Connect with us
Parlemen

Komisi IX Gelar RDPU dengan Asosiasi Pelaksana Kesehatan

Komisi IX Gelar RDPU dengan Asosiasi Pelaksana Kesehatan
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Sri Rahayu. Foto: DPR RI

Jakarta – Komisi IX DPR RI terus berusaha mengurai berbagai permasalahan di bidang kesehatan yang saat ini sangat kompleks dirasakan masyarakat. Untuk itu, di awal periode ini, Komisi IX DPR RI dengan cepat merespon  keresahan masyarakat dengan langsung menggelar rapat kerja dan rapat dengar pendapat dengan mitra yang bersinggungan langsung dengan permasalahan kesehatan di Indonesia. Tentunya tetap mendengarkan masukan dari semua pihak dalam mengoreksi kebijakan.

Setelah Menggelar Rapat Kerja (Raker) dengan Menteri Kesehatan, Dirut BPJS Kesehatan, DJSN serta Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, siang ini di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (7/11/2019), Komisi IX DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Asosiasi Pelaksana Kesehatan diantaranya Pengurus Asosiasi Rumah Sakit Swasta Seluruh Indonesia (ARSSI), Pengurus Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA), Pengurus Asosiasi Klinik Indonesia (ASKLIN) dan Pengurus Asosiasi Dinas Kesehatan (ADINKES).

Di sela-sela rapat, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Sri Rahayu menjelaskan, RDPU dengan asosiasi pelaksana kesehatan ini agar mendapatkan masukan terkait permasalahan pelayanan kesehatan dalam program jaminan kesehatan nasional (JKN).

“Banyak keluhan dari masyarakat yang menyatakan bahwa nafas pelayanan kesehatan tidak sesuai dengan UUD NRI 1945 yang menyatakan bahwa ‘hak sehat adalah milik semua Rakyat Indonesia’. Namun, kenyataanya banyak rakyat yang tidak dilayani, kita mau mendengar ini, apa alasannya, bagaimana Rumah Sakit serta Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) bermitra dengan BPJS Kesehatan,” ungkapnya.

Menurut legislator Fraksi PDI Perjuangan itu untuk memperbaiki pelayanan kesehatan, diperlukan aspirasi dari pelaksana. “Kita tidak bisa gegabah memutuskan, kita mau dengar semua pihak dulu mulai dari keluhan masyarakat, data, kemampuan pemerintah, dan yang lainnya,” ungkapnya.

Ditempat yang sama, beberapa asosiasi dari rumah sakit menyampaikan keluhan terkait rendahnya tariff Indonesia Case Base Groups (INA CBG’s) dan perlu ditinjau kembali. Kemudian, pembayaran dari BPJS Kesehatan yang diharapkan tepat waktu sehingga pihak rumah sakit bisa berkonsentrasi pada pelayanan dan tidak terganggu oleh cash flow. (rnm/es)

Baca Selengkapnya
Tulis Komentar

BERITA

Komisi V Tegaskan Pentingnya Ketersediaan Sumber Daya Air

Oleh

Fakta News
Komisi V Tegaskan Pentingnya Ketersediaan Sumber Daya Air
Anggota Komisi V DPR Laksmi Indaryani. Foto: DPR RI

Jakarta – Sumber daya air dan konektivitas berupa jalan dan jembatan, menjadi salah satu program dalam Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Tahun Anggaran 2014-2020 yang diapresiasi Komisi V DPR RI. Meski capaian dan realisasi anggaran kedua program tersebut sudah melebihi target, namun sejumlah persoalan masih tersisa. Salah satunya, masalah ketersediaan air.

Setidaknya, hal inilah yang menjadi sorotan utama Anggota Komisi V DPR Laksmi Indaryani. Dirinya mempertanyakan mengenai target bidang sumber daya air (SDA), yang dalam salah satu program kerja Kementerian PUPR, kapasitas daya tampung air ditargetkan mencapai 60 m3/kapita/tahun dengan penyelesaian 45 bendungan lanjutan dan 15 pembangunan bendungan baru.

“Kami apresiasi capaian Kementerian PUPR sudah banyak yang over target, tetapi juga ada yang target renstranya yang air baku 67,52 m3 per kapita, namun capaiannya hanya 30 m3 per kapita, tetapi kenapa target kita selanjutnya hanya 60 m3 per kapita, kenapa diturunkan padahal target kemarin belum tercapai, sekarang kenapa malah dikurangi,” ungkap Laksmi dalam Rapat Kerja Komisi V DPR RI bersama Kementerian PUPR di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Ketersediaan akses air bersih menjadi penting, lanjut politisi Partai Demokrat itu, mengingat data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mencatatkan lebih dari 2,1 miliar manusia tidak memiliki akses terhadap air bersih. Tidak hanya itu, 500 ribu orang di dunia pun tewas setiap tahunnya akibat diare. Belum lagi, 700 penduduk dunia terancam kelangkaan air parah yang akan terjadi pada 2030 mendatang.

Sebagai legislator dapil Jawa Tengah VII, dirinya mengatakan bahwa kekeringan menjadi masalah utama pada daerah pemilihannya, yang meliputi Kabupaten Banjarnegara, Kebumen, dan Purbalingga. Dengan tegas dirinya menegaskan mengenai pentingnya kemajuan infrastruktur guna mendukung kemajuan perekonomian bangsa.

Baca Selengkapnya

BERITA

Pemerintah Harus Hadir Selesaikan Masalah Debitur Pascabencana Sulteng

Oleh

Fakta News
Pemerintah Harus Hadir Selesaikan Masalah Debitur Pascabencana Sulteng
Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Ecky Awal Mucharam. Foto: DPR RI

Jakarta – Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Ecky Awal Mucharam mengatakan harus ada keberpihakan negara terhadap utang para korban bencana alam di Sulawesi Tengah (Sulteng). Karena banyak para debitur yang bingung harus membayar angsuran bank maupun kredit pembiayaan di perusahaan finansial seperti kredit rumah, usaha serta kendaraan.

Pasca terjadinya bencana, banyak rumah retak ringan hingga roboh, belum lagi rumah hilang ditelan bumi terkena likuefaksi. “Masalah kredit macet ini harus ada rileksasi dan jika bangunan atau kendaran sudah tidak ada, harus dihapuskan dan dijamin oleh asuransi,” tegasnya di Palu, Sulteng, Senin (11/11/2019).

Sampai saat ini, menurut Ecky pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum membuat suatu kebijakan khusus yang berafirmasi kepada korban bencana alam. Padalah, menurutnya, banyak skema yang bisa dilakukan dalam penyelesaian masalah utang tersebut. Pihaknya akan membahas bersama pemerintah pusat ini memberikan afirmasi kepada para korban.

“OJK menyerahkan kepada Bank masing masing, tidak ada kebijakan khusus. Padahal negara harusnya hadir di situ, seperti di Aceh dan Yogyakarta. Skemanya banyak, melalui CSR (Corporate Social Responsibility). Masalahnya ini rumah sudah rata dengan tanah, masa masih ditangung terus,” tandasnya. (rnm/es)

Baca Selengkapnya

BERITA

Permendag Impor Semen Sebaiknya Dicabut

Oleh

Fakta News
Permendag Impor Semen Sebaiknya Dicabut
Anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade. Foto: DPR RI

Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade mendorong keras agar Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Semen Clinker dan Semen untuk segera dicabut. Sebab menurutnya semenjak peraturan ini diresmikan hanya menimbulkan masalah-masalah baru yang merugikan perusahaan semen asal Indonesia.

Hal ini ia sampaikan kepada Parlementaria usai Komisi VI DPR RI menerima kunjungan audiensi Konfederasi Serikat Pekerja Industri (KSPI) Semen Indonesia di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Selasa (12/11/2019). Andre  menilai permasalahan ini pada akhirnya mengancam keberlangsungan hidup para pegawai perusahaan semen nasional karena penjualan perusahaannya terus kalah dengan penjualan semen murah asing.

“Saat ini kondisi produksi semen kita oversupply ya. Kapasitas produksi kita adalah 110 juta ton per tahun, tapi konsumsi kita hanya sekitar 75 juta ton per tahun. Jadi kita oversupply sekitar 35 juta ton per tahun. Ini alasan Serikat Pekerja atau KSPI Semen Indonesia ini datang untuk mengeluhkan beberapa hal,” tutur Politisi Partai Gerindra tersebut.

Selain itu Andre juga menyatakan bahwa Menteri Perindustrian harus membuat moratorium mengenai penerbitan izin baru terhadap industri semen Indonesia. Sebab fenomena overcapacity production dan oversupply terhadap semen Indonesia ini seharusnya segera ditangani karena menyangkut kepentingan kedaulatan Indonesia di bidang perdagangan.

“Tuntutan ini akan kita kawal kepada Menteri Perdagangan dan Perindustrian, untuk apa Permendag ini dipertahankan padahal kita mengalami over kapasitas produksi loh. Izin impor ini penting untuk siapa? Kepentingan bangsa dan negara, kepentingan industri nasional, atau malah kepentingan asing? Kalau memang sudah jelas oversupply dan overcapacity ya harus dicabut itu,” tegas politisi dapil Sumbar I itu. (er/sf)

Baca Selengkapnya