hanya ingin ‘menyalami’ warga Papua Barat karena telah terjadi insiden yang sangat disesalkan.

“Kejadian yang ada kami pun sangat sesalkan, tapi sudah terjadi. Semua bukan karena disengaja, tapi adanya oknum-oknum yang tidak bisa menahan diri, sehingga terjadi seperti demikian,” katanya.

Baca Selengkapnya